Jubir Gerindra Sebut 2 Tahun Prabowo Belum Masa Panen Elektoral

Sugiat Santoso menyebut dua tahun pemerintahan Prabowo belum menjadi masa panen elektoral.
Survei PPI Oktober 2026 menempatkan Prabowo di posisi teratas dalam sejumlah simulasi elektabilitas.
Survei melibatkan 1.200 responden di 38 provinsi dengan wawancara tatap muka.
Jakarta, IDN Times - Juru Bicara (Jubir) Partai Gerindra, Sugiat Santoso, menghadiri secara virtual pemaparan hasil survei nasional yang dilakukan Parameter Politik Indonesia (PPI). Dalam survei tersebut, disampaikan mengenai elektabilitas Presiden Prabowo Subianto dan kepuasan publik terhadap kinerja dua tahun pemerintahan.
Sugiat mengatakan pada dua tahun pemerintahan Prabowo, belum waktunya panen elektoral.
"Tapi saya yakin dan percaya, memang dua tahun ini belum masa panen elektoral, karena ya sama seperti kita katakanlah masa musim panen padi, ini masih menyemai bibit, memupuk, dan merawat," ujar Sugiat, Minggu (18/10/2026).
Sugiat meyakini, pada tahun ketiga atau keempat pemerintahan Prabowo, hasil kepuasan kinerja dan elektabilitas Prabowo akan semakin maksimal.
"Saya yakin dan percaya di tahun ketiga atau di tahun keempat, nanti sudah akan ada hasil yang sangat maksimal. Pada saat itu saya yakin dan percaya bahwa persepsi opini publik akan semakin positif untuk menilai kinerja pemerintahan Pak Prabowo," ucap dia.
1. Elektabilitas Anies bayangi Prabowo

Presiden Prabowo Subianto terbang ke Halmahera Tengah, Kamis (8/10/2026) (dok. Sekretariat Presiden) Elektabilitas Presiden Prabowo Subianto menempati posisi teratas dalam survei nasional Parameter Politik Indonesia (PPI) edisi Oktober 2026. Namun, Anies Baswedan membayangi Prabowo dalam sejumlah simulasi pemilihan presiden (Pilpres) apabila kontestasi digelar saat ini.
Dalam simulasi yang melibatkan 17 nama, Prabowo memperoleh elektabilitas 34 persen. Sementara, Anies berada di urutan kedua dengan 19,4 persen, disusul Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebesar 11,1 persen, dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka 10,9 persen.
Muhaimin Iskandar mendapatkan 3 persen. Selanjutnya, Yusril Ihza Mahendra meraih 1,7 persen, Pramono Anung 1,6 persen, Puan Maharani 1,4 persen, dan Kaesang Pangarep 1,3 persen.
Surya Paloh memperoleh 1,1 persen, Zulkifli Hasan 0,8 persen, Bahlil Lahadalia 0,6 persen, serta Muhammad Mardiono 0,5 persen. Said Iqbal dan Al Muzzammil Yusuf masing-masing meraih 0,4 persen, Anis Matta 0,3 persen, dan Angela Tanoesoedibjo 0,2 persen. Adapun responden yang belum menentukan pilihan dalam simulasi tersebut mencapai 11,3 persen.
Direktur Eksekutif PPI, Adi Prayitno, mengatakan survei tersebut menggunakan beberapa skenario untuk memotret pilihan masyarakat terhadap calon presiden.
"Ini pertanyaan simulasi apabila Pilpres digelar hari ini," ujar Adi dalam paparannya, Minggu (18/10/2026).
2. Prabowo unggul dalam pertanyaan terbuka

Presiden Prabowo Subianto (Youtube.com/Sekretariat Presiden) Dalam pertanyaan terbuka mengenai tokoh yang akan dipilih sebagai presiden apabila pemilihan digelar saat ini, Prabowo memperoleh 31,6 persen. Dedi Mulyadi menempati posisi kedua dengan 11,4 persen, diikuti Anies Baswedan sebesar 10,1 persen.
Berikutnya, Gibran Rakabuming Raka memperoleh 6,9 persen dan Ganjar Pranowo sebesar 4,4 persen. Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) meraih 2,3 persen, sedangkan Mahfud MD memperoleh 1,7 persen.
Nama lain yang masuk dalam jawaban responden, yakni Sherly Tjoanda sebesar 1,1 persen, Purbaya Yudhi Sadewa dan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok masing-masing 0,8 persen, serta Pramono Anung sebesar 0,6 persen. Muhaimin Iskandar dan Sugiono masing-masing memperoleh 0,2 persen.
Sementara, Rocky Gerung, Abdul Somad, Kaesang Pangarep, Erick Thohir, Bahlil Lahadalia, dan Yusril Ihza Mahendra masing-masing meraih 0,1 persen. Kategori lainnya tercatat 1,9 persen, sedangkan 25,5 persen responden belum menentukan pilihan atau menjawab tidak tahu.
3. Elektabilitas Prabowo 40,5 persen dalam simulasi lima nama

