Kuba Bantah Tuduhan AS soal Tampung Militer dan Intelijen Asing

- Kuba menolak tuduhan AS soal keberadaan militer dan intelijen asing di negaranya.
- Kuba bersedia bekerja sama dengan AS untuk melawan terorisme dan mendukung keamanan internasional.
- Presiden AS, Donald Trump, akan bernegosiasi dengan pemimpin Kuba untuk mencapai persetujuan.
Jakarta, IDN Times - Kuba membantah tuduhan dari Amerika Serikat (AS) terkait adanya personel militer dan intelijen asing di negaranya. Havana menolak tuduhan tersebut dijadikan alasan untuk memblokade negaranya.
“Kuba bukanlah ancaman bagi AS. Kuba juga tidak pernah mendukung aktivitas buruk kepada AS ataupun membiayai kelompok teroris dan ekstremis,” terangnya, dikutip dari EFE, Senin (2/2/2026).
Sebelumnya, Kuba mengecam AS terkait penetapan tarif bea masuk kepada negara yang mengekspor ke negaranya. Langkah ini disebut sebagai dukungan genosida kepada rakyat Kuba.
1. Kuba mau bekerja sama dengan AS untuk lawan terorisme

Kuba mengungkapkan bahwa negaranya menolak segala bentuk terorisme. Havana mengaku akan terus berkomitmen untuk bekerja sama dengan AS atau negara lain untuk melawan terorisme dan mendukung keamanan internasional.
“Negara kami mempertahankan kebijakan toleransi nol kepada pendanaan terorisme dan pencucian uang. Kami juga berkomitmen dalam mencegah, mendeteksi, dan melawan aktivitas ilegal sesuai standar internasional,” tuturnya, dikutip dari Granma.
Kuba menyerukan bahwa negaranya bersedia mempererat hubungan dengan AS dalam melawan ancaman transnasional. Namun, dengan syarat tetap mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaannya.
2. Hubungan dengan individu pelaku terorisme hanya sebatas urusan kemanusiaan

Kuba menyebut, hubungan terakhir negaranya dengan orang yang masuk daftar teroris di AS hanya sebatas kemanusiaan. Relasi ini terkait permintaan untuk mendukung proses perdamaian.
Havana menyatakan bahwa rakyat Kuba dan Amerika akan diuntungkan dari kerja sama konstruktif. Selain itu, Kuba bersedia memperbarui kerja sama teknis dengan AS untuk melawan terorisme, seperti penyelundupan narkoba, manusia, keamanan siber, dan lainnya.
3. Trump pastikan akan bernegosiasi dengan pemimpin Kuba

Presiden AS, Donald Trump mengatakan akan bernegosiasi dengan pemimpin Kuba untuk mencapai persetujuan. Pernyataan ini diungkapkan setelah penetapan tarif kepada negara yang mengirimkan minyak ke Kuba.
“Kuba adalah negara yang mengalami penurunan sejak lama. Namun, sekarang mereka tidak memiliki Venezuela untuk tetap bertahan. Maka, kami akan berbicara dengan rakyat Kuba dan pemimpinnya dan kita lihat apa yang akan terjadi,” tuturnya.


















