Tumbuhkan Solidaritas, GYE-IRI Gelar Doa Bersama buat Korban Karhutla

GYE dan IRI Indonesia menggelar doa bersama lintas agama untuk pemulihan dari karhutla serta berbagai tantangan ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan kelestarian alam.
IRI menegaskan kerusakan hutan akibat kebakaran mengancam keanekaragaman hayati, ruang hidup, hak masyarakat adat, sumber penghidupan, keseimbangan iklim, dan warisan generasi mendatang.
Enam tokoh agama memimpin doa bersama; GYE mengajak masyarakat saling menguatkan serta mendukung dan mendoakan upaya pemerintah menangani karhutla.
Jakarta, IDN Times - Yayasan Amertha Karya Indonesia melalui inisiasi kepemudaan Global Youth Ecosystem (GYE) menggelar doa bersama, untuk pemulihan Indonesia dari bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Acara itu digelar secara virtual bersama Interfaith Rainforest Initiative (IRI) Indonesia, dan menghadirkan para pemuka agama, dengan judul Aku, Tanah Airku: Doa Bersama untuk Alam dan Kestabilan Bangsa dan Negara Indonesia.
Kegiatan itu dilandasi keprihatinan terhadap berbagai cobaan dan tantangan yang tengah dihadapi bangsa Indonesia saat ini. Tak hanya karhutla, tapi GYE dan IRI juga menyoroti dinamika ekonomi, kesehatan, dan pendidikan, serta gangguan kelestarian alam yang memengaruhi kehidupan masyarakat.
“Berharap juga untuk doa di hari ini bisa membawa kita dengan penuh harapan lagi. Berjuang untuk Indonesia yang lebih baik. Jadi supaya tidak patah harapan di tengah-tengah keadaan kita dan alam kita yang sedang banyak challenging-nya,” kata Ketua Umum Yayasan Amertha Karya Indonesia, Fenny Santosa, Kamis (5/11/2026).
1. Hutan sebagai sumber kehidupan

Fasilitator Nasional Interfaith Rainforest Initiative (IRI), Hening Parlan saat mengisi Sesi zoom meeting Aku, Tanah Airku: Doa Bersama untuk Alam dan Kestabilan Bangsa dan Negara Indonesia. (dok. Tangkapan Layar/IDN Times/Vadhia Lidyana) Dalam kesempatan yang sama, Fasilitator Nasional IRI, Hening Parlan mengatakan, melalui acara ini, pihaknya berupaya menyampaikan kepentingan dan meneguhkan tanggung jawab moral masyarakat terhadap bangsa.
Hening mengatakan, kerusakan hutan akibat kebakaran tak hanya menghilangkan keanekaragaman hayati, tapi juga menghilangkan ruang hidup masyarakat, hak-hak masyarakat adat, dan juga sumber kehidupan lainnya.
“Bagi IRI, persoalan hutan bukan hanya persoalan lingkungan. Hutan adalah kehidupan, sumber penghidupan, rumah bagi keanekaragaman hayati, dan menjadi bagian penting bagi keseimbangan iklim, sekaligus warisan yang harus kita jaga untuk generasi yang akan datang. Karena itu, perlindungan hutan juga merupakan persoalan kemanusiaan, persoalan keadilan dan tanggung jawab spiritual,” tutur dia.
2. Keimanan mengajarkan untuk menghormati kehidupan

Sesi zoom meeting Aku, Tanah Airku: Doa Bersama untuk Alam dan Kestabilan Bangsa dan Negara Indonesia. (dok. Tangkapan Layar/IDN Times/Vadhia Lidyana) Hening mengatakan, dalam penanganan karhutla, keimanan menjadi aspek penting yang harus selalu menjadi pegangan. Dia mengatakan, dengan memiliki tradisi iman, maka seseorang itu menghormati kehidupan, menjaga alam, dan tidak mengambil apa yang tak menjadi haknya.
Hal itulah yang mendorong GYE dan IRI menggaet pemuka agama untuk memimpin doa dari seluruh keimanan, demi pemulihan kondisi negara dari karhutla.
“Kita mungkin datang dari tradisi iman yang berbeda, tapi kita memiliki tanggung jawab yang sama tentang bumi dan seluruh kehidupan di dalamnya. Akhirnya, mari kita jadikan doa bersama malam ini sebagai awal dari komitmen yang lebih besar,” kata Hening.
3. Tingkatkan kepercayaan pada pemerintah yang mengatasi karhutla

Ketua Umum Yayasan Amertha Karya Indonesia, Fenny Santosa, saat mengisi sesi zoom meeting Aku, Tanah Airku: Doa Bersama untuk Alam dan Kestabilan Bangsa dan Negara Indonesia. (dok. Tangkapan Layar/IDN Times/Vadhia Lidyana) Dalam acara itu, GYE dan IRI mengundang Ustaz M. Ali Yusuf; Pendeta Johan Kristiantara sekaligus perwakilan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI); Romo Aloysius Budi Purnomo sekaligus Sekretaris Komisi HAK (Hak Asasi Manusia) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI); KRHT P. Astono Chandra Dana; Sekretaris Persatuan Umat Buddha Indonesia (PERMABUDHI), Jerry Darmawan; dan perwakilan Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin), Peter Lesmana.
Dengan menghadirkan enam tokoh yang mewakili enam agama yang diakui di Indonesia, Fenny berharap, seluruh masyarakat bisa saling menguatkan dan melanjutkan perbaikan untuk bangsa yang lebih baik.
“Untuk punya semangat lagi selalu bisa berlanjut untuk hari esok Indonesia yang lebih baik,” ucap Fenny.
Dia juga mengajak masyarakat untuk tetap mendukung upaya pemerintah dalam menangani karhutla, meski ada banyak persoalan sebelumnya.
“Sebenarnya banyak sekali yang sedang memperjuangkan Indonesia, jadi saya hanya ingin mengingatkan sekali lagi untuk teman-teman, tetap put your faith in the government, tetap menaruh harapan dan doa, supaya teman-teman yang di pemerintahan justru lebih kuat lagi, untuk membuat Indonesia jauh lebih baik lagi,” ujar Fenny.




