Presiden Prabowo Subianto menjadi Inspektur Upacara Peringatan HUT ke-81 TNI, Senin (5/10/2026). (IDN Times/Ilman Nafi'an) PPI juga menguji elektabilitas lima tokoh yang dinilai berpotensi maju dalam Pilpres mendatang. Dalam simulasi ini, Prabowo memperoleh 40,5 persen, sedangkan Anies berada di posisi kedua 17,7 persen. AHY menempati posisi berikutnya dengan 14 persen, disusul Gibran sebesar 12,2 persen. Sementara, Pramono Anung memperoleh 3,9 persen.
Dalam skenario tersebut, Prabowo masih memimpin dengan selisih 22,8 poin persentase dari Anies. Meski demikian, Anies tetap menjadi tokoh dengan elektabilitas tertinggi kedua di antara lima nama yang diuji.
Sementara, pada simulasi yang mengerucutkan pilihan menjadi tiga nama, Prabowo kembali berada di posisi teratas dengan elektabilitas 41,5 persen. Anies menyusul dengan 21,8 persen, sedangkan Pramono memperoleh 6,7 persen.
Sedangkan, responden yang belum menentukan pilihan mencapai 30,1 persen. Besarnya angka tersebut menunjukkan masih terdapat bagian responden yang belum menetapkan pilihan dalam skenario tiga nama.
Jika dibandingkan dengan simulasi lima nama, elektabilitas Prabowo meningkat dari 40,5 persen menjadi 41,5 persen. Elektabilitas Anies juga naik dari 17,7 persen menjadi 21,8 persen ketika pilihan dipersempit menjadi tiga tokoh.
4. Dedi Mulyadi unggul dalam elektabilitas calon wakil presiden

Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi (IDN Times/Azzis Zulkhairil) Survei PPI turut mengukur elektabilitas calon wakil presiden (cawapres) melalui pertanyaan terbuka. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM) menempati posisi pertama dengan 21 persen. Gibran Rakabuming Raka berada di posisi kedua dengan 14,2 persen. Selanjutnya, AHY memperoleh 7,1 persen dan Anies Baswedan 7 persen.
Purbaya Yudhi Sadewa meraih 4,8 persen, Mahfud MD 4,4 persen, Sherly Tjoanda 3,2 persen, Ahok 3,1 persen, dan Ganjar Pranowo 2,6 persen. Sementara itu, Teddy Indra Wijaya memperoleh 1,4 persen.
Muhaimin Iskandar dan Kaesang Pangarep masing-masing meraih 0,9 persen. Susi Pudjiastuti memperoleh 0,8 persen, sedangkan Anis Matta dan Zulkifli Hasan masing-masing memperoleh 0,7 persen.
Nama lain yang masuk daftar, yakni Bahlil Lahadalia sebesar 0,5 persen, Jusuf Kalla 0,4 persen, serta Pramono Anung, Puan Maharani, dan Sugiono masing-masing memperoleh 0,3 persen.
Ridwan Kamil dan Irfan Hakim masing-masing meraih 0,2 persen. Adapun Andi Amran Sulaiman, Raffi Ahmad, Sudaryono, Al Muzzammil Yusuf, Yusril Ihza Mahendra, Erick Thohir, Emil Dardak, dan Rieke Diah Pitaloka masing-masing memperoleh 0,1 persen. Kategori lainnya mencapai 3,5 persen, sedangkan 20,8 persen responden tidak menjawab.
Adi Prayitno mengatakan, KDM tidak dimasukkan dalam simulasi capres, karena berada dalam satu partai bersama Prabowo. Menurutnya, apabila memasukkan nama KDM, sama dengan mengadu sesama kader Partai Gerindra.
5. Metode survei PPI Oktober 2026

Ilustrasi survei (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa) Survei PPI edisi Oktober 2026 melibatkan target 1.200 responden yang tersebar secara proporsional di 38 provinsi, 116 kabupaten/kota, 120 kecamatan, serta 120 desa atau kelurahan.
Responden merupakan penduduk berusia minimal 17 tahun atau sudah menikah. Kerangka sampel menggunakan data kelurahan dan jumlah pemilih pada Pemilu 2024 dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI. Stratifikasi dilakukan berdasarkan jenis kelamin dan agama.
Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka pada 26 September hingga 6 Oktober 2026. Survei ini memiliki tingkat kepercayaan 95 persen dengan margin of error sebesar 2,83 persen.






















