Menurut WSJ, Trump sudah memberitahu rencana tersebut kepada ajudan seniornya beberapa waktu lalu. Namun, jika AS berhasil meminta Iran menghentikan program senjata nuklir dan mengambil alih kontrol di Selat Hormuz, Trump hanya akan memperpanjang gencatan senjata dengan Iran, tidak mengakhiri perang secara keseluruhan.
Trump Pertimbangkan Akhiri Perang Iran Tanpa Kesepakatan Nuklir

- Donald Trump mempertimbangkan mengakhiri perang dengan Iran tanpa kesepakatan penghentian program senjata nuklir, menurut laporan Wall Street Journal yang mengutip pejabat AS anonim.
- Trump menilai fasilitas nuklir Iran telah rusak akibat serangan AS pada Juni 2025, tetapi intelijen dan citra satelit menunjukkan Iran berupaya merekonstruksi infrastruktur nuklirnya.
- AS dan Iran masih bernegosiasi tidak langsung melalui mediator. Trump mengklaim kesepakatan segera tercapai, sementara IRGC menyatakan perlawanan dan penutupan Selat Hormuz akan berlanjut.
Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, dikabarkan sedang mempertimbangkan untuk mengakhiri perang dengan Iran meski tanpa kesepakatan penghentian program senjata nuklir mereka. Kabar itu pertama kali disampaikan oleh Wall Street Journal (WSJ) berdasarkan keterangan sejumlah pejabat AS anonim pada Minggu (9/8/2026).
1. Trump menyebut Iran sudah tidak bisa mengembangkan senjata nuklir

potret bendera Iran (pexels.com/Engin Akyurt) Trump menilai Iran saat ini sudah tidak bisa lagi mengembangkan senjata nuklirnya. Hal ini karena sebagian besar fasilitas nuklir mereka sudah rusak parah akibat serangan AS pada Juni 2025 lalu. Ketika itu, Negeri Paman Sam meluncurkan operasi militer bertajuk Operation Midnight Hammer dengan menyerang sejumlah infrastruktur vital di Iran, termasuk infrastruktur nuklir.
Oleh karena itu, Trump menilai dirinya tidak perlu repot-repot mendesak Iran untuk menghentikan program senjata nuklirnya agar perang segera berakhir. Sebab, tanpa kesepakatan tersebut pun Iran sudah tidak bisa mengembangkan senjata nuklirnya akibat serangan Washington pada tahun lalu.
2. Intelijen AS menyebut Iran sedang berupaya merekonstruksi fasilitas nuklirnya

ilustrasi situs nuklir (unsplash.com/Energie-portal.sk) Namun, klaim Trump tadi bertentangan dengan sejumlah laporan intelijen AS. Sebab, intelijen AS melaporkan bahwa Iran kini sedang berupaya membangun kembali semua fasilitas nuklirnya yang rusak parah akibat serangan AS pada Juni 2025 lalu. Oleh karena itu, Iran berpotensi melanjutkan program pengembangan senjata nuklirnya jika seluruh infrastruktur nuklir mereka selesai direkonstruksi.
Berdasarkan foto citra satelit yang dirilis CNN pada 12 Juli, terlihat ada sejumlah aktivitas konstruksi di fasilitas nuklir Iran yang ada di Parchin. Aktivitas itu terekam pada 22 Juni. Citra satelit tersebut juga menunjukkan ada aktivitas konstruksi yang dilakukan di situs rudal Iran yang ada di daerah tersebut. Dua citra satelit ini menunjukkan bahwa laporan intelijen AS kemungkinan benar. Sebab, Iran memang sedang merekonstruksi semua infrastruktur nuklirnya yang hancur sehingga program pengembangan senjata nuklir mereka bisa berlanjut.
3. AS dan Iran masih bernegosiasi untuk mengakhiri perang

ilustrasi negosiasi (pexels.com/Monstera Production) Saat ini, AS dan Iran sebetulnya masih bernegosiasi untuk mengakhiri perang. Namun, negosiasi tersebut tidak dilaksanakan secara langsung. Sebab, delegasi AS dan Iran hanya bertukar pesan saja melalui mediator untuk melangsungkan perundingan.
Pekan lalu, Trump mengklaim bahwa AS akan segera meraih kesepakatan dengan Iran dan perang akan segera berakhir. Sebab, menurutnya, Teheran kini sudah tidak bisa melanjutkan perang dengan Washington karena kekuatan militer mereka sudah habis. Kendati demikian, klaim tersebut dibantah oleh Iran. Dilansir Jerusalem Post, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengatakan akan terus melakukan perlawanan dan tetap menutup Selat Hormuz sampai AS “Mau mengubah sikapnya”.





















