Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Presiden Korsel Dorong Trump Lanjutkan Dialog dengan Kim Jong Un

4 min read
Presiden Korsel Dorong Trump Lanjutkan Dialog dengan Kim Jong Un
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung (이재명, CC BY 3.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/3.0>, via Wikimedia Commons)
  • Lee Jae Myung mendorong Donald Trump mempertahankan dialog dengan Kim Jong Un meski peluang pertemuan masih sulit.
  • Seoul melakukan koordinasi awal untuk membuka jalan komunikasi antara Washington dan Pyongyang.
  • Kecaman Kim Yo Jong atas latihan militer AS-Korea Selatan menambah tantangan bagi dialog tingkat tinggi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apakah peluang pertemuan Trump dan Kim masih terbuka?
Share Article

Jakarta, IDN Times – Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, mengatakan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, masih melanjutkan dialog dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un. Lee bahkan mengaku terus mendorong Trump agar upaya pertemuan dengan Kim tetap dilakukan.

Lee mengatakan pihaknya saat ini masih melakukan koordinasi awal untuk membuka jalan bagi dialog antara Washington dan Pyongyang. Meski pertemuan antara Trump dan Kim dinilai masih sulit terwujud, Lee menyebut peluang tersebut belum sepenuhnya tertutup.

"Saya tidak bisa mengatakan dengan pasti seberapa besar kemungkinannya, tetapi jelas bahwa kita harus melakukan segala upaya untuk mengubah kemungkinan itu menjadi kenyataan," kata Lee kepada wartawan di Blue House, Jumat (18/9/2026).

Trump sebelumnya pada Agustus mengatakan dirinya berniat bertemu kembali dengan Kim Jong-un pada akhir tahun ini. Jika terwujud, pertemuan tersebut akan menjadi pertemuan pertama keduanya sejak masa jabatan pertama Trump sebagai presiden AS.

  1. 1. Lee sebut Trump ingin pertahankan dialog

    Presiden AS dan Presiden Korsel
    Presiden AS, Donald Trump (kiri), dan Presiden Korsel, Lee Jae Myung (kanan). (The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)

    Trump, menurut Lee, jelas memiliki keinginan untuk mempertahankan komunikasi dengan Pyongyang. Karena itu, Korea Selatan terus melakukan koordinasi awal untuk membantu menciptakan kondisi yang memungkinkan dialog kembali berlangsung.

    "Saya terus mendesaknya untuk melakukan hal tersebut," ujar Lee, dikutip dari Euronews.

    Meski demikian, Lee mengakui pertemuan antara Trump dan Kim masih menghadapi sejumlah tantangan. Menurutnya, pertemuan tersebut saat ini masih sulit digelar, tetapi bukan sesuatu yang mustahil.

    Pernyataan Lee disampaikan setelah Trump pada Agustus 2026 lalu mengungkapkan keinginannya untuk kembali bertemu Kim. Trump juga kembali menyoroti hubungan pribadinya dengan pemimpin Korea Utara tersebut.

    "Fakta bahwa saya akrab dengannya adalah hal yang baik, bukan buruk. Dia memiliki 57 senjata nuklir yang sangat kuat. Seharusnya hal itu tidak pernah dibiarkan terjadi," kata Trump pada momen tersebut.

    Namun, Korea Utara sejauh ini memberikan sedikit respons terhadap pernyataan Trump. Di sisi lain, Korea Utara juga semakin mempererat hubungan dengan Rusia dalam beberapa tahun terakhir.

  2. 2. Kim Yo Jong kecam latihan militer AS-Korsel

    IMG_0316.jpeg
    Adik pemimpin tertinggi Korea Utara Kim Jong Un, Kim Yo Jong. (AFP/VLADIMIR SMIRNOV)

    Harapan untuk segera terwujudnya pertemuan Trump dan Kim kembali menghadapi tantangan setelah Kim Yo Jong, adik Kim Jong Un yang berpengaruh dalam pemerintahan Korea Utara, mengecam latihan militer AS dan Korea Selatan.

    Kim Yo Jong menyebut latihan tersebut sebagai "latihan perang yang dipimpin AS". Pernyataan itu disampaikan melalui kantor berita resmi Korea Utara, KCNA, pada Jumat.

    "Situasi saat ini, ketika rekor baru terus dibuat dalam hal tindakan praktis yang bermusuhan terhadap Korea Utara, menegaskan perlunya memecahkan rekor tersebut melalui tindakan respons kami yang bersifat proporsional atau lebih ofensif," kata Kim Yo Jong.

    Kim Yo Jong juga menegaskan Pyongyang akan terus memperkuat kemampuan pencegahan nuklirnya. “Tekad kami untuk mempertahankan kedaulatan akan diwujudkan melalui tindakan yang lebih jelas dan tidak akan pernah ada perubahan dalam arah memperkuat pencegahan perang nuklir,” ujarnya.

    Pernyataan tersebut muncul di tengah upaya Seoul mempertahankan peluang dialog dengan Pyongyang. Di sisi lain, ketegangan militer di Semenanjung Korea masih menjadi salah satu hambatan bagi terciptanya kembali pertemuan tingkat tinggi AS-Korea Utara.

  3. 3. Korsel tak kirim pasukan ke Timur Tengah

    Presiden Korea Selatan (Korsel), Lee Jae-myung.
    Presiden Korea Selatan (Korsel), Lee Jae-myung. (경기도 뉴스포털, KOGL Type 1, via Wikimedia Commons)

    Dalam kesempatan yang sama, Lee juga menegaskan Korea Selatan tidak akan mengerahkan pasukan ke Timur Tengah dengan cara yang dapat menyeret negaranya ke dalam konflik.

    "Tidak akan ada keterlibatan atau intervensi dalam perang tersebut. Kami tidak akan mengerahkan pasukan atau aset militer dengan cara seperti itu," kata Lee.

    Seoul sebelumnya dilaporkan mempertimbangkan pengerahan pasukan ke Selat Hormuz, jalur strategis sekaligus titik penting pengiriman minyak dan gas yang menjadi pusat ketegangan Washington dan Teheran sejak perang Iran pecah pada akhir Februari.

    Namun, Lee mengatakan Korea Selatan hanya akan melakukan langkah minimum yang diperlukan untuk melindungi kapal dagang dan jalur pengiriman minyaknya di kawasan tersebut.

    "Kami akan melaksanakan kegiatan minimum yang diperlukan untuk melindungi kapal dagang dan jalur pengiriman minyak," ujarnya.

    Trump pada Agustus 2026 juga mengatakan telah meminta AS mengurangi latihan militer bersama yang "mahal" dengan Korea Selatan. Menurut Trump, latihan tersebut memberikan sinyal yang tidak tepat dan bermusuhan kepada Korea Utara. Kemudian, Trump sempat meminta Korea Selatan bergabung dengan AS dalam upaya denuklirisasi Iran. Namun, menurut Trump, Seoul menolak permintaan tersebut.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More