Jakarta, IDN Times - Ekonom INDEF sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Didik J Rachbini menilai Indonesia telah mencatat kemajuan ekonomi sejak krisis 1998. Namun, menurutnya, kemajuan tersebut belum membuat kesejahteraan masyarakat lebih adil dan setara dengan negara lain.
Dia mengatakan, tujuan Indonesia berdiri, sebagaimana tercantum dalam konstitusi, adalah memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Tujuan tersebut dinilai sejalan dengan tema HUT ke-81 RI, yakni "Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur", yang membawa filosofi kolektivitas, sinergi, dan pertumbuhan.
"Sudah ada kemajuan yang berarti dalam mencapai tujuan kesejahteraan umum tetapi masih jauh dari adil dan setara dengan negara-negara lain," kata Didik dalam keterangan tertulis, Sabtu (15/8/2026).
Didik mengingatkan perekonomian Indonesia sempat terpuruk pada 1998 dengan pendapatan sekitar 455 dolar AS per kapita. Kondisi tersebut kemudian berangsur pulih setelah transisi pemerintahan oleh Presiden BJ Habibie.
Menurutnya, nilai tukar rupiah yang sempat berada di kisaran Rp16.400 per dolar AS dapat distabilkan hingga sekitar Rp6.500 per dolar AS. Pada periode tersebut, pemerintah juga menerbitkan aturan mengenai independensi Bank Indonesia dan larangan praktik monopoli.
Selain itu, era Reformasi membuka ruang demokrasi, kebebasan pers berkembang, dan tahanan politik dibebaskan. Kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dan Presiden Megawati Soekarnoputri juga dinilai memberi kontribusi terhadap perkembangan ekonomi Indonesia.
Indonesia kemudian tumbuh menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia dan bergabung dalam kelompok G20 dengan pendapatan per kapita sekitar 5 ribu dolar AS.
