Selain menyebabkan harga naik, sanksi ekonomi AS juga membuat jumlah pengangguran di Iran melonjak. Sebab, banyak perusahaan di Iran yang kini gulung tikar hingga terpaksa merumahkan banyak karyawannya karena tidak kuat menanggung biaya operasi. Ini terjadi karena harga-harga mengalami kenaikan.
Sanksi Ekonomi AS, Warga Iran Sulit Penuhi Kebutuhan Pokok

- Sanksi ekonomi AS membuat warga Iran kesulitan memenuhi kebutuhan pokok, memicu kenaikan harga, lonjakan pengangguran, serta penutupan perusahaan akibat biaya operasional yang membengkak.
- Harga bahan pokok di Iran dilaporkan naik 60 persen, sementara daging sapi melonjak 150 persen; keluarga mengurangi konsumsi buah dan protein demi bertahan.
- Pemerintah Iran menggelar bazar dengan harga 40–50 persen lebih murah, di tengah sanksi baru AS yang melarang kerja sama ekonomi global dengan Teheran.
Jakarta, IDN Times - Warga Iran kini semakin merasakan dampak buruk dari sanksi ekonomi yang diberikan Amerika Serikat (AS) ke negaranya. Imbas sanksi ini, mereka mengaku sulit memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. Hal ini karena sanksi dari Negeri Paman Sam membuat harga bahan-bahan pokok di Iran naik drastis.
1. Warga Iran sampai bekerja pada akhir pekan demi memenuhi kebutuhan hidup

Warga Iran sedang bekerja. (unsplash.com/omid armin) Salah satu warga Iran yang merasakan sulitnya memenuhi kebutuhan imbas sanksi AS adalah Ahmad Karimi. Karimi sendiri merupakan seorang supir taksi dan ayah dua anak berusia 52 tahun. Dalam pernyataannya, ia mengaku bekerja 15 jam sehari hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bahkan, ia juga mengaku sampai bekerja pada akhir pekan untuk menambah penghasilan.
Karimi menjelaskan, ia sengaja banting tulang melebihi jam kerja normal agar anak dan istrinya di rumah tetap bisa makan. Sebab, ia mengaku harga bahan pokok yang naik imbas sanksi AS membuat keluarganya harus benar-benar “Mengencangkan ikat pinggang”. Bahkan, ia mengaku harus menghemat pengeluaran agar tetap bisa bertahan setiap harinya.
“Kami praktis sudah menyerah pada banyak hal. Kami mengurangi konsumsi buah, mengurangi protein, mengorbankan waktu luang, dan bahkan bekerja pada akhir pekan,” kata kata Karimi, seperti dilansir Times of Israel, Sabtu (22/8/2026).
2. Harga bahan pokok di Iran jadi 60 persen lebih mahal imbas sanksi AS

ilustrasi kenaikan harga (unsplash.com/M. Dean) Saat ini, harga bahan pokok di semua toko grosir yang ada di Iran dikabarkan sudah 60 persen lebih mahal dari sebelumnya. Di sisi lain, harga daging sapi kini dikabarkan sudah naik 150 persen. Kenaikan drastis ini terjadi tidak lama setelah Iran berperang melawan AS dan israel pada 28 Februari lalu.
Seorang ibu dua anak yang tidak disebut namanya mengeluhkan kondisi ini. Ia menjelaskan, saat pergi ke pasar, banyak toko-toko grosir di Iran yang menyediakan bahan pokok sehari-hari dengan persediaan yang cukup lengkap. Namun, menurutnya, tidak ada satu pun bahan pokok di toko-toko tersebut yang mampu ia beli. Sebab, harganya kini sudah tidak masuk akal.
“Membeli kebutuhan pokok telah menjadi prioritas utama kami. Namun, keranjang belanja kami menjadi lebih kecil dan terbatas. Dampak emosional dan tekanan yang kami alami adalah cerita lain. Setiap kali kami harus mengatakan tidak kepada anak-anak kami, setiap kali kami harus bolak-balik mengambil keputusan, entah itu kelas yang sangat ingin anak-anak kami ikuti atau sesuatu yang benar-benar mereka inginkan untuk dibelikan. Itu benar-benar melelahkan,” kata ibu berusia 41 tersebut dalam sebuah unggahan di X.
3. Iran sudah berupaya mengatasi harga bahan pokok yang naik

potret warga sedang berbelanja kebutuhan pokok (pexels.com/Helena Lopes) Untuk mengatasi kenaikan harga bahan pokok, Pemerintah Iran sebetulnya sudah melakukan sejumlah upaya. Salah satunya adalah mengadakan bazar besar. Langkah ini dilakukan agar masyarakat bisa membeli kebutuhan bahan pokok dengan harga murah. Sebab, bahan-bahan pokok yang dijual di bazar bisa 40 sampai 50 persen lebih murah daripada yang ada di pasar.
Kondisi ekonomi Iran saat ini kian diperparah oleh penerapan sanksi baru dari AS. Sanksi tersebut ada di dalam operasi bertajuk Economic D-Day yang diluncurkan oleh Presiden Donald Trump pada Rabu pada Rabu (19/8/2026) lalu. Lewat operasi ini, Washington melarang semua negara di dunia untuk melakukan kerja sama ekonomi dengan Teheran. Jika melanggar, maka sanksi berat akan diberikan. Kebijakan ini tentu membuat ekonomi Iran semakin terisolasi.
Meski sedang tidak baik-baik saja, para ahli menilai kondisi ekonomi Iran kini masih cukup stabil. Sebab, mereka menilai Iran punya strategi tersendiri untuk mencegah krisis ekonomi di negaranya. “Kemampuan perlawanan Iran tidak hanya mencegah keruntuhan, tetapi juga mencegah penderitaan ekonomi berubah menjadi tekanan politik dan perubahan yang diharapkan AS,” kata Hadi Kahalzadeh, seorang ahli ekonomi Iran di Universitas Brandeis.





















