Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kuwait Tangkap 24 Orang Diduga Danai Kelompok Teroris

Kuwait Tangkap 24 Orang Diduga Danai Kelompok Teroris
ilustrasi operasi penangkapan (pexels.com/Kindel Media)
Intinya Sih
  • Pemerintah Kuwait menangkap 24 orang, termasuk lima anggota parlemen, karena diduga mendanai kelompok teroris yang mengancam keamanan nasional.
  • Para tersangka mengumpulkan dana dengan kedok kegiatan keagamaan sebelum menyalurkannya ke organisasi teroris sesuai instruksi dari luar negeri.
  • Media menyebut kelompok yang didanai terkait Iran dan Hizbullah, namun klaim itu belum terbukti dan dibantah langsung oleh pihak Hizbullah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Kuwait dilaporkan telah menangkap 24 orang yang diduga mendanai kelompok teroris. Penangkapan tersebut dikabarkan langsung oleh Kementerian Dalam Negeri Kuwait pada Sabtu (11/4/2026) malam waktu setempat. Kementerian Dalam Negeri Kuwait mengatakan, aksi yang dilakukan para pelaku telah mengancam keamanan nasional. 

“Badan Keamanan Negara berhasil menangkap 24 warga negara, salah satunya telah dicabut kewarganegaraannya, yang memiliki sejumlah uang terkait dengan kegiatan ilegal,” bunyi pernyataan resmi Kementerian Dalam Negeri Kuwait, seperti dikutip Jerusalem Post pada Minggu (12/4/2026).  

1. Kuwait sudah mengincar para tersangka sejak lama

Pencarian orang.
ilustrasi pencarian orang (pexels.com/cottonbro studio)

Dalam pernyataannya, Kementerian Dalam Negeri Kuwait menambahkan, 24 orang yang ditangkap sebetulnya sudah diincar sejak lama. Sebab, mereka termasuk dalam target operasi kontra terorisme nasional. Mereka juga sudah masuk dalam daftar pencarian orang sejak lama. 

Menariknya, dari 24 orang yang ditangkap, 5 orang di antaranya merupakan seorang anggota parlemen Kuwait. Mereka diduga terlibat dalam aksi pendanaan organisasi teroris yang berasal dari luar negeri. Namun, tidak diketahui secara pasti organisasi teroris dari negara mana yang mereka danai.

2. Para pelaku mengumpulkan dana dengan dalih kegiatan agama

Orang-orang sedang menadahkan tangan untuk berdoa.
ilustrasi kegiatan agama (pexels.com/Cecilia Blest)

Agar aksinya tidak terendus pihak berwenang, para pelaku punya trik tersendiri untuk mendanai organisasi teroris tersebut. Jadi, mereka berupaya menggalang dana dari masyarakat dengan dalih untuk menggelar kegiatan keagamaan. Setelah itu, dana yang berhasil terkumpul akan langsung disalurkan ke kelompok teroris yang dituju.   

“Pendanaan tersebut merupakan bagian dari aktivitas terorganisir yang melibatkan pengumpulan dana dengan dalih keagamaan sebagai persiapan untuk transfer dana tersebut sesuai dengan instruksi dari luar negeri,” lanjut Kementerian Dalam Negeri Kuwait dalam pernyataannya. 

3. Organisasi teroris yang didanai diduga terkait dengan Iran dan Hizbullah

Bendera Iran sedang berkibar.
potret bendera Iran (unsplash.com/mostafa meraji)

Sejumlah media menyebut organisasi teroris yang didanai 24 orang tadi punya hubungan dengan Iran dan milisi asal Lebanon, Hizbullah. Namun, klaim tersebut belum bisa dipastikan. Sebab, tidak ada bukti kuat yang mendukung klaim tersebut. 

Kendati begitu, klaim tadi sebetulnya bukan tidak berdasar. Pada Maret 2026 lalu, Kuwait menangkap sekitar enam orang yang diduga teroris. Mereka dikabarkan punya hubungan dengan Iran dan milisi Hizbullah. Mereka ditangkap karena ketahuan akan melakukan aksi pembunuhan di Kuwait.

Tuduhan yang beredar di media tadi lantas menuai respons dari Hizbullah. Mereka menegaskan sama sekali tidak punya hubungan dengan para pelaku yang telah ditangkap. Mereka juga menegaskan tidak pernah melakukan aksi teror di Kuwait. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Latest in News

See More