Sejarah Baru Iran: Ketika Jabatan Supreme Leader Jatuh kepada sang Anak

- Mojtaba Khamenei resmi terpilih sebagai Supreme Leader ketiga Iran, menandai pertama kalinya jabatan itu diwariskan dari ayah ke anak sejak Revolusi Islam 1979.
- Assembly of Experts menunjuk Mojtaba dalam situasi darurat setelah serangan Israel, dengan dukungan kuat dari IRGC yang menilai pengalamannya penting bagi stabilitas negara.
- Mojtaba dikenal berpengaruh lama di lingkar kekuasaan Iran, dan meski ada kritik soal dinasti, penunjukannya diklaim berdasarkan kelayakan serta rekam jejaknya di sistem Republik Islam.
Jakarta, IDN Times - Sejak Revolusi Islam 1979 berdiri di atas satu prinsip yang tidak bisa diganggu gugat, bahwa Iran bukan kerajaan, dan kekuasaan tidak diwariskan dari bapak ke anak, Iran selalu memilih pemimpinnya lewat mekanisme yang dirancang justru untuk menghindari dinasti.
Assembly of Experts, badan 88 ulama senior, ada persis untuk memastikan kepemimpinan tertinggi ditentukan oleh kelayakan teologis dan kapasitas, bukan garis darah. Tapi pada 8 Maret 2026, untuk pertama kalinya dalam sejarah Republik Islam, badan itu memilih seorang anak untuk menggantikan ayahnya.
1. Anomali yang bukan kebetulan

Mojtaba Khamenei, 56 tahun, adalah pemimpin tertinggi ketiga Iran, dan contoh pertama suksesi berdasarkan garis keturunan sejak monarki Pahlavi digulingkan pada 1979. Ini bukan hal kecil. Para pendiri Republik Islam, termasuk Ayatollah Khomeini sendiri, secara eksplisit menolak prinsip suksesi turun-temurun, melansir Iran International.
Tapi konteks kali ini berbeda dari suksesi mana pun sebelumnya. Assembly of Experts bertemu dalam kondisi darurat, sebagian besar secara online, setelah Israel mengebom gedung pertemuan mereka. IRGC dilaporkan memberikan tekanan besar untuk segera menunjuk Mojtaba. Pengumuman pun sempat ditunda karena khawatir Mojtaba langsung menjadi target serangan begitu namanya diumumkan.
Dalam situasi seperti itu, Assembly of Experts tidak punya kemewahan untuk berdebat soal simbolisme. Yang mereka butuhkan adalah seseorang yang sudah tahu cara kerja mesin kekuasaan Iran dari dalam dan Mojtaba sudah ada di sana selama puluhan tahun.
2. Bukan anak manja yang tak tahu apa-apa

Kritik soal suksesi dinasti sering mengasumsikan Mojtaba naik hanya karena nama belakangnya. Kenyataannya jauh lebih kompleks. Selama lebih dari dua dekade, Mojtaba bekerja di jantung kantor Supreme Leader. Dia dikenal sebagai figur yang mengendalikan Office of the Supreme Leader, dengan keterlibatan mendalam dalam pengambilan keputusan di seluruh Republik Islam, melansir Al Jazeera.
Diplomat-diplomat AS selama bertahun-tahun menyebutnya sebagai "kekuatan di balik jubah", sosok yang diam-diam tapi nyata pengaruhnya. Dia belajar di seminari keagamaan utama Iran di Qom, bergabung dengan IRGC di masa Perang Iran-Irak, dan membangun jaringan yang kemudian menjadi tulang punggung struktur kekuasaan konservatif Iran. Mojtaba bukan pewaris pasif. Dia adalah produk dari sistem yang dia ikut bangun dan jalani.
3. Naiknya Mojtaba mungkin sudah disiapkan sejak lama

Pertanyaan soal legitimasi Mojtaba sebenarnya bukan hal baru. Sejak 2022, mantan Perdana Menteri Mir Hossein Mousavi, yang sudah berada dalam tahanan rumah sejak 2011, sudah memperingatkan bahwa Ali Khamenei sedang mempersiapkan anaknya untuk mengambil alih kekuasaan.
Namun, ada laporan dari CNN yang mengungkap bahwa Ali Khamenei senior sendiri sebenarnya tidak setuju dengan ide anaknya menjadi penerus, khawatir itu akan mengembalikan struktur mirip monarki ke dalam sistem Islam.
Tapi Assembly of Experts punya jawaban untuk itu. Mereka menegaskan bahwa penunjukan Supreme Leader didasarkan pada "merit selection" yang merupakan kelayakan, bukan keturunan. Dan dari sisi itu, argumen mereka tidak kosong: Mojtaba punya rekam jejak panjang di dalam sistem, jaringan kuat di IRGC, dan yang paling penting dia ada di sana ketika negara paling membutuhkan figur yang sudah mengenal seluk-beluk kekuasaan dari dalam.
4. Trump dan Israel tanpa sadar jadi saksi pelantikannya

Yang menarik, legitimasi Mojtaba justru sebagian datang dari luar, dari musuh-musuhnya sendiri. Ketika Trump menyebutnya "tidak dapat diterima" dan Israel mengancam akan menjadikannya target, para ulama Iran membaca itu sebagai konfirmasi: ini orang yang tepat.
IRGC langsung mengeluarkan pernyataan menyatakan "penghormatan mendalam, kesetiaan total, dan ketaatan penuh" kepada Mojtaba begitu namanya diumumkan. Institusi paling berkuasa di Iran sudah menyatakan posisinya.
Apakah ini preseden yang nyaman bagi Republik Islam? Mungkin tidak. Suksesi dari bapak ke anak memang dipandang sinis oleh sebagian warga Iran, terutama karena terlalu mengingatkan pada monarki Pahlavi yang justru digulingkan oleh revolusi. Tapi Iran tidak memilih Mojtaba untuk membuat sejarah terasa nyaman. Mereka memilihnya karena di tengah perang, di bawah serangan, dan tanpa kemewahan waktu, dia adalah pilihan yang paling masuk akal bagi mereka yang pegang kendali.
Legitimasinya tidak datang dari nama ayahnya. Legitimasinya akan dibangun atau dihancurkan oleh apa yang dia lakukan selanjutnya.



















