Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Biaya Perang AS di Iran Tembus Rp673 T, Stok Rudal Kian Menipis

3 min read
Biaya Perang AS di Iran Tembus Rp673 T, Stok Rudal Kian Menipis
USS Abraham Lincoln melakukan blokade di Laut Arab (NAVCENT Public Affairs, Public domain, via Wikimedia Commons)
  • CBO mencatat perang AS melawan Iran menghabiskan 38,1 miliar dolar AS hingga 1 Agustus 2026, dengan biaya bulanan diproyeksikan bertambah 2–3 miliar dolar AS.
  • Penggantian amunisi menjadi beban terbesar, sementara hingga dua pertiga stok rudal pencegat terkuras; pemulihan cadangan diperkirakan memerlukan sedikitnya lima tahun karena produksi terbatas.
  • DPR AS kembali meloloskan resolusi 220-204 untuk membatasi kewenangan presiden dan menghentikan keterlibatan pasukan, sementara dana tambahan perang tertahan di Kongres.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Kantor Anggaran Kongres AS (CBO) melaporkan perang melawan Iran telah menghabiskan biaya 38,1 miliar dolar AS atau setara Rp673,8 triliun per 1 Agustus 2026. Pengeluaran militer tersebut diperkirakan terus bertambah antara 2 miliar dolar AS (sekitar Rp35,4 triliun) hingga 3 miliar dolar AS (sekitar Rp53,1 triliun) per bulan tergantung intensitas pertempuran.

Perang yang dimulai sejak 28 Februari 2026 ini memicu lonjakan harga minyak dunia akibat terganggunya jalur pelayaran di Selat Hormuz. Situasi tersebut membebani anggaran pertahanan AS sekaligus mengerek laju inflasi menjelang pemilu sela.

  1. 1. Kebutuhan amunisi menjadi pengeluaran terbesar militer AS

    peluncuran rudal dari USS Fitzgerald
    peluncuran rudal dari USS Fitzgerald (DoD photo by U.S. Navy, Public domain, via Wikimedia Commons)

    Penggantian amunisi menjadi pos pengeluaran terbesar Pentagon dengan nilai mencapai 21,7 miliar dolar AS atau setara Rp383,8 triliun. Dari angka tersebut, pengadaan rudal pencegat pertahanan udara menyerap porsi paling banyak, yakni 13,1 miliar dolar AS atau setara Rp231,7 triliun.

    Biaya operasional militer lainnya mencakup penambahan jam terbang pesawat sebesar 10,4 miliar dolar AS atau setara Rp183,9 triliun. Lonjakan harga bahan bakar selama operasi tempur turut menambah pengeluaran Departemen Pertahanan sebesar 2,7 miliar dolar AS atau setara Rp47,8 triliun.

    Perhitungan CBO ini sejalan dengan pernyataan Menteri Pertahanan Pete Hegseth pada Juli lalu yang menaksir biaya perang mencapai 37,5 miliar dolar AS atau setara Rp663,2 triliun hingga September 2026. Namun, estimasi CBO berada sekitar 10 persen di bawah pengajuan dana darurat Gedung Putih sebesar 42,3 miliar dolar AS atau setara Rp748,1 triliun karena perbedaan metode kalkulasi dan data Pentagon yang belum lengkap.

    "Tanpa dana ini, kita menghadapi kekurangan yang parah," ujar Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, dilansir The Straits Times.

  2. 2. Stok amunisi menipis dan aset militer AS alami kerusakan

    ilustrasi serangan drone Shahed-136 buatan Iran
    ilustrasi serangan drone Shahed-136 buatan Iran (Khamenei.ir, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

    Operasi militer di Iran telah menguras hingga dua pertiga persediaan rudal pencegat AS. CBO memperingatkan bahwa pemulihan cadangan senjata tersebut membutuhkan waktu sedikitnya lima tahun karena kapasitas produksi industri pertahanan yang terbatas.

    Penipisan stok rudal dikhawatirkan dapat melumpuhkan kesiapsiagaan militer AS jika terjadi konflik besar baru, seperti potensi perang di Selat Taiwan. Laporan pengawas internal Pentagon juga menemukan bahwa tingginya penggunaan senjata memicu kelangkaan bahan baku pendorong roket serta tenaga kerja ahli.

    Selain kerugian materiel, perang ini telah merenggut nyawa 18 prajurit AS di medan pertempuran. Lebih dari 800 tentara lainnya mengalami luka-luka, dengan sebagian menderita cedera otak traumatis akibat ledakan.

    Serangan balasan Iran juga merusak ratusan fasilitas pangkalan militer AS yang tersebar di delapan negara Timur Tengah. Sejumlah alutsista udara turut hancur, meliputi empat jet tempur F-15E, satu unit jet tempur F-35A, tujuh pesawat pengisi bahan bakar KC-135, serta puluhan pesawat nirawak (drone).

  3. 3. DPR AS kembali loloskan resolusi untuk hentikan perang di Iran

    Gedung Capitol
    Gedung Capitol (unsplash.com/stphnwlkr)

    Menanggapi pembengkakan biaya, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS meloloskan resolusi kekuatan perang untuk ketiga kalinya melalui pemungutan suara dengan hasil 220-204. Langkah legislatif ini bertujuan membatasi kewenangan militer presiden dan menuntut penghentian keterlibatan pasukan AS dalam perang melawan Iran.

    "Laporan nonpartisan CBO memperjelas bahwa perang ini telah membebani pembayar pajak Amerika puluhan miliar dolar dan terus menaikkan biaya hidup," kata anggota Komite Anggaran DPR AS Brendan Boyle, dilansir Al Jazeera.

    Di sisi lain, Ketua Komite Urusan Luar Negeri DPR Brian Mast membela langkah militer tersebut demi melenyapkan ancaman keamanan jangka panjang dari Iran. Meski demikian, proses pengesahan dana tambahan perang terhenti di Kongres dan diperkirakan baru dibahas kembali usai pemilu sela pada November 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More