Tambang Emas Ilegal di Afrika Tengah Longsor, 100 Orang Tewas

- Longsor di tambang emas tradisional Zamboye, Republik Afrika Tengah, menewaskan lebih dari 100 orang setelah terowongan bawah tanah runtuh dan mengubur ratusan pekerja.
- Evakuasi korban berlangsung sulit karena timbunan lumpur tebal; warga menggali manual dibantu alat berat, sementara puluhan pekerja masih hilang dan jumlah korban diperkirakan bertambah.
- Tambang liar tanpa standar keselamatan marak akibat pengangguran. Tragedi Zamboye melanjutkan rangkaian kecelakaan tambang fatal, dengan sedikitnya 40 pekerja tewas sebelum insiden ini sepanjang tahun.
Jakarta, IDN Times - Lebih dari 100 orang tewas setelah sebuah tambang emas tradisional runtuh di Republik Afrika Tengah pada Selasa (18/8/2026). Peristiwa tanah longsor ini terjadi di desa Zamboye yang berada di dekat perbatasan dengan Kamerun.
Otoritas setempat memperkirakan jumlah korban jiwa masih akan bertambah karena puluhan pekerja lainnya masih belum ditemukan. Para korban yang tertimbun diketahui merupakan warga negara Republik Afrika Tengah dan Kamerun.
1. Longsor dipicu runtuhnya terowongan tambang

ilustrasi tambang (unsplash.com/Team Kiesel) Insiden ini melanda lokasi penambangan Zamboye sekitar tengah hari waktu setempat. Lokasi tambang emas tersebut berjarak sekitar 50 kilometer dari kota Baboua. Dinding tanah di area tambang mendadak runtuh dan menyapu ratusan pekerja tambang yang berada di dasar galian.
Kantor Kejaksaan Baboua menyatakan bahwa longsor dipicu oleh runtuhnya beberapa terowongan bawah tanah tempat para penambang bekerja. Pihak berwenang telah membuka penyelidikan untuk mengetahui penyebab pasti bencana dan mengusut pihak pengelola tambang liar tersebut.
"Tanah benar-benar runtuh dan mengubur orang-orang. Saat ini korban lain masih tertimbun di bawah sana," ujar Cedric Mbango, salah satu pekerja tambang di lokasi kejadian, dilansir BBC.
2. Evakuasi berjalan sulit di tengah timbunan lumpur
Upaya evakuasi berlangsung dramatis sejak hari pertama bencana terjadi. Para penambang dan warga sekitar berusaha menggali timbunan lumpur tebal secara manual untuk mencari korban yang masih hidup.
Alat berat seperti traktor turut dikerahkan ke lokasi demi mempercepat penggalian tanah. Namun, penggunaan mesin berat juga dikhawatirkan dapat membahayakan keselamatan korban yang kemungkinan masih bertahan hidup di bawah timbunan longsor.
"Menemukan mereka dalam keadaan hidup akan menjadi sebuah keajaiban. Kami sangat terpukul melihat para pemuda tewas saat berusaha menyelamatkan keluarga dari keputusasaan," tutur Bertrand Be Yangue, anggota dewan pemuda Zamboye, dilansir Al Jazeera.
Pemerintah wilayah timur Kamerun berkoordinasi dengan otoritas Republik Afrika Tengah untuk menangani dampak bencana ini. Sedikitnya tiga hingga empat jenazah warga Kamerun telah dipulangkan ke negara asalnya untuk dimakamkan.
3. Praktik tambang liar picu deretan insiden di Afrika Tengah
Aktivitas tambang emas tradisional berskala kecil telah berkembang pesat di Republik Afrika Tengah selama beberapa tahun terakhir. Tingginya angka pengangguran memaksa ribuan warga bekerja di tambang-tambang liar demi memenuhi kebutuhan hidup.
Sebagian besar lokasi tambang rakyat tersebut beroperasi tanpa izin resmi dari pemerintah. Pengelola tambang kerap mengabaikan standar keselamatan kerja dan membiarkan lubang galian terbuka hingga tanah menjadi rapuh.
Tragedi di Zamboye menambah panjang deretan kecelakaan fatal di sektor pertambangan negara tersebut. Pada Juni lalu, puluhan penambang tewas akibat runtuhnya tambang emas Be-Mbari yang juga berlokasi di dekat perbatasan Kamerun.
Insiden serupa merenggut 20 korban jiwa di Gordi pada Februari dan menewaskan tujuh orang di desa Ngourroum pada Maret. Sedikitnya 40 pekerja tambang tercatat tewas dalam berbagai kecelakaan tambang di Republik Afrika Tengah sepanjang tahun ini sebelum peristiwa di Zamboye terjadi.





















