Hasil Korupsi Emas 74 Kg dan Uang Rp543,2 M Bisa buat Apa untuk Rakyat?

- Polisi menyita emas 74 kilogram dan uang tunai total Rp543,2 miliar dari penggeledahan di 12 lokasi terkait kasus korupsi yang menjerat mantan Jampidsus Febrie Adriansyah dan Don Ritto.
- Nilai sitaan tersebut setara untuk membangun sekitar 116 sekolah baru, 54 jembatan gantung, atau memperbaiki sekitar 271 puskesmas di berbagai daerah Indonesia.
- Jika dialokasikan untuk pendidikan, dana itu bisa membiayai hidup sekitar 30 ribu mahasiswa penerima KIP Kuliah selama satu tahun penuh.
Jakarta, IDN Times - Polisi menyita barang bukti berupa emas seberat 74 kilogram dan uang tunai sekitar Rp543,2 miliar dalam rangkaian penggeledahan di 12 titik terkait kasus korupsi, suap, gratifikasi, dan atau TPPU terkait kasus pengadaan batu bara, ASABRI, hingga anak perusahaan Krakatau Steel yang menyeret mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah.
Barang bukti tersebut ditemukan di Kafe de'Clan, Koin Money Changer di Cipete, Jakarta Selatan, hingga sebuah rumah di kawasan Parahyangan Golf 2, Sentul, Bogor, Jawa Barat.
Jika hasil sitaan 74 kilogram emas dan uang Rp543,2 miliar itu digunakan untuk pengadaan atau membangun fasilitas yang dibutuhkan masyarakat Indonesia, kira-kira emas dan uang itu bisa berwujud apa saja ya? Yuk simak hasil utak atik IDN Times berikut ini.
1. Uang korupsi Rp543,2 miliar bisa dipakai membangun 116 sekolah baru

Dilansir dari laman jabar.prov.go.id, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat pada awal 2026 mengalokasikan anggaran Rp112,5 miliar untuk membangun 24 unit sekolah baru (USB). Rinciannya terdiri atas 17 SMA negeri, 4 SMK negeri, dan 3 SLB negeri. Dengan rata-rata kebutuhan anggaran sekitar Rp4,7 miliar per sekolah.
Nah, bila uang Rp543,2 miliar tersebut digunakan untuk membangun sekolah, jika mengacu pada rata-rata anggaran per sekolah Rp4,7 miliar, maka dari uang sitaan tersebut bisa membangun 116 sekolah baru.
2. Emas sitaan 74 kg bisa digunakan untuk membuat 1 Monas dan 1 sekolah

Berdasarkan unggahan Instagram pengelola Monumen Nasional (Monas), @monumen.nasional, total berat emas yang ada di Monas sebesar 74 kilogram. Dengan total emas di Lidah Api Kemerdekaan yang terletak di puncak Monas sebesar 50 kg dan 22 kg emas berada di Ruang Kemerdekaan yang melekat pada pintu gapura kemerdekaan, burung Garuda Pancasila dan kepulauan Indonesia.
Bila melihat emas yang disita polisi dari kasus Febrie Adriansyah seberat 74 kg, maka jumlah itu sudah bisa untuk membangun satu Monas lagi. Bahkan masih ada sisa 2 kilogram emas.
Jika emas 2 kilogram itu diuangkan, dengan mengacu pada harga emas Antam per 14 Juli 2026, total nilainya sekitar Rp5,11 miliar. Jumlah ini cukup untuk membangun sekitar satu unit sekolah baru.
Dengan demikian, emas 74 kilogram itu sudah bisa dipakai untuk membangun Monas dan 1 sekolah baru.
3. Uang Rp543,2 miliar bisa dipakai untuk membangun 3.272 rumah subsidi

Namun, bila uang hasil korupsi Rp543,2 miliar itu dipakai untuk membangun rumah, maka bisa terbangun sekitar 3.272 unit rumah subsidi.
Jumlah tersebut berdasarkan hitung-hitungan harga rumah subsidi terakhir yang mengalami penyesuaian pada 2023, yakni Rp166 juta per unit.
4. Bisa membantu biaya hidup 30 ribu mahassiwa melalui KIP

Program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah memberikan bantuan biaya hidup kepada mahasiswa penerima yang besarannya disesuaikan dengan indeks biaya hidup daerah masing-masing. Sementara Uang Kuliah Tunggal (UKT) akan disesuaikan dengan setiap kampus dan program studi.
Besaran bantuan biaya hidup tersebut berkisar antara Rp800 ribu hingga Rp1,5 juta per bulan. Dengan menggunakan nominal tertinggi, yakni Rp1,5 juta per bulan, uang hasil korupsi Rp543,2 miliar setara dengan bantuan biaya hidup bagi sekitar 30.177 mahasiswa selama satu tahun.
5. Setara dengan membangun sekitar 54 jembatan gantung

Mengutip dari laman sahabat.pu.go.id, pada tahun 2026, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menganggarkan sekitar 630 miliar untuk membangun 63 jembatan gantung yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Jika mengacu pada perhitungan tersebut, total nilai sitaan 543,2 miliar, dapat membangun sekitar 54 jembatan gantung. Jumlah tersebut dapat memberikan akses yang lebih mudah bagi masyarakat di wilayah terpencil sekaligus meningkatkan konektivitas antardaerah.
6. Membangun 54 kilometer jalan

Jika melansir laman kbpu.kemenkeu.go.id, pembangunan jalan dengan lebar 2-3 meter biasanya menelan biaya sekitar 10-30 miliar per kilometer.
Dengan menggunakan asumsi biaya terendah yakni Rp10 miliar per kilometer, nilai barang bukti sitaan sebesar Rp543,2 miliar setara dengan pembangunan sekitar 54 kilometer jalan beraspal.
7. Setara untuk memperbaiki 271 puskesmas

Presiden Prabowo pernah mengungkap bahwa pemerintah membutuhkan sekitar Rp20 triliun untuk memperbaiki 10 ribu puskesmas di berbagai daerah. Berdasarkan perhitungannya, biaya perbaikan satu puskesmas diperkirakan mencapai Rp2 miliar.
“Saya baru keliling beberapa daerah terpencil, dapat laporan dari Menteri Kesehatan, 'Pak, kita punya 10 ribu puskesmas. Sejak zamannya Pak Harto 30 tahun, puskesmas tersebut belum pernah diperbaiki, 10 ribu'. Saya bilang 'kau butuh uang berapa untuk perbaiki 10 ribu? Kira-kira satu puskesmas Rp2 miliar, jadi kita butuh kurang lebih Rp20 triliun'," ujar Prabowo.
Dengan asumsi tersebut, uang korupsi sebesar Rp543,2 miliar bisa dipakai untuk memperbaiki sekitar 271 puskesmas di berbagai wilayah Indonesia.

















