Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

PBB: Perempuan Masih Sering Jadi Korban Perdagangan Manusia

PBB: Perempuan Masih Sering Jadi Korban Perdagangan Manusia
ilustrasi perempuan yang sering menjadi korban perdagangan manusia (pexels.com/Polina Tankilevitch)
Intinya Sih
  • UNODC mencatat kasus perdagangan manusia global naik 25 persen pada 2019-2022, terutama di Sub-Afrika Sahara, Amerika Utara, dan Eropa Barat, dipicu konflik bersenjata serta bencana iklim.
  • Dari 202.478 korban yang tercatat sepanjang 2020-2023, 38 persen adalah anak-anak; perempuan dewasa mencakup 39 persen korban, menunjukkan perempuan tetap paling terdampak.
  • Perdagangan manusia umumnya bertujuan kerja paksa, juga eksploitasi seksual yang banyak menargetkan perempuan; pelaku beroperasi melalui jaringan lintas negara sehingga pemberantasannya sulit.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut kaum perempuan saat ini masih sering menjadi korban perdagangan manusia di seluruh dunia. Pernyataan itu disampaikan oleh Kantor PBB untuk Masalah Narkoba dan Kriminal (UNODC) dalam hasil investigasi yang dikutip Anadolu Agency pada Kamis (30/7/2026). 

Hasil investigasi UNODC menunjukkan, kasus perdagangan manusia sepanjang 2019 sampai 2022 melonjak sebanyak 25 persen. Sub-Afrika Sahara, Amerika Utara, dan Eropa Barat menjadi kawasan dengan peningkatan kasus perdagangan manusia tertinggi di seluruh dunia. Menurut UNODC, peningkatan kasus perdagangan manusia di sana dipicu oleh konflik bersenjata dan bencana iklim.

1. Perempuan dewasa dan anak-anak sering menjadi korban perdagangan manusia

Perempuan yang sering menjadi korban perdagangan manusia.
ilustrasi perempuan yang sering menjadi korban perdagangan manusia (unsplash.com/Hermes Rivera)

Dalam laporannya, UNODC menjelaskan, ada sekitar 202.478 korban perdagangan manusia yang muncul sepanjang 2020 sampai 2023. Dari jumlah tersebut, 38 persen korbannya adalah anak-anak yang terdiri dari 22 persen anak perempuan dan 16 persen anak laki-laki. 

Selain anak-anak, kalangan dewasa juga menjadi salah satu korban perdagangan manusia. Menurut UNODC, 39 persen korban perdagangan manusia dari kalangan dewasa merupakan perempuan, sedangkan 23 persen lainnya merupakan laki-laki. Dari rincian tersebut, terlihat bahwa perempuan selalu mendominasi korban perdagangan manusia di seluruh dunia.

2. Perempuan sering diperdagangkan untuk tujuan eksploitasi seksual

Kekerasan seksual.
ilustrasi eksploitasi seksual (unsplash.com/Tarun Savvy)

Menurut UNODC, kaum perempuan sering diperdagangkan oleh pihak tidak bertanggung jawab untuk tujuan eksploitasi seksual. Kaum perempuan yang dimaksud adalah perempuan dewasa dan anak-anak. Perempuan dewasa yang menjadi korban perdagangan manusia untuk eksploitasi seksual berjumlah 64 persen, sedangkan 28 persen lainnya adalah perempuan yang masih anak-anak. 

UNODC menambahkan, jumlah ini menunjukkan bahwa perempuan masih sangat rentan menjadi korban perdagangan manusia. Sebab, tidak seperti kaum laki-laki, perempuan terkadang tidak bisa melawan jika mereka menjadi korban perdagangan manusia. Mereka cenderung menerima nasib dan berharap ditolong pihak lain yang lebih kuat.

3. Tujuan perdagangan manusia di seluruh dunia umumnya untuk kerja paksa

Demonstrasi memprotes perdagangan manusia.
ilustrasi demonstrasi memprotes perdagangan manusia (unsplash.com/Hermes Rivera)

Jika ditotal, UNODC menjelaskan bahwa tujuan utama perdagangan manusia di seluruh dunia umumnya untuk kerja paksa. Jadi, para korban sering dijadikan pegawai imigran ilegal dengan bayaran murah atau bahkan tidak dibayar sama sekali. Namun, para korban juga sering mengalami eksploitasi seksual.

Dalam laporan UNODC, pihak-pihak yang sering melakukan perdagangan manusia umumnya bekerja dalam bentuk jaringan. Jadi, mereka mempunyai jaringan yang terkoneksi di seluruh negara di dunia. Oleh karena itu, pembasmian jaringan perdagangan manusia ini menjadi sulit untuk dilakukan. Hal ini lantas membuat korban terus bertambah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More