Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

PBB Peringatkan Lonjakan Perdagangan Manusia di Asia

PBB Peringatkan Lonjakan Perdagangan Manusia di Asia
Ilustrasi bendera PBB (magnific.com/recstockfootage)
Intinya Sih
  • IOM memperingatkan lonjakan perdagangan manusia terkait kompleks penipuan siber Asia Tenggara, dengan ribuan korban dari lebih 80 negara direkrut melalui lowongan kerja palsu di media sosial.
  • Korban di Myanmar, Kamboja, dan Laos dipaksa menjalankan penipuan daring setelah dokumen disita; banyak mengalami kekerasan, ancaman, pelecehan seksual, serta trauma psikologis.
  • IOM mendesak kerja sama internasional untuk penegakan hukum, pemulangan aman, reintegrasi penyintas, pengawasan daerah konflik, dan edukasi publik terkait modus lowongan kerja palsu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) memperingatkan peningkatan kasus perdagangan manusia yang terhubung dengan kompleks penipuan siber di Asia Tenggara, pada Selasa (28/7/2026). Ribuan orang dari puluhan negara dilaporkan menjadi korban modus lowongan kerja palsu sebelum dipaksa bekerja untuk sindikat kejahatan.

IOM mendesak pemerintah di berbagai negara untuk memperkuat kerja sama penegakan hukum, perlindungan korban, dan pencegahan kejahatan. Perkembangan teknologi digital dinilai semakin memperluas jangkauan sindikat lintas negara ini.

1. Modus perekrutan melalui iklan lowongan kerja palsu

ilustrasi cara menghindari online scam Kamboja
ilustrasi cara menghindari online scam Kamboja (pexels.com/John Tekeridis)

IOM menyebut sindikat memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan tawaran kerja berimbalan gaji tinggi. Modus ini mengincar para pencari kerja dari berbagai negara, termasuk lulusan perguruan tinggi yang mahir berbahasa Inggris.

Para korban tercatat berasal dari lebih dari 80 negara. Setibanya di lokasi tujuan, paspor dan dokumen identitas mereka disita sehingga tidak dapat melarikan diri.

"Pusat jaringan ini berada di Asia, namun pemanfaatan media sosial membuat jangkauan mereka meluas secara signifikan," kata Direktur Jenderal IOM, Amy Pope, dilansir DW.

IOM menilai penggunaan platform digital telah mempercepat penyebaran praktik perdagangan manusia berbasis penipuan siber.

2. Korban dipaksa jalankan penipuan di kompleks tertutup

ilustrasi perdagangan manusia (unsplash.com/hasanalmasi)
ilustrasi perdagangan manusia (unsplash.com/hasanalmasi)

Menurut IOM, kompleks penipuan siber berskala besar beroperasi di sejumlah wilayah Myanmar, Kamboja, dan Laos. Fasilitas tertutup ini diperkirakan mempekerjakan hingga 300 ribu orang yang menjadi korban perdagangan manusia.

Para korban dipaksa menjalankan penipuan daring yang menyasar warga di berbagai negara. Sejumlah penyintas mengaku mengalami kekerasan fisik, ancaman, hingga pelecehan seksual selama berada di lokasi tersebut.

"Warga yang terjebak di dalam kompleks penipuan merupakan korban perdagangan orang. Mereka dipaksa melakukan kejahatan melalui kekerasan, ancaman, dan tekanan," ujar Amy Pope.

IOM menambahkan, banyak penyintas mengalami trauma psikologis parah dan kesulitan kembali ke negara asal meski telah berhasil meloloskan diri.

3. Desakan kerja sama internasional untuk memberantas sindikat

Demonstrasi memprotes perdagangan manusia.
ilustrasi demonstrasi memprotes perdagangan manusia (unsplash.com/Hermes Rivera)

IOM meminta setiap pemerintah meningkatkan koordinasi antarnegara untuk membongkar jaringan kejahatan dan melindungi para korban. Upaya ini mencakup tindakan hukum, pemulangan aman, serta program reintegrasi bagi para penyintas.

Lembaga tersebut mengapresiasi operasi penertiban yang telah dilakukan sejumlah negara, termasuk Thailand. Namun, lemahnya pengawasan di daerah konflik masih menjadi kendala utama dalam pemberantasan sindikat.

"Kita harus bekerja sama untuk mendampingi penyintas, menghentikan pelaku perdagangan orang, dan menutup celah yang dimanfaatkan jaringan kriminal ini," tegas Amy Pope.

Selain penegakan hukum, IOM menekankan pentingnya edukasi publik mengenai modus lowongan kerja palsu guna mencegah munculnya korban baru.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More