Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Wabah PMK, China Perketat Perbatasan dan Musnahkan Ternak

Wabah PMK, China Perketat Perbatasan dan Musnahkan Ternak
Sapi (commons.wikimedia.org/Daniel Schwen)
Intinya Sih
  • Pemerintah China memperketat perbatasan barat laut setelah virus PMK serotipe SAT1 asal Afrika terdeteksi menulari ratusan sapi di Gansu dan Xinjiang.
  • Ketiadaan vaksin efektif membuat pemerintah melakukan pemusnahan massal ternak serta mengizinkan penggunaan darurat dua vaksin baru untuk menekan penyebaran.
  • Wabah ini berpotensi mengguncang harga daging sapi domestik dan global karena penurunan populasi ternak serta ketegangan perdagangan antarnegara.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - China resmi memperketat penjagaan di perbatasan darat untuk menghentikan penyebaran Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Tindakan darurat dilakukan setelah virus dari luar negeri terbukti masuk ke dalam negeri, sehingga petugas harus segera memusnahkan ternak di wilayah yang terkena dampak parah (zona merah).

Kementerian Pertanian China melaporkan bahwa sejak akhir pekan lalu, telah dilakukan pembersihan dan penyemprotan disinfektan secara besar-besaran untuk menyelamatkan kawanan sapi. Kegiatan ini dipusatkan di wilayah barat laut, daerah yang paling berisiko karena sering menjadi tempat perdagangan internasional.

1. Penemuan virus baru dari Afrika di perbatasan China

Wabah PMK yang menyerang wilayah barat laut China dipastikan berasal dari jenis serotipe SAT1. Kementerian Pertanian mencatat virus ini sudah menulari 219 dari total 6.229 sapi di Provinsi Gansu dan Xinjiang.

Para ahli menyebutkan bahwa ini adalah kasus pertama di China, karena virus jenis ini biasanya hanya ada di Afrika. Pemerintah di Beijing menjelaskan bahwa virus ini masuk melalui jalur perbatasan barat laut yang berdekatan dengan Kazakhstan, Mongolia, dan Rusia.

"Wabah ini mengancam wilayah yang sangat luas. Saat ini, pemerintah daerah sedang bekerja sangat keras dan berada di bawah tekanan besar untuk mencegah penyebarannya," kata Rosa Wang, seorang analis dari Shanghai JC Intelligence Co, dilansir The Straits Times.

Secara teknis, virus serotipe SAT1 jauh lebih berbahaya dibandingkan jenis lain yang biasa ditemukan di Asia. Virus ini bisa menular sangat cepat melalui udara, sehingga mudah berpindah dari satu peternakan ke peternakan lainnya.

Kondisi di perbatasan semakin tegang setelah muncul kabar adanya wabah serupa di Siberia, Rusia. Meskipun Rusia membantah hal tersebut, China tetap memperketat patroli di jalur-jalur tikus untuk mencegah masuknya hewan selundupan yang membawa penyakit.

Sejak tahun 2025, virus ini terpantau menyebar dari Afrika menuju Timur Tengah dan Asia Barat. Akibatnya, pemerintah daerah di Xinjiang dan Gansu kini menutup sementara seluruh pasar hewan. Angka kematian sapi muda akibat virus ini bahkan bisa mencapai lebih dari 50 persen, yang membuat para peternak sangat khawatir.

2. Pemusnahan massal hewan ternak

Masalah utama yang dihadapi China saat ini adalah tidak adanya stok vaksin yang cocok. Vaksin yang ada sekarang hanya efektif untuk jenis virus lama, namun tidak mempan melawan jenis serotipe SAT1 dari Afrika.

Untuk mengatasinya, pemerintah China memberikan izin darurat bagi dua jenis vaksin baru buatan Zhongnong Weite Biotechnology Co., Ltd. Vaksin ini diharapkan sudah bisa dibagikan dalam waktu kurang dari sebulan untuk menekan penularan di Xinjiang dan Gansu.

Selain vaksinasi, pemerintah juga menjalankan aturan pemusnahan massal yang sangat ketat. Sapi yang terbukti sakit langsung dimusnahkan dan dikubur menggunakan cairan kimia khusus. Bahkan, hewan yang sehat di sekitar lokasi wabah juga ikut dimusnahkan agar virus tidak menyebar lebih jauh.

Pemerintah pusat sudah menyiapkan dana bantuan untuk peternak yang merugi. Namun, banyak peternak yang merasa cemas karena proses pencairan dana biasanya lama dan jumlah uang yang diterima sering kali lebih rendah dari harga jual sapi di pasar.

3. Wabah PMK akan berdampak pada harga daging sapi

Wabah virus baru ini terjadi di saat harga daging di China sedang merosot. Kondisi ini membuat keuntungan para peternak semakin menipis.

"Jika wabah ini tidak segera diatasi, harga sapi di tingkat peternak mungkin akan turun dulu karena kepanikan, namun setelah itu harga akan melonjak tinggi karena jumlah ternak yang tersedia semakin sedikit," ujar Xu HongZhi, seorang analis dari Beijing Orient Agribusiness Consultants.

Tantangan ini menjadi lebih sulit karena beberapa negara tetangga dianggap kurang terbuka dalam melaporkan kasus penyakit di wilayah mereka. Pengalaman buruk saat menghadapi wabah demam babi Afrika pada 2018 membuat pemerintah China bertindak jauh lebih tegas kali ini.

Sebagai salah satu pembeli daging sapi terbesar di dunia, gangguan produksi di China bisa memicu kenaikan harga daging secara global. Negara pengekspor seperti Brasil dan Australia kini terus mengawasi situasi di China untuk menyesuaikan pengiriman mereka.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Latest in News

See More