Putri Mahkota Swedia ke Indonesia, Tertarik Teknologi Genomik

- Putri Mahkota Swedia Victoria mengunjungi fasilitas BGSI di Gedung Eijkman, RSCM Jakarta.
- Victoria menjalankan kunjungan sebagai UNDP Goodwill Ambassador untuk melihat program inovatif bersama pemerintah Indonesia.
- Budi Gunadi Sadikin menyebut pemahaman DNA menjadi fondasi pengembangan teknologi kesehatan Indonesia.
Jakarta, IDN Times – Putri Mahkota Swedia, Victoria, tertarik dengan perkembangan teknologi genomik yang dikembangkan Indonesia melalui Biomedical and Genomic Science Initiative (BGSI). Ketertarikan itu disampaikan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin usai menemani Putri Victoria mengunjungi fasilitas BGSI di Gedung Eijkman, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta.
Kunjungan tersebut dilakukan oleh Victoria dalam kapasitasnya sebagai UNDP Goodwill Ambassador. Selain sebagai anggota keluarga kerajaan Swedia, Victoria juga menjalankan peran tersebut untuk melihat berbagai program inovatif yang dikembangkan UNDP bersama pemerintah Indonesia.
Budi mengatakan, Putri Victoria tertarik karena Indonesia telah mengembangkan teknologi genomik yang selama ini menjadi perhatian negara-negara maju. Menurutnya, perkembangan tersebut dapat menjadi fondasi bagi pengembangan teknologi kesehatan Indonesia dalam jangka panjang.
1. Lihat perkembangan BGSI

Goodwill Ambassador UNDP Putri Mahkota Victoria dari Swedia mengunjungi Pusat Biomedis dan Genomika Kesehatan di Gedung Eijkman, Jakarta. (IDN Times/Marcheilla Ariesta) Perwakilan UNDP, Siprianus Bate Soro, mengatakan kunjungan Victoria ke Indonesia antara lain bertujuan untuk melihat langsung kerja sama UNDP dengan pemerintah Indonesia yang menghasilkan program inovatif dan berdampak. BGSI menjadi salah satu fasilitas yang diperkenalkan dalam kunjungan tersebut.
"Beliau kan dalam kapasitas selaku UNDP Goodwill Ambassador. Jadi selain selaku Putri Mahkota Kerajaan Swedia, beliau juga UNDP Goodwill Ambassador," ujar Siprianus Bate Soro, Jumat (4/9/2026).
Menurutnya, BGSI dinilai menarik karena mengembangkan teknologi genomic sequencing yang tergolong mutakhir. Fasilitas tersebut dibangun oleh Kementerian Kesehatan dengan dukungan teknis dari UNDP.
Dalam kunjungan tersebut, Budi turut menjelaskan kepada Victoria mengenai sistem genomic sequencing yang telah dikembangkan melalui BGSI dan sejumlah hub yang berada di berbagai wilayah Indonesia. Teknologi tersebut dinilai memiliki potensi besar untuk mendukung penelitian dan layanan kesehatan di masa depan.
2. Genomik bisa dorong teknologi kesehatan

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin usai mendampingi Goodwill Ambassador UNDP Putri Mahkota Victoria dari Swedia. (IDN Times/Marcheilla Ariesta) Budi menjelaskan pemahaman mengenai DNA menjadi fondasi penting bagi perkembangan teknologi yang berkaitan dengan makhluk hidup. Berbeda dengan benda mati yang telah lebih dahulu dipahami hingga komponen terkecilnya, pemahaman mengenai tubuh manusia berkembang pesat setelah ilmuwan menemukan struktur DNA.
Menurut Budi, pengetahuan mengenai DNA kemudian memungkinkan berkembangnya berbagai teknologi kesehatan. Dia mencontohkan vaksin mRNA, stem cell, serta teknologi pengobatan yang bekerja berdasarkan pemahaman terhadap mekanisme biologis tubuh.
Ke depan, pemahaman yang semakin detail mengenai DNA diharapkan memungkinkan teknologi medis memperbaiki bagian tubuh yang mengalami kerusakan secara lebih spesifik. Misalnya, kerusakan saraf, neuron, maupun bagian tubuh lain dapat ditangani dengan memahami mekanisme biologisnya.
"Jatuhnya rusak, tidak usah diperbaiki seperti sekarang. Kita bisa memperbaiki. Sarafnya rusak, strokenya rusak, neuronnya rusak, dibenerin neuronnya. Karena dia tahu bagaimana cara bekerjanya," kata Budi.
Budi memperkirakan perkembangan teknologi tersebut membutuhkan waktu sekitar 10-20 tahun. Karena itu, menurutnya, Indonesia perlu mulai membangun fondasi penelitian genomik sejak sekarang agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat di masa mendatang.
3. Data genomik Indonesia jadi perhatian

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin usai mendampingi Goodwill Ambassador UNDP Putri Mahkota Victoria dari Swedia. (IDN Times/Marcheilla Ariesta) Budi mengatakan, ketertarikan Victoria juga berkaitan dengan perkembangan ilmu longevity, yakni penelitian mengenai cara mempertahankan kesehatan tubuh dan memperlambat kerusakan organ agar manusia dapat hidup lebih panjang dan sehat.
Dia menjelaskan, data genomik dari setiap kelompok populasi dapat memiliki karakteristik berbeda. Karena itu, semakin banyak data dari berbagai populasi yang tersedia, semakin besar pula peluang ilmuwan untuk memahami variasi genetik dan kaitannya dengan risiko penyakit.
Salah satu contoh yang disebut Budi adalah mutasi gen BRCA1 dan BRCA2 yang berkaitan dengan risiko kanker payudara. Dengan melakukan sequencing, mutasi tertentu dapat diketahui sehingga seseorang yang memiliki risiko tinggi dapat memperoleh penanganan lebih awal.
"Kalau itu di-sequence, ada mutasi itu. Kemungkinan besar akan kena kanker payudara. Jadi mendingan di-treat lebih awal," ujar Budi.
Siprianus mengatakan, hasil pengembangan BGSI menunjukkan potensi besar untuk terus dikembangkan. Menurutnya, teknologi yang telah dibangun saat ini masih dapat ditingkatkan agar dapat menjalankan fungsi secara lebih optimal.
"Kami dari UNDP mendorong supaya salah satu yang dilihat adalah BGSI ini, karena hasilnya amat sangat inovatif, cutting-edge technology," ujarnya.
UNDP menilai kunjungan Victoria dapat membuka peluang munculnya bentuk kerja sama atau pemikiran baru. Namun, pada kunjungan tersebut belum ada pembicaraan teknis mengenai bentuk kerja sama baru antara UNDP dan pemerintah Indonesia.





















