Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Trump Sebut NATO Macan Kertas dan Isyaratkan Keluar, Ngambek?

Trump Sebut NATO Macan Kertas dan Isyaratkan Keluar, Ngambek?
Bendera NATO (Photo: Sergeant Paul Shaw LBIPP (Army)/MOD, OGL v1.0OGL v1.0, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Donald Trump menyebut NATO sebagai ‘macan kertas’ dan mengisyaratkan kemungkinan AS keluar dari aliansi tersebut karena meragukan relevansinya bagi kepentingan Amerika Serikat.
  • Kekecewaan Trump dipicu oleh sikap negara anggota NATO yang menolak membantu AS dalam konflik dengan Iran, memperlihatkan renggangnya solidaritas di antara sekutu lama itu.
  • Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan kebijakan luar negeri negaranya akan berlandaskan kepentingan nasional, bukan tekanan dari AS, sambil memperkuat kerja sama dengan Uni Eropa.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali melontarkan kritik keras terhadap Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Kali ini, ia bahkan menyebut aliansi militer tersebut sebagai ‘macan kertas’ dan memberi sinyal kuat untuk menarik AS keluar.

Pernyataan itu disampaikan Trump dalam wawancara dengan The Telegraph, di tengah kekecewaannya terhadap sikap negara-negara anggota NATO yang dianggap tidak membantu AS dalam konflik dengan Iran.

Ketegangan ini menandai babak baru dalam hubungan Washington dengan sekutu tradisionalnya. Isu solidaritas militer yang selama ini menjadi fondasi NATO kini dipertanyakan secara terbuka oleh pemimpin AS sendiri.

Di sisi lain, respons dari negara anggota menunjukkan arah berbeda. Inggris, misalnya, menegaskan tetap mengutamakan kepentingan nasional di tengah tekanan geopolitik yang meningkat.

1. Trump: NATO hanya ‘Macan Kertas’ yang tak berguna

Donald Trump sedang berada di pesawat Air Force One.
potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)

Dalam wawancara tersebut, Trump secara gamblang meragukan relevansi NATO bagi Amerika Serikat. Ia bahkan mengaku sejak awal tidak pernah benar-benar mempercayai kekuatan aliansi tersebut.

“Oh iya, saya akan katakan, sudah tidak perlu dipertimbangkan lagi. Saya tidak pernah terpengaruh NATO,” ujar Trump, dilansir CNN, Rabu (1/4/2026).

Ia kemudian melontarkan pernyataan yang lebih tajam dengan menyebut NATO sebagai kekuatan yang hanya terlihat besar dari luar.

“Saya selalu tahu mereka hanya macan kertas, dan Putin juga tahu itu,” katanya.

Istilah “macan kertas” sendiri merujuk pada sesuatu yang tampak kuat, namun sebenarnya lemah dan tidak efektif saat diuji dalam situasi nyata. Pernyataan ini sekaligus mempertegas sikap skeptis Trump terhadap NATO yang sebenarnya sudah ia suarakan sejak masa jabatan pertamanya.

2. Kecewa karena NATO tak bantu AS lawan Iran

Donald Trump sedang berpidato.
potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (flickr.com/Gage Skidmore via commons.wikimedia.org/Gage Skidmore)

Kekecewaan Trump terhadap NATO tidak lepas dari sikap negara-negara anggotanya dalam konflik dengan Iran. Sebelumnya, AS meminta dukungan militer, termasuk pengerahan kapal dan pasukan ke kawasan Selat Hormuz.

Namun, banyak negara anggota menolak permintaan tersebut. Penolakan ini memicu kemarahan Trump yang menilai NATO tidak menunjukkan solidaritas.

“Saya akan mengatakannya secara terbuka. Kami sangat kecewa dengan NATO, karena NATO sama sekali tidak melakukan apa pun,” kata Trump.

Ia bahkan menyindir secara langsung negara seperti Inggris dan Prancis melalui media sosial. Dalam unggahannya, Trump meminta kedua negara itu belajar apa arti berjuang dan mengambil minyak sendiri di Selat Hormuz.

Situasi ini memperlihatkan perbedaan kepentingan yang semakin nyata antara AS dan sekutunya di tengah konflik global.

3. Tanggapan Inggris soal ancaman Trump

Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, sedang berpidato.
potret Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer (flickr.com/Simon Dawson via commons.wikimedia.org/Simon Dawson)

Menanggapi tekanan dari Amerika Serikat, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan negaranya tidak akan mengambil keputusan berdasarkan tekanan eksternal.

Ia menyatakan, setiap kebijakan akan didasarkan pada kepentingan nasional Inggris.

“Tekanan apa pun terhadap saya dan yang lain, betapa pun bisingnya, saya akan bertindak demi kepentingan Inggris dalam keputusan yang saya buat,” ujar Starmer.

Selain itu, ia juga menyinggung pentingnya memperkuat hubungan dengan sekutu lain, terutama di tengah krisis energi yang dipicu konflik di Timur Tengah.

“Kami ingin lebih ambisius, kerja sama ekonomi yang lebih erat, kerja sama keamanan yang lebih erat, kemitraan yang mengakui nilai-nilai bersama, kepentingan bersama, dan masa depan bersama kita dengan Uni Eropa,” katanya.

Hal ini membuat negara-negara Eropa mulai menata ulang prioritas mereka, di tengah ketidakpastian arah kebijakan Amerika Serikat dan konflik dunia.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ilyas Listianto Mujib
EditorIlyas Listianto Mujib
Follow Us

Latest in News

See More