Jepang Anugerahi Mari Elka Tanda Jasa The Order of the Rising Sun

- Pemerintah Jepang menganugerahkan The Order of the Rising Sun kepada Mari Elka Pangestu atas kontribusinya memperkuat kerja sama ekonomi dan perdagangan bilateral Indonesia–Jepang, termasuk perannya dalam Perjanjian Kemitraan Ekonomi JIEPA.
- Upacara penghargaan berlangsung sederhana di Istana Kekaisaran Tokyo tanpa liputan media, dengan pidato singkat Kaisar Naruhito yang menyampaikan ucapan selamat dan doa bagi para penerima tanda jasa.
- Mari Elka menegaskan tidak ada perlakuan istimewa dari pemerintah Jepang; seluruh biaya perjalanan ditanggung pribadi dan penghargaan ini dianggap simbol persahabatan yang tulus antara kedua negara.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Jepang menganugerahkan bintang tanda jasa The Order of the Risining Sun kepada Wakil Ketua Dewan Ekonomi (DEN) Mari Elka Pangestu di Istana Kekaisaran Jepang pada Selasa (12/5/2026).
Selain Mari Elka, Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Jamhari Makruf turut menerima tanda kehormatan The Order of the Rising Sun, Gold Rays with Neck Ribbon.
Orde of the Rising Sun merupakan salah satu penghargaan tertinggi Jepang, yang didirikan pada tahun 1875 oleh Kaisar Meiji dan diberikan kepada individu, termasuk warga negara Jepang dan warga negara asing. Penghargaan diberikan atas prestasi luar biasa dalam hubungan internasional, kontribusi untuk mempromosikan budaya Jepang, atau kontribusi luar biasa bagi masyarakat Jepang atau pelayanan publik.
Kedutaan Besar Jepang menilai, Mari Elka Pangestu sangat layak mendapatkan bintang tanda jasa karena aktif mempromosikan kerja sama ekonomi dan perdagangan bilateral antara Indonesia dan Jepang.
Pemerintah Jepang juga mengakui peran Mari Elka dalam memfasilitasi Perjanjian Kemitraan Ekonomi Jepang-Indonesia (JIEPA) pada 20 tahun silam saat ia masih aktif menjabat sebagai Menteri Perdagangan (Mendag) di Kabinet Indonesia Bersatu Jilid I dan II.
"Beliau diakui atas perannya dalam memfasilitasi Perjanjian Kemitraan Ekonomi Jepang-Indonesia (JIEPA). Hari ini, akhirnya beliau menerima pengakuan dari pemerintah Jepang," kata Adi Harsono, suami Mari Elka dalam keterangan resmi, Jakarta, Kamis (15/5/2026).
1. Upacara penghargaan digelar sederhana

Penghargaan ini dapat diberikan langsung oleh Kaisar di Istana Kekaisaran di Tokyo atau oleh duta besar Jepang atas nama Kaisar di Kedutaan Besar Jepang di Jakarta. Namun, Mari Elka memilih terbang ke Tokyo untuk menerima langsung penghargaan tersebut.
"Kami memilih untuk menghadiri upacara di Istana Kekaisaran di Tokyo. Itu sepenuhnya sukarela dan dengan biaya sendiri; tidak ada hak istimewa khusus," kata dia.
Mari Elka dan rombongan dari Indonesia memasuki area Istana Kekaisaran sekitar pukul 14.00 waktu setempat menggunakan kendaraan kedutaan. Saat tiba di gerbang masuk, aparat kepolisian istana melakukan pemeriksaan terhadap plat nomor kendaraan serta mencocokkan nama para tamu dengan daftar undangan.
Proses pemeriksaan berlangsung relatif sederhana. Tidak ada pemeriksaan paspor maupun barang bawaan sebelum mereka memasuki kompleks Istana Kekaisaran.
Mari terkesan dengan upacara penghargaan yang dinilai berlangsung tidak biasa karena minim publikasi. Tidak tampak kehadiran media massa, wartawan, maupun sesi wawancara selama acara berlangsung.
Selain itu, tidak ditemukan laporan dalam siaran berita malam maupun pemberitaan di surat kabar lokal Jepang terkait kegiatan tersebut.
"Satu-satunya informasi yang tersedia adalah laporan singkat di situs web Kedutaan Besar Jepang di Indonesia. Seolah-olah tidak ada hal penting yang terjadi di Istana Kekaisaran hari ini," kata dia.
2. Cerita Mari Elka saat dianugerahi Bintang Tanda Jasa oleh Kaisar Jepang

Mari juga menceritakan bagaimana upcara pemberian tanda jasa itu digelar secara sederhana. Ia bercerita, adalam upcara itu, Kaisar Jepang Naruhito berpidato dalam bahasa Jepang dan bahas Inggris selama empat menit.
Dalam pidatonya, Kaisar mengucapkan selamat dan berterima kasih kepada semua penerima penggargaan, dan mendoakan kesehatan yang baik untuk semua orang.
"Kaisar Jepang datang untuk menemui semua orang, semua petugas termasuk penterjemah kami mundur keluar ruangan, Kaisar memberikan pidato, yang juga sangat sederhana," kata dia.
"Kaisar berbicara dalam bahasa Jepang dan kemudian mengulanginya dalam bahasa Inggris yang fasih. Saya memperkirakan pidato Kaisar berlangsung kurang dari empat menit," sambungnya.
3. Tak ada perlakuan khusus dari pemerintah Jepang

Mari Elka memastikan bahwa semua penerima penghargaan tidak mendapatkan perlakuan khusus dari pemeringah Jepang. Ia mengatakan, penghargaan seperti ini hanya dapat dihargai dan dikenang dalam hati kita; persahabatan seperti ini dapat bertahan lama.
Mari bahkan mengaku keberangkatannya ke Jepang diurus secara mandiri termasuk. Artinya tidak ada fasilitas khusus seperti layanan VIP di bandara atau fasilitas bebas masuk ke Jepang seumur hidup.
"Kami membayar semuanya sendiri. Tidak ada layanan khusus, bahkan foto atau laporan berita pun tidak ada. Penghargaan seperti ini hanya dapat dihargai dan dikenang dalam hati kita; persahabatan seperti ini dapat bertahan lama," kata Adi.













.jpg)





