Angka Kelahiran Italia Turun ke Rekor Terendah sejak Perang Dunia II

- Italia mencatat sekitar 355 ribu kelahiran pada 2025, turun hampir 4 persen, dengan tingkat kesuburan 1,14 anak per perempuan—terendah sejak Perang Dunia II.
- Ketidakpastian kerja, biaya hidup tinggi, dampak terhadap karier perempuan, dan minimnya penitipan anak membuat banyak pasangan menunda memiliki anak.
- Populasi Italia bertahan sekitar 58,9 juta jiwa pada 2025 berkat 440.000 imigran, yang mengimbangi penurunan alami penduduk dan penuaan populasi.
Jakarta, IDN Times - Italia mencatat angka kelahiran terendah sejak berakhirnya Perang Dunia II setelah jumlah bayi yang lahir sepanjang 2025 kembali menurun. Laporan yang dipublikasikan pada Selasa (28/7/2026) menunjukkan penurunan populasi masih menjadi tantangan demografi utama di negara tersebut.
Laporan Badan Statistik Nasional Italia (Istat) bersama Yayasan Kelahiran menyebut ketidakpastian ekonomi, tingginya biaya hidup, dan minimnya fasilitas pendukung keluarga menjadi penyebab utama banyak pasangan menunda memiliki anak.
1. Penurunan tingkat kesuburan dan angka kelahiran

Jumlah kelahiran di Italia pada 2025 tercatat sekitar 355 ribu bayi, turun hampir 4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Tingkat kesuburan juga merosot menjadi rata-rata 1,14 anak per perempuan.
Angka tersebut berada jauh di bawah ambang penggantian populasi sebesar 2,1 anak per perempuan, yang dibutuhkan untuk menjaga stabilitas jumlah penduduk tanpa bergantung pada imigrasi.
"Keinginan untuk memiliki anak tetap ada, tetapi sering kali terhalang oleh ketidakpastian pekerjaan, tingginya biaya hidup, serta fasilitas pendukung yang kurang memadai," kata tim peneliti Istat, dilansir Times of India.
Laporan tersebut menegaskan bahwa hambatan ekonomi dan sosial menjadi faktor utama yang menyulitkan pasangan dalam membangun keluarga.
2. Tekanan ekonomi pengaruhi keputusan memiliki anak

Biaya hidup yang tinggi membuat banyak pasangan khawatir kehadiran anak akan memperberat keuangan mereka. Selain itu, pekerja perempuan mengkhawatirkan dampak kehamilan terhadap karier dan tingkat pendapatan.
Keterbatasan fasilitas pendukung, seperti tempat penitipan anak, turut menyulitkan para orang tua dalam membagi waktu antara pekerjaan dan pengasuhan. "Tanpa adanya layanan pendukung keluarga, perempuan terpaksa berhenti bekerja bukan karena keinginan sendiri, melainkan karena ketiadaan pilihan," ujar tim penyusun laporan demografi.
Laporan itu menambahkan bahwa angka kelahiran berpotensi meningkat apabila pasangan yang ingin memiliki anak tidak terhalang kendala ekonomi dan sosial.
3. Peran imigrasi dalam menjaga stabilitas populasi

Meski angka kelahiran terus merosot, total populasi Italia bertahan di angka sekitar 58,9 juta jiwa pada 2025. Jumlah ini terjaga berkat kedatangan sekitar 440.000 imigran.
Istat menyatakan bahwa migrasi masuk menjadi faktor kunci yang membantu menyeimbangkan penurunan populasi akibat tingginya angka kematian dibandingkan angka kelahiran.
"Tingginya angka migrasi masuk menjadi satu-satunya faktor yang dapat mengimbangi penurunan alami populasi serta laju penuaan penduduk di Italia," tegas pihak Badan Statistik Nasional Italia.

















