Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Inggris Kumpulkan 35 Negara Bahas Pembukaan Selat Hormuz

Inggris Kumpulkan 35 Negara Bahas Pembukaan Selat Hormuz
ilustrasi bendera Inggris (pexels.com/James Frid)
Intinya Sih
  • Inggris memimpin forum virtual bersama 35 negara untuk membahas pembukaan kembali Selat Hormuz pascakonflik, dengan fokus pada diplomasi, keamanan pelayaran, dan koordinasi militer.
  • Penutupan Selat Hormuz menghambat sekitar seperlima suplai minyak dunia dan menahan ribuan kapal, menyebabkan lonjakan harga energi serta gangguan besar pada rantai pasokan global.
  • Amerika Serikat tidak diundang dalam forum tersebut, meski tetap terlibat lewat koordinasi militer; Presiden Trump mengkritik Eropa karena dinilai kurang mendukung operasi AS terhadap Iran.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times – Pemerintah Inggris tengah merancang pertemuan bersama 35 negara untuk membahas langkah membuka kembali Selat Hormuz yang tertutup imbas konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran.

Rencana itu diumumkan Perdana Menteri (PM) Inggris Keir Starmer pada Rabu (1/3/2026). Ia menyebut Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper akan memimpin forum virtual pada Kamis (2/3/2026), yang menjadi upaya perdana kelompok tersebut menyusun langkah konkret setelah pertempuran berakhir.

Starmer menjelaskan, agenda pertemuan akan mencakup opsi diplomasi dan politik guna memulihkan kebebasan pelayaran, menjamin keamanan kapal beserta awaknya, serta menghidupkan kembali distribusi komoditas penting. Gambaran lanjutan rencana tersebut juga disampaikan terkait koordinasi militer setelah pertemuan berlangsung.

“Setelah pertemuan itu, kami juga akan mengumpulkan perencana militer kami untuk melihat bagaimana kami dapat mengerahkan kemampuan kami dan membuat selat tersebut dapat diakses dan aman setelah pertempuran berhenti,” katanya, dikutip Al Jazeera.

1. Negara peserta siapkan kontribusi amankan pelayaran

Inggris Kumpulkan 35 Negara Bahas Pembukaan Selat Hormuz
ilustrasi kapal pengangkut minyak (unsplash.com/Fredick F.)

Negara yang terlibat merupakan para penandatangan pernyataan bersama terkait kesiapan menjaga keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Daftar awal mencakup Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, Jepang, Kanada, Korea Selatan (Korsel), Selandia Baru, Uni Emirat Arab, serta Nigeria, dengan tambahan negara lain yang kemudian ikut bergabung.

Starmer mengakui pembukaan kembali jalur tersebut bukan perkara mudah. Ia menilai publik perlu memahami bahwa prosesnya akan kompleks, apalagi setelah berdiskusi dengan pelaku industri energi dan pelayaran yang menyoroti isu keselamatan sebagai hambatan utama, bukan aspek asuransi.

Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara kekuatan militer, jalur diplomasi, dan sektor industri agar mobilisasi bisa segera dilakukan setelah konflik mereda. Selain itu, Starmer menegaskan, Inggris akan memberikan kepemimpinan yang terarah dan stabil dalam proses tersebut.

Starmer mengungkapkan, seluruh kebijakan yang diambil selama konflik berlandaskan kepentingan nasional Inggris.

“Karena panduan saya sejak awal konflik ini selalu adalah kepentingan nasional Inggris. Dan kebebasan navigasi di Timur Tengah adalah kepentingan nasional Inggris,” ujarnya, dikutip The Guardian.

2. Penutupan selat ganggu pasokan energi global

Inggris Kumpulkan 35 Negara Bahas Pembukaan Selat Hormuz
Penampakan Selat Hormuz dari satelit (Jacques Descloitres, MODIS Land Rapid Response Team, NASA/GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons)

Selat Hormuz dikenal sebagai jalur strategis yang mengalirkan sekitar seperlima suplai minyak dan gas alam cair dunia, serta sepertiga pupuk global yang menopang setengah kebutuhan pangan dunia. Penutupan wilayah ini memicu lonjakan harga energi global sehingga sejumlah negara harus menggunakan cadangan strategis minyak dan gas mereka.

Situasi di lapangan menunjukkan sekitar seribu kapal tertahan akibat blokade parsial oleh Iran. Di sisi lain, hanya sekitar 130 kapal yang mampu melintas sejak konflik berlangsung, padahal angka tersebut biasanya mencerminkan volume lalu lintas harian sebelum perang.

3. Amerika Serikat tak diundang dalam forum

Inggris Kumpulkan 35 Negara Bahas Pembukaan Selat Hormuz
ilustrasi bendera Amerika Serikat (pexels.com/Andrea Piacquadio)

AS tidak termasuk dalam daftar undangan langsung pada pertemuan tersebut. Fokus pembahasan diarahkan pada negara penandatangan, sekutu Eropa lainnya, serta pihak-pihak penting di sektor maritim dan kawasan.

Meski begitu, Kementerian Pertahanan Inggris telah menempatkan tim perencana militer di Komando Pusat AS untuk menelaah berbagai opsi agar kapal tanker dapat kembali beroperasi.

Presiden AS Donald Trump melontarkan kritik kepada negara-negara Eropa, termasuk Inggris karena dianggap belum memberikan dukungan memadai terhadap upaya militer AS. Ia juga menyinggung negara yang kesulitan memperoleh bahan bakar jet agar mempertimbangkan membeli dari AS atau mengambil langkah langsung di selat.

Trump menyampaikan bahwa negara-negara tersebut perlu mulai bertindak mandiri tanpa bergantung pada dukungan AS seperti sebelumnya. Ia juga menyatakan Iran telah dilemahkan sehingga negara lain dapat mengambil minyak secara mandiri.

Trump turut menegaskan tidak akan ada gencatan senjata sebelum Selat Hormuz kembali terbuka sepenuhnya. Ia menyebut pertimbangan penghentian konflik baru akan dilakukan setelah akses di selat benar-benar pulih, sementara operasi militer terhadap Iran akan terus berlanjut hingga tujuan tercapai.

Di sisi lain, Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) melalui siaran televisi pemerintah menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap ditutup bagi pihak yang dianggap musuh, serta masih berada dalam kendali angkatan laut Iran.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati
Follow Us

Latest in News

See More