Perang dan Geopolitik Geser Fokus Dunia dari Krisis Iklim

- Dino Patti Djalal menyoroti bahwa meningkatnya konflik geopolitik dan perang global telah menggeser fokus dunia dari agenda penanganan krisis iklim yang sebelumnya menjadi prioritas utama.
- Ia mendorong Indonesia agar tetap konsisten menjalankan transisi energi bersih dan memastikan target pembangunan energi terbarukan tercapai meski dinamika internasional sedang tidak stabil.
- Dino menegaskan bahwa dunia memiliki dana dan teknologi untuk menghadapi perubahan iklim, namun kekurangan kemauan politik membuat aksi nyata tertunda dan memperbesar risiko bagi generasi mendatang.
Jakarta, IDN Times – Founder Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal, menilai perhatian dunia terhadap isu perubahan iklim mulai bergeser akibat meningkatnya berbagai konflik geopolitik dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, perang dan ketegangan antarnegara membuat agenda penanganan krisis iklim tidak lagi menjadi prioritas utama banyak pemerintah.
Dino mengatakan sebelum pandemik Covid-19 dan pecahnya perang Rusia-Ukraina, isu perubahan iklim menjadi salah satu agenda utama dalam kerja sama internasional. Saat itu, banyak negara menunjukkan komitmen yang kuat untuk menekan emisi karbon dan mempercepat transisi menuju energi bersih.
Namun, kondisi tersebut berubah setelah dunia dihadapkan pada pandemi, konflik bersenjata, hingga meningkatnya rivalitas geopolitik. Akibatnya, perhatian banyak negara beralih pada isu keamanan, pertahanan, dan stabilitas ekonomi.
Hal itu disampaikan Dino dalam program Ngobrol Seru IDN Times menjelang Indonesia Net Zero Summit (INZS) 2026.
1. Konflik global dinilai menggeser agenda perubahan iklim

Dino mengatakan perubahan besar mulai terlihat setelah pandemik COVID-19 dan perang Rusia-Ukraina. Menurutnya, sebelum dua peristiwa tersebut, isu perubahan iklim menjadi perhatian utama dalam berbagai forum internasional.
“Beberapa tahun lalu, sebelum Covid-19 dan sebelum perang Rusia-Ukraina, isu iklim menjadi primadona. Banyak negara bersatu dan bekerja sama untuk mendorong diplomasi perubahan iklim,” ujarnya.
Namun, ia menilai situasi tersebut berubah drastis ketika konflik geopolitik semakin meningkat. Menurut Dino, banyak negara kini lebih memprioritaskan urusan keamanan dan pertahanan dibandingkan komitmen terhadap iklim.
“Sekarang yang menjadi nomor satu adalah geopolitik. Itu sangat disayangkan karena kemajuan-kemajuan yang sudah dicapai dalam penanganan perubahan iklim bisa terhambat, bahkan rencana yang telah disusun bertahun-tahun bisa tertunda,” katanya.
Ia menilai kondisi tersebut menjadi tantangan besar bagi dunia karena ancaman perubahan iklim tidak berhenti meski perhatian negara-negara sedang terfokus pada konflik.
2. Indonesia diminta tetap menjaga komitmen transisi energi

Di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian, Dino mendorong Indonesia tetap konsisten menjalankan agenda transisi energi. Menurutnya, komitmen nasional tidak boleh ikut melemah hanya karena perubahan dinamika internasional.
Ia menilai salah satu langkah penting adalah memastikan target pembangunan energi baru terbarukan benar-benar diwujudkan melalui kebijakan yang konsisten.
“Saya melihat jika komitmen terhadap pembangunan 100 gigawatt energi terbarukan dijalankan secara serius, itu akan menjadi langkah yang luar biasa. Bukan hanya menginspirasi Indonesia, tetapi juga komunitas internasional,” ujarnya.
Dino mencontohkan sejumlah negara berkembang yang dinilai berhasil mempercepat pemanfaatan energi bersih. Pakistan, menurutnya, mampu memperluas penggunaan energi surya dalam waktu relatif singkat, sementara Brasil telah menghasilkan sekitar 90 persen listriknya dari energi terbarukan.
“Indonesia juga bisa melakukan hal yang sama, asalkan ada komitmen dan kemauan politik yang kuat dari tingkat paling atas. Kalau tidak, semua akan berjalan sendiri-sendiri,” katanya.
3. Dunia punya dana dan teknologi, tetapi kurang kemauan politik

Menurut Dino, tantangan terbesar dalam penanganan perubahan iklim bukanlah keterbatasan dana maupun teknologi. Ia menilai dunia sebenarnya telah memiliki berbagai instrumen yang dibutuhkan untuk mempercepat transisi menuju ekonomi hijau.
“Uangnya ada. Teknologinya juga ada. Lembaga internasional ada, platform kerja samanya ada, bahkan solusi-solusinya juga sudah tersedia,” ujarnya.
Meski demikian, ia menilai banyak negara mulai kehilangan fokus karena menganggap masih ada waktu untuk menunda aksi iklim. Padahal, menurut Dino, penundaan justru akan memperbesar dampak yang harus ditanggung generasi mendatang.
“Banyak yang menganggap masih ada besok, sehingga perubahan iklim bukan lagi prioritas. Padahal, jika kita tidak serius sekarang, generasi mendatang akan menghadapi konsekuensi yang jauh lebih berat,” katanya.
Dino memperingatkan bahwa kenaikan suhu global hingga tiga atau empat derajat Celsius dapat mengubah kondisi bumi secara permanen. “Kalau itu terjadi, kita akan hidup dalam dunia yang serasa neraka. Dan ketika itu terjadi, kita tidak bisa memutar kembali waktu untuk mendinginkan bumi. Karena itu, satu-satunya kesempatan untuk bertindak adalah sekarang,” tutur Dino.
















