Pemangkasan Bantuan Internasional Ancam Lonjakan Kasus HIV

- UNAIDS memperingatkan pemangkasan bantuan internasional mengganggu pencegahan, pengujian, dan pengobatan HIV, sehingga mengancam target pengakhiran epidemi AIDS pada 2030.
- Pendanaan HIV internasional turun 18 persen tahun lalu, setelah pembekuan sebagian dana AS dan pemotongan kontribusi sejumlah negara Eropa.
- Afrika Sub-Sahara terdampak paling besar; pembiayaan domestik naik 4 persen tetapi belum menutup defisit, sementara 1,2 juta infeksi HIV baru tercatat tahun lalu.
Jakarta, IDN Times - UNAIDS memperingatkan bahwa dunia berisiko mengalami lonjakan kembali kasus HIV akibat penurunan tajam bantuan internasional. Peringatan ini disampaikan dalam laporan terbaru yang dirilis pada Senin (27/7/2026), bertepatan dengan pembukaan Konferensi AIDS Internasional di Brasil.
Lembaga PBB tersebut menilai pemangkasan anggaran telah mengganggu layanan pencegahan, pengobatan, serta pengujian HIV di berbagai negara. Jika terus berlanjut, kondisi ini dapat menggagalkan target global untuk mengakhiri epidemi AIDS pada 2030.
1. Penurunan pendanaan donor internasional
UNAIDS mencatat pendanaan internasional untuk penanganan HIV anjlok hingga 18 persen sepanjang tahun lalu. Angka ini menjadi penurunan terendah dalam hampir dua dekade terakhir.
Amerika Serikat sebelumnya menyumbang sekitar 75 persen dari total bantuan HIV global sebelum membekukan sebagian dana bantuannya pada awal 2025. Langkah tersebut kemudian diikuti oleh sejumlah negara Eropa yang turut memotong kontribusi mereka.
"Dunia internasional kini berada dalam krisis politik dan keuangan yang mengancam keberhasilan penanganan HIV selama puluhan tahun," ungkap pihak UNAIDS, dilansir AOL.
UNAIDS menilai berkurangnya dukungan donor membuat keberlangsungan program penanggulangan HIV di banyak negara terancam terhenti.
2. Dampak pemangkasan dana terhadap layanan kesehatan
Wilayah Afrika Sub-Sahara menjadi kawasan yang paling terdampak oleh pemotongan anggaran ini. Penurunan dana langsung mengganggu layanan tes, pencegahan, hingga pengobatan HIV.
Di Kamerun, Nigeria, dan Zambia, jumlah penerima obat pencegah HIV (PrEP) dilaporkan merosot lebih dari 50 persen. Sejumlah fasilitas kesehatan bahkan terpaksa mengurangi jam layanan akibat keterbatasan biaya.
"Jika upaya pencegahan terhenti, kasus infeksi akan melonjak. Begitu pula jika pengobatan terganggu, pasien akan meninggal," kata Direktur Eksekutif UNAIDS, Winnie Byanyima.
UNAIDS menegaskan bahwa kemajuan teknologi pencegahan HIV tidak akan berdampak besar jika akses masyarakat terhadap layanan kesehatan terus memburuk.
3. Keterbatasan anggaran domestik menutup defisit
Sejumlah negara dengan kasus HIV tinggi mulai meningkatkan alokasi anggaran dalam negeri. Pembiayaan domestik ini naik sekitar 4 persen dan kini menutupi hampir 60 persen dari total dana penanganan HIV.
Meski begitu, UNAIDS menilai kenaikan tersebut belum cukup untuk menggantikan bantuan internasional yang hilang. Banyak negara berpenghasilan rendah, khususnya di Afrika, masih sangat bergantung pada donor asing untuk membiayai program HIV mereka.
"Peningkatan anggaran mandiri ini masih sangat kecil dibandingkan kebutuhan dana yang sebenarnya," ujar Winnie Byanyima.
Sepanjang tahun lalu, tercatat sekitar 1,2 juta orang terinfeksi HIV baru, dengan kenaikan kasus terjadi di 21 negara. UNAIDS menegaskan bahwa penuntasan epidemi AIDS sangat bergantung pada komitmen politik dan kepastian dana global.





















