Dilansir The Strait Times, Jumat (15/5/2026), ada beberapa mekanisme yang akan dilakukan Rusia untuk merekrut mahasiswa menjadi operator drone. Mekanisme ini bertujuan untuk memberikan keadilan kepada mahasiswa yang bersedia menjadi operator drone untuk membantu militer Rusia.
Rusia Mau Rekrut Mahasiswa Jadi Operator Drone, Digaji Miliaran

- Pemerintah Rusia menawarkan mahasiswa menjadi operator drone militer dengan gaji sekitar Rp1,2 miliar, pembebasan kuliah, dan status veteran setelah tugas berakhir.
- Program perekrutan dilakukan di 270 universitas Rusia, termasuk Bauman Moscow State Technical University dan Plekhanov Russian University of Economics.
- Inisiatif ini menuai protes dari orangtua yang menilai ada paksaan, namun pemerintah menegaskan program bersifat sukarela tanpa tekanan bagi mahasiswa.
1. Mahasiswa akan diberi gaji miliaran

Jadi, mahasiswa yang bersedia dilatih untuk menjadi operator drone akan mendapatkan pembebasan masa studi selama satu tahun penuh. Selain itu, mereka juga akan digaji sebesar 5 juta rubel atau Rp1,2 miliar. Mereka juga akan mendapatkan pembebasan uang kuliah dari pemerintah.
Pemerintah Rusia menjelaskan, para mahasiswa yang sudah direkrut menjadi operator drone tidak akan ditugaskan di barisan depan. Artinya, mereka tidak akan diterjunkan untuk berperang. Sebab, mahasiswa bukan pasukan militer resmi sehingga tidak boleh diterjunkan di medan perang.
Kendati demikian, mahasiswa yang sudah direkrut menjadi operator drone akan tetap diberi gelar veteran tempur. Status tersebut akan diberikan setelah tugas mereka berakhir.
2. Perekrutan mahasiswa menjadi operator drone dilakukan di 270 universitas

Saat ini, perekrutan mahasiswa untuk menjadi operator drone sudah dilakukan di 270 universitas yang ada di Rusia. Selain Bauman Moscow State Technical University, perekrutan dikabarkan juga dilakukan di Moscow State Academy of Law dan Plekhanov Russian University of Economics.
Menurut seorang pengamat bernama Ivan Chuvilyaev, program ini menunjukkan bahwa kampus-kampus di Rusia telah berubah menjadi tempat perekrutan pasukan militer. Sebab, Rusia kini memang sedang gencar mencari pasukan tambahan untuk mengganti pasukan mereka yang gugur di medan perang, terutama yang gugur di perang melawan Ukraina.
“Universitas telah berubah menjadi pusat perekrutan. Alasan utama banyak anak laki-laki pergi ke universitas adalah karena penangguhan wajib militer tidak lagi berlaku,” kata Chuvilyaev.
3. Program perekrutan mahasiswa menjadi operator drone menuai protes

Sebetulnya, program perekrutan mahasiswa menjadi operator drone ini menuai sejumlah protes dari kalangan orangtua. Sebab, beberapa orangtua menyebut anaknya dipaksa menandatangani kontrak anggota militer. Padahal, anak mereka tidak bersedia menjadi operator drone untuk militer Rusia.
Namun, laporan tersebut dibantah oleh Kementerian Pertahanan dan Kementerian Sains dan Pendidikan Tinggi Rusia. Mereka menyebut tidak ada paksaan apa pun dalam program perekrutan mahasiswa menjadi operator drone. Sebab, tawaran tersebut bersifat volunteer. Artinya, hanya bagi mahasiswa yang bersedia saja yang boleh ikut.



















