Analisis Evello soal Cuitan Mahfud MD Gagal Bedakan Tawon dan Lebah

Jakarta, IDN Times - Salah satu cuitan Mahfud MD di X ramai menjadi perbincangan warganet karena gagal membedakan tawon dan lebah, pada Sabtu (24/2/2024).
Hal itu menyusul cuitannya yang menganalogikan kondisi Pemilu 2024 yang digelar di Indonesia pada 14 Februari 2024. Mahfud MD bahkan mundur dari jabatannya sebagai Menko Polhukam untuk bisa fokus sebagai Calon Wakil Presiden mendampingi Ganjar Pranowo dalam kontestasi tersebut.
Dalam hasil real count KPU, perolehan suara Ganjar dan Mahfud berada di posisi paling rendah dibandingkan para calon lainnya, yakni Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar dan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.
Cuitan yang ramai diperbincangkan itu dianalisis melalui pendekatan AI (kecerdasan buatan) yang berfokus pada psikografis. EvelloCorp selaku perusahaan bidang jasa analytics big data mengunggah infografis di akun Instagram-nya @evello_corp tentang analisis dan kesimpulan warganet tentang cuitan tersebut.
1. Cuitan yang salah tentang perbedaan tawon dan lebah

Data analisa tanggapan warganet cuitan Mahfud MD, tak bisa bedakan tawon dan lebah(instagram.com/evello_corp) Mahfud mengunggah cuitan yang berisikan video. Keterangan atas video itu, Mahfud menganalogikan soal pemimpin lebah membunuh seekor lebah dalam sarangnya, yang kemudian seluruh rakyat lebah membunuh pemimpinnya. Namun dalam video tersebut, raja lebah yang dimaksud merupakan tawon.
"Viral video ini. Pemimpin lebah membunuh seekor lebah, maka seluruh rakyat lebah membunuh pemimpinnya. Mereka kecil-kecil tapi kompak-besatu dan menang. Ada 2 pelajaran dari lebah ini: 1) Membuat madu yang menyehatkan bagi manusia: 2) Sangat kompak untuk melawan kezaliman hingga menang," tulis Mahfud dalam cuitannya.
Banyak warganet yang secara sopan, rasional, dan beberapa ada yang bercanda menunjukkan kesalahan dan kekurangan atas cuitan tersebut.
Beberapa warganet memahami konteks cuitan Mahfud itu sebagai contoh tirani atau dinasti politik. Namun, tak sedikit pula yang merasa Mahfud tidak kompeten telah mengunggah cuitan itu.
Data EvelloCorp menunjukkan, sebanyak 78.86 persen warganet kaget karena tidak mengharapkan bahwa seorang tokoh seperti Mahfud dapat membuat kesalahan yang dianggap sepele dan mudah dicek.
Namun, ada sebanyak 88.09 persen warganet yang menunjukkan sentimen negatif terhadap cuitan tersebut. Kemudian sebanyak 78.53 persen rasional, 55.53 persen berorientasi pada fakta, 100 persen mengurangi brand image, mengkritik atau tidak puas sebanyak 88.87 persen, dan sopan 90 persen.
2. Bahan analogi yang kurang tepat

Tangkapan Layar Cuitan X Mahfud MD tentang analogi tawon lebah yang salah (twitter.com/MahfudMD) Warganet pun menanggapi beragam atas cuitan tersebut.
"Itu tawon Prof. Dia masuk ke sarang lebah madu buat nyuri madu dan bunuh ratu lebah. Karena dia maling, digebukin massa. Seumur umur gak pernah punya pikiran bisa ngasih pelajaran ke profesor. Alhamdullilah bisa ngajarin profesor. Info loker dosen," tulis salah satu akun warganet.
"Itu tawon Pak, tapi iya, memang kalo ada pemimpin yang semena-mena, rakyatnya harus ingat bahwa sebenarnya bisa dilawan.. Bersatu kita teguh," tulis akun lainnya.
"Maaf Prof, tawon yang gede itu tawon hornet dan sengaja nyerang lebah madu untuk membunuh ratu lebah atau bahkan mau nempatin sarangnya. Jadi itu mau menjajah Prof, makanya lebah madu kompak buat nyerang tawon hornet tersebut. Cmiiw," tulis akun berbeda.
3. Sopan mengkritik cuitan Mahfud MD yang tidak kompeten

istock Analisis Evello menemukan bahwa 90 persen warganet memiliki nada sopan dalam memberikan tanggapan terhadap cuitan Mahfud MD. Hal itu karena mereka menghormati status dan posisinya sebagai seorang tokoh terhormat di Indonesia.
Selain itu, analisis data Evello menyimpulkan, banyak komentar warganet yang juga tidak ingin menimbulkan konflik, permusuhan, atau fitnah dengan menggunakan kata-kata kasar, provokatif, atau menghina.
"Psikografis warganet X adalah kelompok atau individu yang cerdas, kritis, dan berpengetahuan luas tentang perbedaan antara tawon dan lebah," demikian paparan Evello.

























