Mengenal Crypto Winter, Ancaman Baru di Pasar Aset Digital

- Crypto Winter adalah periode penurunan harga koin utama dengan sentimen pasar negatif, ditandai dengan menurunnya percakapan kripto di media sosial dan berkurangnya pemberitaan dari media investasi.
- Siklus Bitcoin yang terjadi setiap empat tahun kerap diikuti kenaikan harga ke rekor tertinggi, kemudian disusul fase penurunan tajam, mempengaruhi altcoin lain. Halving terbaru terjadi April 2024.
- Investor perlu mengantisipasi potensi krisis dengan strategi matang: siapkan mental dan rencana jangka panjang, fokus pada aset utama, kurangi risiko, dan gunakan strategi dollar-cost averaging (DCA).
Pasar kripto, layaknya bursa saham, bergerak dalam siklus tertentu. Salah satu fase terberat adalah crypto winter, yaitu kondisi ketika harga aset digital anjlok selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun dan kepercayaan publik terhadap industri kripto ikut memudar.
Pada periode ini, banyak proyek kripto gagal bertahan karena minimnya pendanaan dan dukungan investor, sementara investor ritel cenderung panik menjual asetnya. Hanya pelaku dengan fondasi kuat dan strategi jangka panjang yang mampu melewati masa sulit ini.
Meski begitu, bagi sebagian investor berpengalaman, fase ini sering dipandang sebagai peluang emas untuk mengakumulasi aset dengan harga lebih murah, dengan harapan mendapatkan keuntungan besar ketika pasar kembali pulih dan siklus bullish berikutnya tiba.
1. Apa Itu Crypto Winter?

Dilansir dari Nasdaq, crypto winter dapat dipahami sebagai periode panjang penurunan harga koin utama yang disertai sentimen pasar negatif. Biasanya, kondisi ini ditandai dengan menurunnya percakapan kripto di media sosial serta berkurangnya pemberitaan dari media investasi.
Fenomena ini sering beriringan dengan gejolak ekonomi global atau kenaikan suku bunga. Contoh terdekat terjadi pada awal 2022 hingga kuartal III-2023. Saat itu, kebijakan The Fed yang menaikkan suku bunga memicu tekanan besar, diperparah dengan runtuhnya bursa kripto FTX di akhir 2022.
2. Siklus bitcoin dan dampaknya

Secara historis, halving Bitcoin yang terjadi setiap empat tahun kerap diikuti kenaikan harga ke rekor tertinggi, kemudian disusul fase penurunan tajam. Lonjakan sempat terjadi pada akhir 2013, Desember 2017, dan November 2021, sekitar 12–18 bulan setelah halving.
Bitcoin berperan penting karena menguasai lebih dari 50 persen kapitalisasi pasar kripto. Ketika harganya jatuh, dampaknya menyebar ke altcoin lain. Crypto winter terakhir membuat Bitcoin turun lebih dari 70 persen dari puncaknya pada 2021, Ethereum anjlok 74 persen, sementara Solana kehilangan sekitar 96 persen nilainya akibat efek domino FTX.
Halving terbaru terjadi April 2024. Jika pola sejarah berulang, potensi datangnya crypto winter berikutnya semakin dekat.
2. Strategi menghadapi crypto winter

Investor perlu mengantisipasi potensi krisis dengan strategi matang:
Siapkan mental dan rencana jangka panjang. Turunnya harga sering membuat investor panik, tetapi menjual saat rugi justru mengunci kerugian.
Fokus pada aset utama. Bitcoin, Ethereum, dan Solana terbukti pulih dari winter sebelumnya.
Kurangi risiko. Banyak altcoin akan “diskon besar-besaran”, tetapi hanya sebagian kecil yang mampu bangkit.
Gunakan strategi dollar-cost averaging (DCA). Membeli secara berkala dalam jumlah kecil dan menahan investasi dalam jangka panjang lebih efektif menghadapi volatilitas.
Crypto winter adalah siklus alami dalam industri aset digital. Meski penuh tantangan, fase ini juga membuka peluang besar bagi investor sabar yang memiliki strategi jelas. Menyiapkan portofolio secara konservatif, berfokus pada aset kripto berkualitas, serta mengelola risiko dengan disiplin menjadi kunci bertahan menghadapi musim dingin berikutnya.