Dua Petani Perempuan Indonesia Raih Penghargaan FAO 2026 di Roma

Rulyantina dari Banten dan Istiqamah dari Aceh meraih penghargaan 100 Women Heroes FAO 2026 di Roma atas kontribusi pada inovasi pertanian, ketahanan pangan, dan produk lokal.
Rulyantina mengolah talas beneng dengan pendekatan minim limbah, menciptakan produk bernilai tambah, mendukung diversifikasi pangan lokal, serta membuka peluang usaha bagi perempuan dan UMKM perdesaan.
Istiqamah memperkuat koperasi kopi beranggotakan 980 petani, menjaga kualitas dan ekspor ke berbagai negara, sekaligus mendorong budidaya agroforestri berkelanjutan.
Jakarta, IDN Times – Dua petani perempuan Indonesia, Rulyantina dari Pandeglang, Banten, dan Istiqamah dari Aceh, meraih penghargaan 100 Women Heroes FAO 2026 di Roma, Italia. Keduanya mendapat pengakuan atas kontribusi dalam mengembangkan inovasi pertanian, memperkuat ketahanan pangan, dan meningkatkan daya saing produk lokal.
Penghargaan tersebut diberikan oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (Food and Agriculture Organization/FAO) dalam rangka International Year of the Woman Farmer 2026.
Atase Pertanian Republik Indonesia di Italia, Muharfiza, menyebut penghargaan ini sebagai kesempatan untuk memperkenalkan kontribusi perempuan Indonesia kepada dunia.
“Pengakuan ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kiprah perempuan Indonesia kepada dunia,” kata Muharfiza, dikutip dari ANTARA pada Minggu (18/10/2026).
1. Rulyantina mengolah talas beneng menjadi produk bernilai tambah

ilustrasi talas (pexels.com/Daniel Dan) Rulyantina yang dikenal dengan sebutan Unni Talas Beneng merupakan inovator pangan asal Pandeglang, Banten. Dia mengembangkan talas beneng, salah satu komoditas umbi lokal khas Banten, menjadi beragam produk bernilai tambah melalui pendekatan zero waste atau minim limbah.
Inovasi tersebut turut mendukung diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat perdesaan, terutama perempuan dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Pengembangan talas beneng yang dilakukannya juga mendapat pendampingan dari Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Banten. Dukungan tersebut diharapkan dapat memperluas pemanfaatan komoditas khas daerah sebagai sumber pangan alternatif dan penggerak ekonomi masyarakat.
“Rulyantina menunjukkan bagaimana komoditas pangan lokal dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah,” kata Murhafiza.
2. Istiqamah memperluas pasar kopi Aceh ke luar negeri

ilustrasi biji kopi murni dari Bali (unsplash.com/Andrey Bond) Istiqamah dari Aceh berkontribusi dalam pengembangan usaha perkebunan kopi melalui perannya sebagai sekretaris koperasi. Koperasi tersebut menaungi 980 anggota dan mengelola lahan perkebunan kopi seluas lebih dari 1.200 hektare.
Dia turut mendukung penguatan kelembagaan petani, menjaga standar kualitas kopi, serta memperluas akses pemasaran ke pasar internasional. Produk kopinya telah dipasarkan ke sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, Belanda, Inggris, Jerman, Jepang, dan Qatar.
Selain itu, Istiqamah juga mendorong praktik budidaya kopi berbasis agroforestri berkelanjutan. Pendekatan ini mendukung pelestarian hutan, menjaga kesehatan tanah, dan mempertahankan ketersediaan air.
“Istiqamah memperlihatkan pentingnya penguatan kelembagaan petani, peningkatan kualitas produk, dan perluasan akses pasar internasional,” ujar Murhafiza.
3. Penghargaan FAO mengakui kontribusi perempuan di sektor pertanian

ilustrasi penghargaan (IDN Times/Aditya Pratama) Penghargaan 100 Women Heroes FAO 2026 menjadi bentuk pengakuan internasional terhadap kontribusi perempuan dalam pembangunan sektor pertanian.
“Pengalaman kedua penerima penghargaan tersebut mencerminkan beragam kontribusi perempuan dalam rantai usaha pertanian, baik melalui inovasi pengolahan hasil, pengembangan usaha berbasis potensi lokal, maupun penguatan koperasi untuk meningkatkan posisi tawar petani,” kata Murhafiza.
Penghargaan ini juga menunjukkan betapa pentingnya dukungan terhadap perempuan di bidang pertanian, termasuk melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia, perluasan akses pasar, serta penerapan praktik usaha yang berkelanjutan.




















