Meksiko Lanjutkan Pemindahan Anggota Kartel ke AS, Total Ada 92 Orang

- Pemerintah Meksiko mengirim tokoh senior berbagai kartel
- Pakar menilai transfer kartel bersifat sementara
- Tekanan Trump mempertautkan isu keamanan dan perdagangan
Jakarta, IDN Times – Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum pada Rabu (21/1/2026) menegaskan bahwa pengiriman 37 anggota kartel ke Amerika Serikat (AS) merupakan keputusan berdaulat pemerintahannya. Langkah itu diambil saat tekanan dari pemerintahan Presiden AS Donald Trump terus menguat agar Meksiko bersikap lebih keras terhadap jaringan perdagangan narkoba.
Pengiriman terbaru ini menjadi yang ketiga sejak Trump kembali ke Gedung Putih sehingga total orang yang telah dipindahkan mencapai 92 orang.
Dalam penjelasan terpisah, Menteri Keamanan Meksiko Omar García Harfuch menyampaikan melalui X bahwa para tahanan tersebut tergolong pelaku berimbas tinggi yang dianggap mengancam keamanan nasional. Pada saat yang sama, otoritas setempat merilis rekaman video yang menampilkan para tahanan diborgol dan dikawal ketat petugas bersenjata serta bertopeng sebelum diberangkatkan dengan pesawat militer dari sekitar Kota Meksiko.
1. Pemerintah Meksiko mengirim tokoh senior berbagai kartel

Kelompok yang dipindahkan kali ini mencakup sejumlah figur senior dari Kartel Jalisco Generasi Baru, Kartel del Noreste yang merupakan pecahan Zetas di Tamaulipas, Kartel Sinaloa, serta kartel Beltrán-Leyva. Salah satu nama yang ikut dikirim adalah Pedro Inzunza Noriega, yang pada Mei 2025 menjadi orang pertama didakwa dengan tuduhan narco-terrorism oleh Departemen Kehakiman AS.
Selain itu terdapat María Del Rosario Navarro Sánchez, warga Meksiko pertama yang didakwa di AS karena diduga memberi dukungan kepada organisasi teroris melalui konspirasi kartel. Seluruh individu tersebut masih memiliki perkara hukum yang belum tuntas di AS.
Di sisi lain, pengiriman ini dilakukan di luar mekanisme ekstradisi resmi sehingga memunculkan pertanyaan mengenai dasar hukum di dalam negeri Meksiko. Sebelumnya, pada Februari, otoritas Meksiko telah mengirim 29 tokoh termasuk gembong narkoba Rafael Caro Quintero yang dijatuhi vonis atas pembunuhan agen Badan Pemberantasan Narkoba AS (DEA) pada 1985. Beberapa bulan kemudian, pada Agustus, pengiriman kembali dilakukan terhadap 26 orang lainnya.
2. Pakar menilai transfer kartel bersifat sementara

Sejumlah pakar keamanan memandang kebijakan pengiriman tersebut hanya menjadi solusi jangka pendek yang efektivitasnya kian menurun. Peneliti International Crisis Group, David Mora, menyoroti meningkatnya tekanan politik yang dihadapi pemerintah Meksiko.
“Seiring tekanan meningkat, seiring tuntutan dari Gedung Putih semakin tinggi, (pemerintah Meksiko) perlu menggunakan langkah-langkah luar biasa, seperti transfer-transfer ini,” katanya, dikutip dari The Hill.
Analis keamanan Rodrigo Peña menyebut otoritas Meksiko perlu mencari pendekatan lain karena keterlibatan politisi dalam jaringan kriminal akan semakin menjadi sorotan. Ia juga menilai tekanan terhadap presiden untuk membongkar jejaring tersebut akan terus menguat. Peña menambahkan bahwa pendekatan pemerintahan Trump yang agresif, sepihak, seperti perang lebih menekankan tekanan langsung ketimbang pembangunan intelijen jangka panjang. Sebanyak 92 orang yang telah dipindahkan diyakini dapat menjadi sumber informasi penting bagi jaksa di AS.
3. Tekanan Trump mempertautkan isu keamanan dan perdagangan

Trump kerap menyatakan bahwa Meksiko dikuasai kartel dan beberapa kali mengancam akan mengambil langkah sepihak. Nada pernyataannya makin mengeras setelah militer AS mengekstraksi Nicolás Maduro dari Venezuela pada awal tahun ini serta terus melancarkan serangan terhadap kapal yang dicurigai membawa narkoba di Samudra Pasifik dan Laut Karibia. Dalam wawancara terbaru dengan Fox News, Trump mengklaim pihaknya telah menghancurkan 97 persen narkoba yang masuk melalui jalur laut dan akan mulai mengalihkan fokus ke darat terkait kartel.
Seiring itu, pemerintah AS disebut semakin aktif mendorong operasi militer bersama di wilayah Meksiko untuk menghancurkan laboratorium fentanyl. Usulan tersebut ditolak tegas oleh Sheinbaum dengan alasan kedaulatan negara. Dalam komunikasi telepon pekan lalu, ia menyampaikan kepada Trump bahwa intervensi militer AS tak diperlukan sambil menegaskan komitmen untuk tetap bekerja sama.
Para analis mengingatkan bahwa tindakan militer sepihak di Meksiko akan menimbulkan konsekuensi politik dan ekonomi yang jauh lebih besar dibandingkan Venezuela. Nilai perdagangan bilateral tahunan kedua negara mendekati 1 triliun dolar AS (setara sekitar Rp16.900 triliun). Pada saat yang sama, proses renegosiasi perjanjian perdagangan bebas AS-Meksiko-Kanada yang sedang berjalan semakin mengaitkan isu keamanan dengan kepentingan dagang.
Peringatan serupa disampaikan Diego Marroquín Bitar dari Center for Strategic and International Studies yang menilai agenda keamanan kini tak lagi terpisah dari pembahasan perdagangan dan berpotensi mencemari bahkan menggagalkan negosiasi.
Di sisi lain, Meksiko telah menunjukkan kerja sama dalam pengamanan perbatasan dengan menekan arus migran dan menerima deportasi guna menghindari tarif. Namun, sejumlah analis menilai langkah tersebut masih belum cukup bagi pemerintahan Trump saat ini.
“Saya pikir yang mereka inginkan adalah pemerintah Meksiko menindak para politisi: orang-orang berkuasa yang terkait dengan organisasi [perdagangan narkoba] ini. Dan pertanyaannya adalah: ‘Apakah Sheinbaum bersedia menindak mereka?’ Karena beberapa dari orang-orang ini berasal dari partainya sendiri,” kata Marroquín, dikutip dari The Guardian.
Bagi pemerintahan Trump dan para pendukungnya, capaian yang terlihat jelas tetap menjadi faktor utama. Seperti disampaikan Mora, bagi Trump dan basis pendukungnya, yang pada akhirnya dianggap penting adalah sejumlah kemenangan nyata yang bisa ditunjukkan sebagai hasil tekanan terhadap Meksiko.


















