Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Cerita Para Pejuang Desa Antar Anak ke Perguruan Tinggi

Cerita Para Pejuang Desa Antar Anak ke Perguruan Tinggi
Suasana tempat tinggal Wahyudin dan Ma'mun di Desa Tunjungmuli, Kecamatan Karangmoncol, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. (IDN Times/Rochmanudin)
Intinya Sih
  • Ma'mun, warga Desa Tunjungmuli, sukses membiayai anaknya kuliah di Universitas Airlangga lewat usaha jual beli kambing dan sapi yang berkembang pesat terutama saat musim Idul Adha.
  • Darso, petani gula kelapa asal Purbalingga, terus berjuang membiayai kuliah anaknya di perguruan tinggi Islam Purwokerto dengan penghasilan harian sekitar Rp100 ribu dari produksi gula kristal.
  • Wahyudin, pengrajin gagang sapu ijuk, mampu menyekolahkan anaknya di Universitas Amikom Purwokerto setelah usahanya berkembang berkat bantuan UMKM yang meningkatkan kapasitas produksinya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Purbalingga, IDN Times - Duduk di kursi kayu, Ma'mun begitu bersemangat mengobrol. Tangan kananya sesekali menyuapi mulutnya dengan sebatang rokok keretek. Pria 35 tahun itu menceritakan usahanya, jual beli kambing dan sapi.

Ma'mun mengaku berencana ke luar kota pada saat Lebaran haji tahun ini. Ia sudah mendapat pesanan sejumlah hewan kurban dari tokoh agama di Depok, Jawa Barat.

"Aku sebenernya cuma disuruh aja, ada ustaz di Depok pesen sapi sama kambing kurban. Sistem pesenan, duit masuk, aku carikan barangnya. Aku ngambil untung dikit aja," ujar Ma'mun, saat berbincang dengan IDN Times di Desa Tunjungmuli, Kecamatan Karangmoncol, Kabupaten Purbalingga, Senin, 23 Maret 2026.

1. Ma'mun sukses antar anak ke perguruan tinggi ternama berkat jual beli hewan ternak

Cerita Para Pejuang Desa Antar Anak ke Perguruan Tinggi
Suasana tempat tinggal Wahyudin dan Ma'mun di Desa Tunjungmuli, Kecamatan Karangmoncol, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. (IDN Times/Rochmanudin)

Hidup di desa bukan jadi halangan bagi Ma'mun untuk maju. Berawal dari jual beli sapi dan kambing kecil-kecilan, kini Ma'mun sudah bisa menyuplai pembelian kambing dan sapi dalam jumlah besar. Usahanya makin moncer. Terutama saat musim Idul Adha atau Lebaran Haji.

Hasil jual beli hewan ternak ini pun menjadi jalan kesuksesan mengantar anaknya ke jenjang pendidikan tinggi. Ma'mun kini mampu membiayai anaknya kuliah di perguruan tinggi ternama di Indonesia.

"Alhamdulillah, sekarang anakku kuliah di Airlangga. Ambil jurusan peternakan," ujar Ma'mun yang memakai jaket coklat dan celana buntung warna krem itu.

2. Darso biayai anak kuliah dari hasil gula kelapa

Cerita Para Pejuang Desa Antar Anak ke Perguruan Tinggi
Ilustrasi pohon kelapa (IDN Times/Rochmanudin)

Nasib serupa juga dialami Darso, petani gula kelapa ini masih berjuang membiayai kuliah anaknya di sebuah perguruan tinggi Islam di Purwokerto, Jawa Tengah. Penghasilannya yang sehari rata-rata Rp100 ribu ia cukupkan untuk biaya keluarganya.

"Kadang gak mesti sih ya. Kadang sehari dapet 5 sampai 8 kilo (kg), nah harga gula kan naik turun. Kadang Rp15 ribu (per kg), kadang Rp17 ribu," ujar pria 49 tahun itu saat ditemui IDN Times, Senin, 23 Maret 2026.

Darso yang tidak tamat SMA itu sehari-hari bekerja mengambil air nira, untuk bahan baku gula kelapa dari 30 pohon. Tak ada hari libur, kecuali pada saat hari Idul Fitri. Itu pun hanya dua hari.

"Dulu waktu masih banyak pohon kelapa bisa sampai 60 pohon. Sekarang cuma 30 pohon. Nah, aku bikin jadi gula kristal, karena harganya lebih mahal ketimbang gula yang cetakan biasa. Tapi memang lebih capek dan makan waktu lebih lama prosesnya," ujar Darso yang sudah menjadi petani gula kelapa sejak SMP.

3. Wahyudin biaya kuliah anaknya dari hasil kerajinan sapu

Cerita Para Pejuang Desa Antar Anak ke Perguruan Tinggi
Ilustrasi sapu ijuk (IDN Times/Rochmanudin)

Tak jauh berbeda dengan Wahyudin, pria yang sehari-hari bekerja sebagai pengrajin gagang sapu ijuk ini tengah berjuang membiayai anaknya kuliah di perguruan tinggi. Usahanya naik turun. Tapi ia telaten menekuni usahanya ini sejak 10 tahun terakhir.

"Alhamdulillah, bisa buat bikin dapur ngebul. Reza (anaknya) kuliah di Universitas Amikom Purwokerto," ujar Wahyudin, yang duduk di samping putranya, Reza.

Beruntung, Wahyudin yang dulu bekerja sendiri, kini dibantu dua adiknya yang sempat menganggur, setelah mendapat bantuan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dari pemerintah. Produksi gagang sapunya kini lebih banyak, karena memakai mesin.

"Dulu pernah dapet bantuan UMKM, kredit tanpa agunan dan bunga kecil," ujar pria 50 tahun itu.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Rochmanudin Wijaya
EditorRochmanudin Wijaya
Follow Us

Latest in News

See More