Karhutla Landa Sulsel dan Sulteng, 23 Hektare Lahan Hangus

- Karhutla terjadi di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, dan Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah, tanpa laporan korban jiwa.
- Banjir di Kabupaten Tapanuli Tengah membuat 50 kepala keluarga atau 150 jiwa mengungsi dan berdampak pada sekitar 50 rumah.
- BNPB, BPBD, pemerintah daerah, dan unsur terkait melakukan pemadaman, asesmen, pemantauan, normalisasi sungai, serta pembangunan tanggul.
Jakarta, IDN Times – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di dua provinsi di Pulau Sulawesi pada awal Agustus 2026. Berdasarkan keterangan dari Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, peristiwa ini menuntut kewaspadaan tinggi karena dipicu kondisi cuaca dan aktivitas manusia.
Karhutla pertama melanda di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan. Persisnya terjadi di Desa Sabbang Paru, Kecamatan Lembang, pada Senin, 3 Agustus 2026 pagi. Api diduga berasal dari percikan pada vegetasi kering yang dengan cepat meluas hingga menghanguskan sekitar 3 hektare lahan.
"Sinergi antara BPBD, TNI, Polri, dan pemadam kebakaran berhasil memadamkan api, namun petugas tetap berjaga di lokasi untuk mengantisipasi munculnya titik api baru akibat cuaca panas," ujar Muhari dalam keterangan tertulis, Selasa (4/8/2026).
1. Karhutla juga melanda Kabupaten Tojo Una-Una

Karhutla juga melanda di Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah, pada saat yang hampir bersamaan, persisnya di Desa Tojo. Berbeda dengan Pinrang, kebakaran di wilayah ini diduga kuat dipicu aktivitas pembukaan lahan perkebunan yang dilakukan tanpa pengawasan.
"Luas lahan yang terdampak mencapai 20 hektare. Meskipun tidak ada korban jiwa, tim gabungan masih terus melakukan pengendalian api agar tidak meluas ke permukiman warga," ujar Muhari.
BNPB menghimbau masyarakat untuk menghindari pembukaan lahan dengan cara membakar dan tidak membuang puntung rokok sembarangan, terutama di tengah kondisi vegetasi yang kering.
2. Banjir melanda Tapanuli Tengah

Hujan deras dengan intensitas tinggi telah memicu bencana banjir di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, setelah tanggul Sungai Silaga-laga jebol pada Senin, 3 Agustus 2026. Laporan ini disampaikan
Banjir ini merendam wilayah Kecamatan Tukka dan Kecamatan Badiri, yang memaksa 150 jiwa atau 50 kepala keluarga mengungsi. Sebanyak 50 unit rumah dilaporkan terdampak, dan warga yang mengalami trauma dievakuasi ke Gereja HKI Lama.
"Pemerintah daerah telah memperpanjang Status Transisi Darurat ke Pemulihan hingga 25 Desember 2026 untuk memastikan penanganan berjalan optimal," ujar Muhari.
3. Hujan menjadi kendala utama bangun tanggul yang jebol

Sebagai langkah percepatan, BNPB memberikan pendampingan teknis dalam pembangunan tanggul tanah menggunakan jumbo bag dan normalisasi sungai.
Hingga saat ini, progres penyusunan telah mencapai 47 jumbo bag, dengan target tambahan ribuan kantong lainnya yang akan didatangkan dari Kabupaten Luwu.
Namun, Muhari menyebut, curah hujan yang terus berlanjut menjadi kendala utama di lapangan, karena dapat menggerus tebing sungai yang dekat dengan permukiman.




















