Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Anggota DPR Desak PBB Lobi Israel untuk Bebaskan WNI yang Diculik

Anggota DPR Desak PBB Lobi Israel untuk Bebaskan WNI yang Diculik
Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Sukamta. (IDN Times/Vadhia Lidyana)
Intinya Sih
  • Sukamta mengecam tindakan militer Israel yang mencegat kapal misi kemanusiaan GSF 2.0 dan mendesak PBB serta AS melobi Israel untuk membebaskan sembilan WNI, termasuk empat jurnalis.
  • Pemerintah melalui KSP menegaskan akan menempuh jalur diplomasi guna memastikan pembebasan sembilan WNI yang ditangkap Israel saat membawa bantuan ke Gaza di perairan Mediterania Timur.
  • Kementerian Luar Negeri RI mendesak Israel segera membebaskan seluruh awak misi kemanusiaan, menjamin penyaluran bantuan ke Palestina, dan berkoordinasi dengan KBRI terkait perlindungan serta pemulangan WNI.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Sukamta, mengecam ulah militer Israel yang mencegat kapal yang mengangkut sembilan WNI menuju ke Gaza dalam misi Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0. Dalam pandangannya, aksi pasukan zionis itu bertolak belakang dengan upaya beberapa pihak yang ingin meredam konflik Palestina VS Israel dan AS-Israel VS Iran.

"Saya mengecam ulah Israel ini. Saya mendukung Pemerintah Indonesia lebih tegas mendesak DK (Dewan Keamanan) PBB dan AS agar melobi Israel dan membebaskan WNI," ujar Sukamta di dalam keterangan, dikutip Selasa (19/5/2026).

Ia pun mendengar dari sembilan WNI yang kini diculik oleh militer Israel, empat di antaranya merupakan jurnalis. Sisanya merupakan aktivis yang ingin membawa masuk bantuan kemanusiaan ke Palestina. Penculikan WNI yang terlibat dalam misi Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 membuat publik di dalam negeri semakin geram.

"Seharusnya Israel menghormati proses itu (untuk meredam) konflik dengan tidak melakukan manuver yang kontraproduktif dengan upaya mewujudkan perdamaian di Timur Tengah," kata legislator dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu.

1. Israel dinilai tak sejalan dengan Board of Peace yang diinisiasi oleh Trump

Donald Trump sedang berjalan.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang menghadiri KTT G7 di Kanada pada 2018. (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)

Lebih lanjut, kata Sukamta, Israel sudah dikenal buruk soal kepatuhan terhadap perjanjian dan hukum internasional. Termasuk dianggap tidak sejalan dengan tujuan dibentuknya Board of Peace (BOP).

Lantaran hal itu pula, publik di Tanah Air sejak awal sudah mendesak agar Presiden Prabowo Subianto segera hengkang dari BOP. Namun, Prabowo masih berada di dalam organisasi besutan Trump itu hingga kini.

"Dengan adanya Board of Peace yang diinisiasi oleh Presiden Trump, seharusnya sikap Israel setidaknya sejalan dengan upaya BOP untuk mewujudkan perdamaian di Palestina ini," katanya.

Ia pun mewanti-wanti dalam kondisi konflik dan perang, maka jurnalis dan aktivis kemanusiaan seharusnya tetap diperlakukan dengan baik sesuai ketentuan di dalam piagam PBB.

"Instrumen hukum internasional yang ada sudah seharusnya cukup untuk mendesak Israel membebaskan para aktivis dan jurnalis serta membuka blokade bantuan kemanusiaan," tutur dia.

2. Pemerintah akan tempuh jalur diplomasi agar 9 WNI dibebaskan oleh Israel

Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman (IDN Times/Ilman Nafi'an)
Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman (IDN Times/Ilman Nafi'an)

Sementara, Kepala Staf Presiden (KSP), Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman mengatakan, pemerintah akan menggunakan pendekatan diplomasi dalam pembebasan Warga Negara Indonesia (WNI) yang diculik Israel dalam misi kemanusiaan ke Gaza, Palestina. Berdasarkan laporan yang diterimanya, ada 5 WNI yang ditangkap.

"Saya sudah komunikasi dengan Kemlu agar segera melakukan pendekatan melalui jalur diplomasi, sampai sekarang belum bisa dipastikan posisi terkini dari 9 orang. 5 orang tertangkap dan 4 orang masih di beberapa tempat, nanti berita terbaru saya kabari," ujar Dudung ketika dihubungi pada Selasa (19/5/2026).

Sembilan WNI itu menumpang beberapa kapal dalam misi kemanusiaan GSF menuju ke Gaza. Namun, kapal-kapal mereka dicegat oleh militer Israel saat berada di laut Kepulauan Siprus, Mediterania Timur.

Berikut ini sembilan WNI yang tergabung dalam rombongan kapal GSF dan dilaporkan diculik oleh militer Israel:

1. Herman Budianto Sudarsono dari Dompet Dhuafa di Kapal Zapyro

2. Ronggo Wirasanu dari Dompet Dhuafa di Kapal Zapyro

3. ⁠ Andi Angga Prasadewa dari Rumah Zakat di Kapal Josef

4. Asad Aras Muhammad dari Spirit of Aqso di Kapal Kasri Sadabad

5. Hendro Prasetyo dari SMART 171 di Kapal Kasri Sadabad

6. ⁠Jurnalis Republika, Bambang Noroyono di Kapal BoraLize

7. ⁠Jurnalis Republika, Thoudy Badai Rifan Billah di Kapal Ozgurluk

8. ⁠Jurnalis Tempo, Andre Prasetyo Nugroho di Kapal Ozgurluk

9. Jurnalis yang berkontribusi untuk iNewsTV, BeritaSatu, dan CNN Indonesia, Rahendro Herubowo di kapal Ozgurluk

3. Kemlu serukan sembilan WNI segera dibebaskan oleh militer Israel

Yvone Mewengkang
Juru bicara I Kementerian Luar Negeri, Yvone Mewengkang. (Dokumentasi Kementerian Luar Negeri)

Sementara, Kementerian Luar Negeri mendesak Israel untuk segera membebaskan seluruh kapal dan awak misi kemanusiaan internasional yang ditahan. Israel juga didesak untuk menjamin kelanjutan penyaluran bantuan kemanusiaan kepada rakyat Palestina sesuai hukum humaniter internasional.

Kemlu sendiri telah berkoordinasi dengan KBRI Ankara, KBRI Kairo, dan KBRI Amman guna menyiapkan langkah antisipatif demi memastikan keselamatan dan percepatan proses pemulangan WNI yang ditangkap.

"Kemlu RI juga terus menjalin komunikasi dengan berbagai pihak terkait untuk memperoleh informasi terkini mengenai kondisi para WNI, sekaligus menyiapkan langkah kontingensi, termasuk fasilitasi pelindungan dan percepatan proses pemulangan apabila diperlukan," ujar juru bicara I Kemlu, Yvone Mewengkang.

"Pelindungan WNI akan terus menjadi prioritas utama Pemerintah Indonesia di tengah situasi yang berkembang sangat cepat," sambungnya.

Share
Topics
Editorial Team
Sunariyah Sunariyah
EditorSunariyah Sunariyah
Follow Us

Related Articles

See More