Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Australia Beri Suaka untuk 5 Pemain Sepak Bola Wanita Iran

Australia Beri Suaka untuk 5 Pemain Sepak Bola Wanita Iran
ilustrasi bendera Australia. (pexels.com/Hugo Heimendinger)
Intinya Sih
  • Pemerintah Australia memberikan visa kemanusiaan kepada lima pemain sepak bola wanita Iran yang menolak pulang usai Piala Asia 2026 karena khawatir keselamatan mereka terancam.
  • Aksi diam para pemain saat lagu kebangsaan Iran diputar memicu kemarahan pemerintah dan kelompok garis keras, serta ancaman terhadap keluarga mereka di tanah air.
  • Presiden AS Donald Trump mendesak Perdana Menteri Australia Anthony Albanese untuk melindungi para pemain, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS-Israel dan Iran.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Australia memberikan visa kemanusiaan kepada lima anggota tim nasional sepak bola wanita Iran pada Selasa (10/3/2026). Kelima atlet tersebut menolak kembali ke negaranya usai tersingkir dari turnamen Piala Asia Wanita 2026 di Queensland. Keputusan diambil menyusul kekhawatiran atas keselamatan mereka akibat protes diam saat lagu kebangsaan Iran diputar.

Menteri Dalam Negeri Australia Tony Burke mengonfirmasi bahwa kelima pemain telah dipindahkan ke lokasi rahasia demi keamanan. Langkah perlindungan ini dipimpin oleh Kepolisian Federal Australia (AFP) setelah mendapat izin dari badan intelijen ASIO. Sisa anggota skuad lainnya juga ditawari bantuan serupa apabila mereka memutuskan untuk menetap.

1. Lima atlet Iran telah menerima visa kemanusiaan

ilustrasi protes di Iran
ilustrasi protes di Iran (unsplash.com/Nk Ni)

Proses evakuasi bermula ketika sejumlah pemain diam-diam meninggalkan hotel tim di kawasan Gold Coast pada Senin (9/3/2026) waktu setempat. Jurnalis olahraga Raha Pourbakhsh melaporkan setidaknya tujuh pemain memisahkan diri, dengan lima di antaranya langsung mencari perlindungan kepolisian.

Kelima pemain yang menerima visa kemanusiaan adalah Fatemeh Pasandideh, Zahra Ghanbari, Zahra Sarbali, Atefeh Ramazanzadeh, dan Mona Hamoudi. Burke menandatangani persetujuan dokumen imigrasi mereka pada Selasa pukul 01.30 waktu setempat.

“Mereka ingin memperjelas bahwa mereka bukanlah aktivis politik, melainkan atlet yang ingin aman,” ujar Tony Burke, dilansir BBC.

Persetujuan visa ini diselesaikan setelah aparat pemerintah melakukan diskusi intensif selama beberapa hari dengan perwakilan pemain. Visa ini memastikan para atlet tersebut berhak tinggal, bekerja, dan belajar di wilayah Australia. Selain itu, mereka juga akan berkesempatan untuk menjadi penduduk tetap Australia.

2. Tim Iran menolak menyanyikan lagu kebangsaan

ilustrasi sepak  bola
ilustrasi sepak bola (unsplash.com/Peter Glaser)

Sebelumnya, para pemain melakukan aksi bungkam saat lagu kebangsaan Iran diputar pada laga perdana melawan Korea Selatan. Protes tersebut memicu kemarahan dari kelompok garis keras dan loyalis rezim di Iran. Seorang komentator televisi pemerintah bahkan melabeli seluruh anggota sebagai pengkhianat di masa perang.

Aksi mereka juga dikhawatirkan membawa risiko bagi kerabat yang masih berada di tanah air. Keluarga dari tiga pemain yang kini berlindung di kepolisian dilaporkan telah menerima berbagai ancaman. Sementara itu, nasib serta keberadaan dua pemain lain yang sempat ikut keluar dari hotel masih belum diketahui. Pemerintah Iran melalui Wakil Presiden Pertama Mohammad Reza Aref mengecam keputusan ini.

“Ini adalah perang psikologis, Trump telah mencampuri urusan keluarga bangsa Iran. Iran menyambut anak-anaknya dengan tangan terbuka,” tutur Aref, dilansir CNN.

3. Trump desak PM Australia untuk melindungi para pemain

Presiden AS Donald Trump.
Presiden AS Donald Trump. ( The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah merespons insiden melalui jejaring media sosial Truth Social. Trump memperingatkan Perdana Menteri (PM) Anthony Albanese untuk tidak melakukan kesalahan dengan memulangkan para pemain. Keduanya juga berkoordinasi via telepon pada Selasa pukul 02.00 waktu Australia untuk membahas upaya penyelamatan.

"Lima orang sudah ditangani, dan sisanya sedang dalam perjalanan. Namun, beberapa merasa harus kembali karena khawatir akan keselamatan keluarga mereka, termasuk ancaman terhadap anggota keluarga tersebut jika mereka tidak kembali," tulis Trump, dikutip dari Al Jazeera.

Ketegangan ini terjadi saat perang AS-Israel melawan Iran masih berkobar di Timur Tengah. Sejak 28 Februari, serangan udara AS-Israel telah menewaskan sejumlah pejabat penting Iran termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, serta menghancurkan berbagai fasilitas pertahanan.

Perang telah mengganggu jadwal serta rute penerbangan internasional melintasi kawasan tersebut. Kelompok suporter khawatir sisa anggota tim akan dievakuasi secara paksa melalui negara ketiga seperti Rusia atau China.

Di tengah ketidakpastian, pelatih kepala Marziyeh Jafari justru menyatakan sikap yang berbeda dari anak asuhnya. Ia menyatakan keinginannya untuk segera pulang demi kembali berkumpul bersama keluarganya di Iran.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ernia Karina
EditorErnia Karina
Follow Us

Latest in News

See More