Bertambah Satu, Jumlah Korban Meninggal Banjir Sumatra Jadi 1.190

- 262 hunian sementara siap dihuni korban banjir
- 2.089 kepala keluarga terima dana tunggu hunian
Jakarta, IDN Times - Badan Nasional dan Penanggulangan Bencana (BNPB) terus memperbarui data banjir dan tanah longsor di Pulau Sumatra. Per Kamis (15/1/2026) jumlah korban meninggal akibat banjir bertambah satu. Maka, total sementara jumlah korban meninggal dunia akibat banjir dan tanah longsor di Pulau Sumatra menjadi 1.190 jiwa.
Angka jumlah korban meninggal itu bisa terus bertambah lantaran masih ada 141 jiwa yang dilaporkan hilang. Sedangkan, sebanyak 131.521 warga masih tinggal di tempat pengungsian.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan, jumlah warga yang tinggal di tempat pengungsian menunjukkan tren penurunan yang signifikan.
"Sebanyak 64.021 jiwa telah kembali ke rumah atau lingkungan asalnya, terutama di Kabupaten Aceh Tamiang," ujar Abdul di dalam keterangan tertulis.
Penurunan jumlah pengungsi, kata dia, disebabkan pembangunan hunian sementara yang terus dikebut. Selain itu, akses jalan juga terus dibersihkan dan dibuka. Dengan begitu, kawasan pemukiman semakin kondusif untuk dihuni kembali.
1. Sebanyak 262 hunian sementara sudah siap dihuni korban banjir

Abdul mengatakan, pembangunan hunian sementara terus dikebut oleh sejumlah pihak. Saat ini sudah ada usulan untuk membangun 27.560 huntara. Sementara, 51.740 unit rumah warga dilaporkan rusak berat.
"Saat ini, 4.304 unit masih dalam proses pembangunan dan 262 unit telah selesai dibangun serta siap dihuni. Selain itu, pengajuan hunian sementara tipe hanggar tercatat sebanyak 8.440 unit dengan 648 unit di antaranya sedang dalam tahap konstruksi," kata Abdul.
Sementara, terkait pendistribusian bantuan juga terus digencarkan lewat jalur darat dan udara agar bisa menjangkau seluruh wilayah terdampak. Dari catatan BNPB, sejak 29 November 2025 hingga 13 Januari 2026, total logistik yang sudah dimobilisasi mencapai 1.742 ton.
"Sebanyak 99,7 persen dari total bantuan dan logistik itu telah disalurkan kepada masyarakat terdampak melalui koordinasi BNPB, BPBD dan pemerintah daerah setempat," ujar dia.
2. 2.089 kepala keluarga telah menerima dana tunggu hunian

Sementara, jumlah penerima dana tunggu hunian (DTH) terus bertambah. Per Rabu (14/1/2026), sudah ada 2.089 kepala keluarga yang menerima DTH sebesar Rp600 ribu per bulan. DTH merupakan dana yang disiapkan oleh pemerintah bagi keluarga yang tidak bersedia tinggal di hunian sementara. Korban terdampak banjir memilih untuk tinggal dengan keluarga lainnya atau mengontrak rumah.
"Hingga pertengahan Januari 2026, pengajuan DTH telah mencapai 15.305 kepala keluarga. Dari jumlah tersebut, 10.656 rekening penerima telah siap dengan penyaluran yang terus meningkat," kata dia.
3. BNPB terus lakukan modifikasi cuaca untuk mencegah terjadinya banjir

Selain melakukan pengerukan sungai, tim gabungan BNPB juga melakukan modifikasi cuaca untuk meminimalisasi terjadinya banjir. Sebab, hujan diperkirakan terus turun pada Januari 2026. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dilakukan di masing-masing provinsi.
"Hingga 14 Januari 2026, OMC di Aceh telah dilaksanakan sebanyak 449 sorti dengan total bahan semai natrium klorida (NaCl) dan kalsium oksida (CaO) sebesar 431.600 kilogram. Di Provinsi Sumatra Utara, OMC telah dilakukan sebanyak 368 sorti dengan total bahan semai sekitar 322 ton," kata Abdul.
Sedangkan, di Sumatra Barat, tercatat sudah ada 384 sorti dengan total bahan semai 381.325 kilogram.
"Operasi ini ditujukan untuk mengendalikan intensitas curah hujan dan mengurangi potensi bencana susulan di wilayah rawan," kata dia.
BNPB, kata Abdul, terus menegaskan komitmennya untuk memperkuat koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait, pemerintah daerah, TNI, Polri, relawan dan seluruh unsur masyarakat dalam memastikan penanganan bencana berjalan efektif, terukur serta berkelanjutan.


















