Spanyol Berencana Pindahkan 500 Anak Migran dari Ceuta

- Pemerintah Spanyol berencana memindahkan sekitar 500 anak migran paling rentan dari Ceuta ke daratan utama, untuk ditempatkan di bawah perlindungan organisasi anak, keluarga asuh, atau kerabat.
- Rencana ini ditolak PP, Vox, dan pemerintah Ceuta yang menuntut pemulangan migran ilegal ke Maroko; Menteri Sira Rego menegaskan pemulangan anak harus sukarela serta terlindungi.
- Ceuta menampung sekitar 1.350 anak dengan kapasitas perlindungan melampaui 4.600 persen; UNICEF menyoroti kondisi tak layak, sementara Madrid menyalurkan 25 juta euro untuk respons darurat.
Jakarta, IDN Times – Pemerintah Spanyol berencana memindahkan sekitar 500 anak migran dari Ceuta ke wilayah daratan utama setelah gelombang migrasi besar-besaran dari Maroko pada 30 Juli lalu. Pada Rabu (19/8/2026), Kementerian Pemuda dan Anak menyebut angka tersebut merupakan jumlah sementara dan mencakup anak-anak yang dinilai paling rentan.
Dilansir The Guardian, sebagian besar dari sekitar 70 ribu orang yang menyeberang ke Ceuta pada Juli telah kembali ke Maroko. Namun, berdasarkan hukum Spanyol, pemerintah tetap memiliki kewajiban untuk memberikan perlindungan kepada migran di bawah umur yang datang tanpa pendamping hingga mereka berusia 18 tahun.
Menteri Migrasi Spanyol, Elma Saiz, mengatakan anak-anak tersebut nantinya akan berada di bawah pengawasan organisasi perlindungan anak di daratan utama. Mereka akan didistribusikan ke berbagai wilayah otonom negara tersebut, ditempatkan dalam pengasuhan keluarga, atau dipertemukan kembali dengan kerabat.
1. Rencana pemindahan ditentang keras oleh partai oposisi

ilustrasi bendera Spanyol (unsplash.com/Daniel Prado) Rencana pemindahan anak-anak migran dari Ceuta mendapat penolakan keras dari Partai Rakyat (PP). Pejabat PP, Elias Bendodo, menegaskan bahwa semua orang yang masuk secara ilegal harus dikembalikan ke Maroko, termasuk orang dewasa dan anak di bawah umur.
PP juga mempertanyakan apakah pemerintah benar-benar bertindak demi kepentingan terbaik anak-anak tersebut. Partai oposisi itu menyerukan agar pemerintah mematuhi kesepakatan bilateral dengan Rabat pada 2007 serta Arahan Pemulangan Uni Eropa, serta menyoroti bahwa Maroko termasuk dalam daftar negara aman Uni Eropa.
Penolakan serupa turut disuarakan oleh pemimpin partai sayap kanan Vox, Santiago Abascal. Dia menolak penggunaan anggaran Spanyol untuk menangani para migran yang masuk secara ilegal dan menyebut kebijakan tersebut berkaitan dengan persoalan migrasi serta perdagangan manusia.
Menteri Pemuda dan Anak, Sira Rego, menuduh PP mengikuti posisi Vox yang dinilainya rasis seraya menolak wacana deportasi terhadap anak-anak tersebut. Menurut Rego, pemulangan harus dilakukan secara sukarela dan disertai perlindungan yang memadai.
2. Pemerintah Ceuta bantah telah memberi persetujuan

Presiden Spanyol, Pedro Sánchez, bersama perwakilan Pasukan dan Korps Keamanan Negara di perbatasan Tarajal, Ceuta. (Ministry of the Presidency. Government of Spain, via Wikimedia Commons) Pemerintah Ceuta membantah bahwa pihaknya telah memberikan persetujuan terhadap rencana pemindahan tersebut. Pemerintahan yang dipimpin oleh Juan Jesús Vivas menegaskan bahwa tuntutannya tetap sama, yakni seluruh migran yang masuk secara ilegal harus dikembalikan ke Maroko.
Wilayah kantong di Afrika Utara itu meminta Maroko mengambil tanggung jawab atas seluruh orang yang masuk secara tidak teratur selama gelombang migrasi, termasuk anak-anak di bawah umur. Pihaknya mengatakan bahwa opsi lain baru dapat dipertimbangkan apabila mekanisme tersebut tidak dapat dilakukan.
Gelombang migrasi membuat sistem perlindungan anak di Ceuta mengalami tekanan ekstrem. Pemerintah setempat mengatakan kapasitas perlindungan anak telah mencapai lebih dari 4.600 persen dari kapasitas normal. Madrid hanya mengalokasikan 29 tempat penerimaan anak migran, sementara saat ini sekitar 1.350 anak berada di berbagai tempat penampungan di wilayah tersebut.
3. Ratusan anak migran hadapi kondisi tak layak di Ceuta

ilustrasi anak-anak (pexels.com/Khaled Akacha) Badan anak-anak PBB, UNICEF, memperingatkan bahwa ratusan anak migran di Ceuta menghadapi kondisi yang tidak layak. Juan Jesús Vivas mengatakan bahwa setidaknya 100 orang tewas dalam gelombang penyeberangan pada Juli. Sebagian korban dilaporkan tewas karena tenggelam atau terhimpit oleh pemecah ombak saat berusaha berenang menuju wilayah kantong tersebut.
Dikutip dari Euronews, Saiz mengatakan bahwa Madrid tengah menangani situasi tersebut bersama pemerintah Ceuta dan berbagai wilayah otonom Spanyol. Dia memastikan kepentingan terbaik anak tetap menjadi prioritas.
Pejabat itu juga mengatakan anak-anak perempuan yang datang tanpa pendamping telah ditempatkan bersama di area aman di Ceuta untuk mencegah kekerasan seksual. Langkah tersebut diambil setelah sejumlah laporan pemerkosaan muncul dalam beberapa hari terakhir.
Pemerintah Spanyol menyatakan akan terus menangani situasi tersebut dengan mengacu pada hukum yang berlaku. Madrid juga telah memberikan 25 juta euro (setara Rp519 miliar) kepada Ceuta untuk membantu wilayah tersebut menghadapi kondisi darurat akibat lonjakan migran.




















