Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Serangan Drone Hantam PLTN Barakah, UEA Salahkan Iran

Serangan Drone Hantam PLTN Barakah, UEA Salahkan Iran
ilustrasi pembangkit listrik tenaga nuklir. (unsplash.com/Nicolas HIPPERT)
Intinya Sih
  • Tiga drone menyerang wilayah udara UEA, satu menghantam generator PLTN Barakah dan memicu kebakaran tanpa korban jiwa atau kebocoran radiasi.
  • Pemerintah UEA menuding Iran atau proksinya sebagai dalang serangan, menyebutnya pelanggaran hukum internasional dan mendapat kecaman dari negara tetangga.
  • Insiden terjadi di tengah rapuhnya gencatan senjata AS-Iran, memperburuk ketegangan kawasan serta mengancam stabilitas keamanan Timur Tengah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Sebuah serangan pesawat nirawak atau drone memicu kebakaran di fasilitas pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) milik Uni Emirat Arab (UEA) pada Minggu (17/5/2026). Insiden tersebut dikhawatirkan akan meningkatkan ketegangan di kawasan di tengah konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran.

Otoritas setempat menyalahkan Iran atau kelompok proksinya atas insiden tersebut. Mereka memastikan tidak ada korban jiwa maupun kebocoran radiasi akibat serangan itu.

1. Drone hantam generator PLTN

ilustrasi serangan drone Shahed-136 buatan Iran
ilustrasi serangan drone Shahed-136 buatan Iran (Khamenei.ir, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Kementerian Pertahanan UEA melaporkan ada tiga drone yang memasuki wilayah udara mereka dari arah perbatasan barat. Pertahanan udara UEA berhasil menembak jatuh dua unit, tetapi drone ketiga lolos dan menghantam sebuah generator listrik.

Generator yang terbakar itu berada di luar batas perimeter dalam PLTN Barakah yang terletak di wilayah Al Dhafra. Fasilitas nuklir bernilai miliaran dolar AS ini berjarak sekitar 225 kilometer dari ibu kota Abu Dhabi.

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengonfirmasi bahwa insiden tersebut memaksa satu reaktor nuklir menggunakan generator diesel darurat untuk sementara waktu. Namun, pihak berwenang memastikan operasi PLTN itu tetap berjalan normal.

"Aktivitas militer apa pun yang mengancam keselamatan fasilitas nuklir sama sekali tidak dapat diterima. Kami meminta semua pihak untuk menahan diri guna menghindari bahaya kecelakaan nuklir," ujar direktur IAEA, Rafael Grossi, dilansir Euronews.

2. UEA sebut serangan sebagai pelanggaran hukum internasional

bendera Uni Emirat Arab
bendera Uni Emirat Arab (unsplash.com/Saj Shafique)

Pemerintah UEA mengecam serangan ini dan menyebutnya sebagai eskalasi yang berbahaya. Menurut Kementerian Luar Negeri UEA, serangan semacam itu merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional.

Pejabat senior UEA, Anwar Gargash, menuding Iran atau milisi sokongannya sebagai dalang di balik serangan tersebut. Ia menilai para pelaku sengaja mengabaikan keselamatan warga sipil di sekitar PLTN.

"Serangan teroris terhadap PLTN Barakah ini adalah eskalasi yang sangat berbahaya. Tindakan ini merupakan pemandangan kelam yang melanggar semua norma internasional," tutur Gargash, dilansir The Guardian.

Para pemimpin negara tetangga, termasuk Arab Saudi dan Qatar, turut mengutuk serangan tersebut. Mereka khawatir insiden ini akan mengancam stabilitas keamanan di Timur Tengah.

3. Gencatan senjata di Iran semakin rapuh

ilustrasi bendera Iran. (unsplash.com/sina drakhshani)
ilustrasi bendera Iran. (unsplash.com/sina drakhshani)

Serangan terhadap PLTN Barakah terjadi saat gencatan senjata antara AS dan Iran semakin rapuh. UEA sendiri telah menjadi target serangan Iran sejak perang pecah pada akhir Februari lalu.

Negosiasi perdamaian saat ini mengalami kebuntuan karena kedua pihak masih belum dapat menerima tuntutan satu sama lain. Situasi ini memperburuk krisis pelayaran karena Selat Hormuz masih tertutup bagi lalu lintas kapal internasional.

Israel dan AS dilaporkan sedang mematangkan persiapan untuk segera melanjutkan serangan udara gabungan mereka. Beberapa pejabat militer meyakini pertempuran akan kembali pecah jika jalur diplomasi tidak membuahkan hasil pasti.

"Bagi Iran, waktu terus berjalan, dan mereka sebaiknya segera bertindak, SECEPATNYA, atau tidak akan ada yang tersisa dari mereka," kata Presiden AS Donald Trump, dilansir New York Post.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More