Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Fakta-Fakta Demo di Brussels dan Liege Belgia, Apa Penyebabnya?

3 min read
Fakta-Fakta Demo di Brussels dan Liege Belgia, Apa Penyebabnya?
potret bendera Belgia (pexels.com/Ivy Nguyen)
  • Ratusan warga Belgia berdemonstrasi di Brussels dan Liege pada 24 Oktober 2026, memprotes dugaan pelanggaran aparat serta reformasi pendidikan yang dinilai merugikan.
  • Aksi di Brussels berubah ricuh setelah sejumlah peserta muda menerobos garis polisi dan membakar barikade; polisi merespons dengan gas air mata hingga demonstrasi berakhir pukul 15.30.
  • Demonstrasi di Liege berlangsung damai, tetapi peserta menuntut perubahan pemerintah dan menolak reformasi pendidikan; organisasi masyarakat berencana menggelar aksi lanjutan pada 17 November.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Ratusan warga Belgia dikabarkan menggelar demo di Kota Brussels dan Liege pada Sabtu (24/10/2026). Demo tersebut diserukan oleh sejumlah organisasi masyarakat yang ada di Belgia, seperti Front des Meres, Ecole en Lutte, dan Jeunesse Organisee et Combative. 

Dalam demo tersebut, para pengunjuk rasa memprotes sejumlah isu. Dimulai dari kasus pelanggaran hukum yang dilakukan aparat kepolisian sampai upaya reformasi pendidikan di Belgia. Mereka menolak reformasi tersebut karena dianggap merugikan. Namun, tidak dijelaskan reformasi apa yang dimaksud.

  1. 1. Demo di Brussels berubah menjadi anarkis

    Kota Brussels, Belgia.
    potret Kota Brussels, Belgia (pexels.com/Ivan Dražić)

    Menurut keterangan polisi Belgia, demo yang terjadi di Brussels dimulai pada pukul 12.15 siang waktu setempat. Ketika itu, sekitar 300 pengunjuk rasa berkumpul di Albertine Square. Mereka kemudian menggelar pawai di Kota Saint-Gilles pada pukul 13.00. Di sinilah demo yang awalnya berlangsung damai berubah menjadi anarkis. 

    Ketika itu, sejumlah peserta demo yang terdiri dari kalangan muda menerobos masuk garis polisi dan membakar sejumlah barikade yang menghalangi mereka saat memasuki wilayah Chaussée de Forest. Imbas tindakan ini, polisi langsung menembakkan gas air mata kepada para pendemo. Sejumlah pendemo juga sempat terlibat cekcok dengan polisi yang bertugas di sana. Demo anarkis ini akhirnya selesai sekitar pukul 15.30 waktu setempat.

  2. 2. Demo di Liege tetap berlangsung damai

    Kota Liege, Belgia.
    potret Kota Liege, Belgia (pexels.com/Philippe WEICKMANN)

    Di sisi lain, demo massal yang terjadi di Liege dikabarkan tetap berlangsung damai. Namun, para pengunjuk rasa tetap menyuarakan keresahannya terhadap Pemerintah Belgia yang dipimpin oleh Perdana Menteri Bart De Wever. Mereka bahkan mengancam akan melakukan demo lanjutan untuk menjatuhkan Pemerintah Brussels yang dianggap tidak pro-rakyat.

    “Kami di sini untuk masa depan kaum muda untuk pekerjaan yang lebih baik. Kami menolak reformasi dan reformasi pendidikan dari menteri pendidikan berbahasa Prancis Valérie Glatigny (MR). Pemerintah ini tidak pernah melakukan hal yang benar. Seluruh masyarakat marah. Satu-satunya pilihan yang tersisa adalah menjatuhkan pemerintah,” kata salah satu peserta demo bernama Celia Ponce, seperti dilansir Brussels Times.

  3. 3. Pengunjuk rasa berencana melakukan demo lanjutan

    Orang-orang sedang berdemo.
    ilustrasi demo (unsplash.com/Clay Banks)

    Ponce menjelaskan, seluruh warga Belgia juga akan menggelar demo lanjutan pada 17 November mendatang. Menurutnya, demo tersebut akan diikuti oleh seluruh seluruh organisasi masyarakat yang ada di Belgia. 

    Aksi demonstrasi saat ini memang sedang marak di negara-negara Eropa. Selain di Belgia, aksi serupa juga terjadi di Spanyol, Italia, Albania, Yunani, Portugal, hingga Prancis. Semua demo tersebut dipicu keresahan masyarakat terhadap kinerja pemerintahan di negaranya masing-masing.

    Demo massal juga kembali terjadi di Prancis pada Sabtu kemarin. Dilansir Times of Israel, demo tersebut menyebar di sejumlah kota besar dan diikuti oleh lebih dari 400 ribu warga Prancis. Pekan lalu, demo massal juga terjadi di sejumlah kota besar di Prancis, seperti Paris, Marseille, dan Lille sampai diwarnai aksi anarkis. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More