Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Topan Bavi Hantam Taiwan, Jepang dan China

Topan Bavi Hantam Taiwan, Jepang dan China
ilustrasi badai (pexels.com/Ludvig Hedenborg)
Intinya Sih
  • Topan Bavi menerjang Taiwan, Jepang, dan China, memicu evakuasi hampir dua juta warga serta menyebabkan puluhan ribu rumah kehilangan listrik akibat cuaca ekstrem dan banjir besar.
  • Pemerintah di berbagai wilayah seperti Zhejiang, Fujian, Shanghai, dan Beijing melakukan evakuasi massal serta menghentikan aktivitas publik untuk mengurangi risiko korban jiwa dan kerusakan.
  • Dampak topan memperburuk pemulihan pasca Topan Maysak di China selatan, sementara suhu laut hangat dan fenomena El Niño disebut memperkuat intensitas badai tropis di kawasan Asia Timur.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times – Topan Bavi memicu gangguan besar di Asia Timur setelah menerjang Taiwan bagian utara, pulau-pulau terpencil di barat daya Jepang, serta wilayah pesisir China pada Sabtu (11/7/2026). Hampir dua juta warga di China harus dievakuasi, sementara puluhan ribu rumah kehilangan aliran listrik akibat pohon tumbang. Cuaca ekstrem yang melanda selama sepekan terakhir juga menyebabkan sedikitnya 39 orang meninggal dunia di China bagian selatan dan tengah akibat luapan sungai serta bendungan waduk yang jebol.

Data mitigasi bencana regional menurut laporan BBC menunjukkan Topan Bavi pertama kali mendarat di kota pesisir Taizhou sebelum bergerak dan membuat pendaratan kedua di Wenzhou menjelang tengah malam.

Pemerintah Provinsi Zhejiang mengevakuasi lebih dari 1,7 juta penduduk sebelum badai mencapai daratan pada Minggu dini hari serta menghentikan seluruh aktivitas luar ruangan, transportasi, kegiatan kerja, dan proses belajar mengajar guna mengurangi risiko.

1. Pemerintah memperluas evakuasi di sejumlah wilayah

ilustrasi banjir
ilustrasi banjir (pexels.com/Sveta K)

Di Wenzhou yang dihuni hampir 10 juta penduduk, pemerintah daerah mengerahkan berbagai langkah antisipasi menghadapi kemungkinan dampak terburuk. Warga memperkuat penutup kayu di toko serta melapisi kaca jendela karena prakiraan hujan ekstrem di Zhejiang bagian timur dan Fujian bagian timur laut. Evakuasi juga dilakukan terhadap lebih dari 100 ribu warga di wilayah utara akibat hujan deras, lebih dari 130 ribu orang di Fujian, serta sekitar 34 ribu penduduk dari kawasan pesisir Shanghai yang berisiko tinggi.

Pemerintah Kota Beijing juga memerintahkan evakuasi terhadap 100 ribu warga untuk mengurangi risiko banjir dengan meningkatkan pelepasan air dari Waduk Miyun. Di Taiwan bagian utara, jalanan di kota pelabuhan Keelung tampak lengang selama dua hari setelah lebih dari 14 ribu orang dievakuasi, ratusan penerbangan dibatalkan, dan lebih dari 170 ribu rumah mengalami pemadaman listrik.

Respons warga pun beragam di tengah kondisi tersebut. Tsai (50), seorang pemilik warung sarapan di Keelung, mengungkapkan alasannya tetap membuka toko.

"Semua orang takut dengan cuaca buruk dan tinggal di dalam rumah, tetapi saya hanya keluar karena ada pesanan. Beberapa orang sedang bertugas dan tidak punya apa-apa untuk dimakan, jadi saya masih perlu mengantarkan makanan kepada mereka," ujarnya, kepada AFP, dikutip CNA.

2. Warga menggambarkan dampak badai di lapangan

ilustrasi pohon tumbang di jalan
ilustrasi pohon tumbang di jalan (pexels.com/Jimmy Liao)

Kondisi di dalam area terdampak langsung digambarkan secara visual oleh warga setempat. Li Liangxing, seorang warga Wenzhou, mengungkapkan situasi mencekam saat badai melintas.

“Kami bisa mendengar genteng atap dan dahan pohon jatuh. Tentu saja kami ketakutan,” katanya, dikutip BBC.

Pemantauan meteorologi mencatat topan yang sebelumnya berkategori topan super itu sempat menerjang Guam dan Kepulauan Mariana Utara dengan kecepatan angin mencapai 290 kilometer per jam (km/jam). Intensitasnya kemudian melemah menjadi kecepatan angin rata-rata maksimum 137 km/jam dengan hembusan hingga 173 km/jam saat melintasi Taiwan.

Administrasi Cuaca Pusat Taiwan (CWA) memperingatkan potensi hujan sangat lebat di wilayah utara serta gelombang setinggi hingga 10 meter. Dampaknya juga dirasakan di Jepang setelah otoritas Okinawa melaporkan lebih dari 18 ribu rumah dan fasilitas di kawasan Miyako kehilangan listrik. Selanjutnya, puluhan penerbangan dibatalkan sehingga memengaruhi lebih dari 26 ribu penumpang. Sementara itu di Filipina, korban jiwa akibat tanah longsor dan insiden terkait yang dipicu hujan lebat Topan Bavi mencapai 18 orang yang sebagian besar berada di Mindanao, dengan hampir 11 ribu warga mengungsi.

3. Krisis memperberat pemulihan wilayah terdampak

ilustrasi dampak bencana alam
ilustrasi dampak bencana alam (pexels.com/Алесь Усцінаў)

Kondisi ini memperburuk proses pemulihan di wilayah selatan China setelah sebelumnya diterjang Topan Maysak yang menyebabkan kerugian besar pada sektor pertanian serta memicu dua puting beliung langka di Provinsi Hubei. Para pakar iklim menjelaskan suhu laut yang lebih hangat bersama kembalinya fenomena El Niño menjadi faktor yang mendukung kondisi atmosfer tersebut sehingga badai tropis membawa lebih banyak kelembapan dan menghasilkan curah hujan yang jauh lebih deras.

Di sisi lain, beberapa warga Taiwan merasa frustrasi dengan peringatan dari pemerintah yang membuat bisnis tutup. Meski begitu, para pekerja muda tetap bersiap menghadapi situasi di lapangan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella

Related Articles

See More