Agar kebiasaan terus berlanjut, rutinitas perlu dibuat sesederhana mungkin.
Tetapkan satu waktu yang sama setiap minggu, misalnya Sabtu pagi, untuk melakukan pemeriksaan selama 10 menit. Anak dapat memeriksa tatakan pot, orang tua menguras dan menyikat bak, sementara anggota keluarga lain mengecek talang, halaman, dispenser, atau toren.
Gunakan urutan berikut:
Mulai dari kamar mandi, dapur, halaman, garasi, hingga area jemuran. Jangan hanya mencari wadah besar. Sedikit air dalam barang kecil tetap perlu diperiksa.
Buang air, lalu sikat dinding wadah, terutama di sekitar bekas garis permukaan air. Isi kembali hanya jika wadah masih dibutuhkan.
Toren, drum, ember cadangan, dan gentong perlu ditutup rapat. Wadah kosong dibalik agar tidak menampung air hujan.
Kaleng, botol, ban, wadah makanan, dan sampah plastik sebaiknya didaur ulang, dibuang dengan benar, atau disimpan di tempat terlindung.
Untuk wadah yang tidak dapat dikosongkan, konsultasikan penggunaan larvasida dengan puskesmas atau ikuti label produk secara tepat. Jangan menaburkan bahan kimia sembarangan, terutama pada air yang digunakan untuk minum atau memasak.
Pasang kasa jika memungkinkan, gunakan losion antinyamuk sesuai petunjuk, dan periksa area gelap. Perlindungan ini melengkapi 3M.
Hasil pemeriksaan dapat dicatat pada kalender atau dikirim ke grup keluarga. Di tingkat lingkungan, jadwal pemeriksaan bersama lebih berguna daripada baru bergerak setelah ada warga yang sakit DBD.
Referensi
Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, "Survei Kesehatan Indonesia 2023 dalam Angka," 136–41 (PDF), diakses Agustus 2026.
World Health Organization Indonesia, “Shaping Indonesia’s Path towards Zero Dengue Deaths by 2030,” diakses Agustus 2026.
World Health Organization, “Dengue,” diakses Agustus 2026.
Centers for Disease Control and Prevention, “Life Cycle of Aedes Mosquitoes,” diakses Agustus 2026.
Kementerian Kesehatan RI, “Cegah Demam Berdarah dengan 3M Plus,” diakses Agustus 2026.
Ahmad F. Arham et al., “Asian Households’ Dengue-Related Knowledge, Attitudes, and Practices: A Systematic Review,” Humanities and Social Sciences Communications 12 (2025), https://doi.org/10.1057/s41599-025-05017-1.
Alidha Nur Rakhmani dan Lilik Zuhriyah, “Knowledge, Attitudes, and Practices Regarding Dengue Prevention Among Health Volunteers in an Urban Area—Malang, Indonesia,” Journal of Preventive Medicine and Public Health 57, no. 2 (2024): 176–84, https://doi.org/10.3961/jpmph.23.484.
Iskandar Arfan et al., “Benefits and Barriers of Community Participation in Dengue Control: A Systematic Review,” African Journal of Reproductive Health 28, no. 10s (2024): 482–98, https://doi.org/10.29063/ajrh2024/v28i10s.49.
World Health Organization, “Dengue and Severe Dengue: Questions and Answers,” diakses Agustus 2026.
Susilowati Tana et al., “Building and Analyzing an Innovative Community-Centered Dengue-Ecosystem Management Intervention in Yogyakarta, Indonesia,” Pathogens and Global Health 106, no. 8 (2012): 469–78, https://doi.org/10.1179/2047773212Y.0000000062.
Sulistyawati et al., “Dengue Vector Control through Community Empowerment: Lessons Learned from a Community-Based Study in Yogyakarta, Indonesia,” International Journal of Environmental Research and Public Health 16, no. 6 (2019): 1013, https://doi.org/10.3390/ijerph16061013.
World Health Organization, “Promoting Dengue Vector Surveillance and Control,” diakses Agustus 2026.
Kementerian Kesehatan RI, “Menkes: Dibanding Fogging, PSN 3M Plus Lebih Utama Cegah DBD,” diakses Agustus 2026.