Warga Miskin Protes Desil, Gus Ipul: Ayo Sini Kita Ngobrol

- Menteri Sosial Syaifullah Yusuf dan Wakil Menteri Sosial Agus Jabo menemui warga miskin yang berunjuk rasa di Gedung Kemensos, Jakarta, lalu mengajak perwakilan massa berdialog.
- Ratusan warga dari Koalisi Warga Jakarta untuk Keadilan memprotes pembaruan kategorisasi desil yang dinilai tidak mencerminkan kondisi hidup warga miskin sebenarnya.
- KWJK menyatakan lebih dari 2.500 warga miskin kota di Jakarta berpotensi kehilangan bansos dan perlindungan sosial, berdasarkan aduan serta verifikasi di 21 kecamatan dan 49 kelurahan.
Jakarta, IDN Times - Menteri Sosial Syaifullah Yusuf atau Gus Ipul bersama Wakil Menteri Sosial Agus Jabo menemui para pendemo yang merupakan warga miskin terdampak pembaharuan desil di Gedung Kemensos, Jakarta, Kamis (17/9/2026).
Pantauan IDN Times, Gus Ipul dan Agus Jabo usai menggelar konpers bersama Rektor Universitas Pertahanan berjalan ke arah massa.
"Wes gak usah teriak-terak kita temuin, kita dialog ayo sini. Kamu berapa orang? Ayo sini ngobrol," ucap Gus Ipul pada Korlap unjuk rasa bernama Marlo.
Gus Ipul lalu merangkul Marco yang sudah berada di halaman kantor Kemensos.
"Hidup Menteri, hidup Gus Ipul," ujar Marlo.
Diketahui ratusan warga yang tergabung dalam Koalisi Warga Jakarta untuk Keadilan (KWJK) menggeruduk Kemensos.
Perwakilan KWJK, Tegar Afriansah mengatakan, aksi massa hari ini merupakan puncak dari gelombang keresahan warga yang dihimpun melalui Posko Advokasi KWJK di 21 kecamatan, 49 kelurahan di lima wilayah Kotamadya DKI Jakarta.
"Dari hasil aduan dan verifikasi lapangan, KWJK menemukan lebih dari 2.500 warga miskin kota terancam diputus dari bantuan sosial (bansos) dan perlindungan sosial lainnya akibat kategorisasi sistem desil yang sama sekali tidak mencerminkan kondisi hidup warga sesungguhnya," ucapnya.
Dia menegaskan, hal ini tidak sejalan dengan konstitusi Pasal 34 ayat 1 UUD 1945 yang berbunyi fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.
"Disini letak kekeliruan negara dalam melindungi dan mengelola rakyat miskin, sehingga pada faktanya masih banyak jutaan rakyat Indonesia terancam kehilangan haknya karena desil yang tidak sesuai dengan kondisi rill kehidupan masyarakat," ujarnya.




















