Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kemenhut: Karhutla di Kalbar Alami Penurunan, Bergeser ke Sumatera Selatan

Kemenhut: Karhutla di Kalbar Alami Penurunan, Bergeser ke Sumatera Selatan
Menhut Raja Antoni saat meninjau lokasi karhutla di Kabupaten Banjar, Kalsel, Minggu (23/8/2026). (dok.Kemenhut)
  • Kemenhut mencatat titik panas karhutla di Kalimantan Barat turun menjadi 28 titik berdasarkan data Sipongi per 23 Agustus 2026 malam.
  • Asap masih terlihat meski api permukaan tidak ditemukan, karena karakteristik lahan gambut membuat pembakaran tidak sempurna.
  • Hotspot terbanyak bergeser ke Sumatera Selatan dengan 127 titik, sementara Menhut meminta pembaruan Sipongi dilakukan empat kali sehari.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Perlukah Sipongi diperbarui empat kali sehari?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mencatat adanya penurunan jumlah titik panas (hotspot) kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat. Sementara itu, terdapat kenaikan titik hotspot di Sumatera Selatan (Sumsel).

Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Antoni mengatakan, berdasarkan data Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Sipongi) per pukul 23.59 malam (23/8/2026) jumlah titik panas (hotspot) di Kalbar telah turun menjadi 28 titik.

Angka tersebut tersebar di sejumlah wilayah, dengan 16 titik di Ketapang, 11 titik di Melawi, dan 1 titik di Kubu Raya.

“Kalbar sendiri ya, Kalbar 28 hotspot. Yang terbanyak itu di Ketapang 16, kemudian di Melawi 11, dan 1 ada di Kubu Raya,” kata Menhut dalam keterangan tertulisnya, Senin (24/8/2026). 

  1. 1. Asap masih terlihat

    IMG_0101.jpeg
    Menhut Raja Juli Antoni saat meninjau lokasi karhutla di Guntung Damar, Kalimantan Selatan, Minggu (23/8/2026). (dok. Kemenhut)

    Meski hotspot menurun, Menhut mengingatkan kondisi tersebut tidak berarti persoalan asap telah selesai. Saat meninjau lokasi, tidak terlihat ada lagi api di permukaan, namun asap masih terlihat.

    Menurut Menhut Raja Antoni kondisi tersebut berkaitan dengan karakteristik lahan gambut yang membuat pembakaran tidak sempurna.

    “Tidak adanya hotspot tidak berarti aman dari asap. Karena ini memang daerah gambut ya. Pembakaran tidak sempurna, sehingga asapnya lebih banyak ketimbang di tanah mineral,” ujarnya.

  2. 2. Terdapat 127 titik hotspot di Sumsel

    IMG_0099.jpeg
    Menhut Raja Antoni saat meninjau lokasi karhutla di Kabupaten Banjar, Kalsel, Minggu (23/8/2026). (dok.Kemenhut)

    Menhut mengatakan, perkembangan hotspot secara nasional juga menunjukkan pergeseran. Jika beberapa hari sebelumnya hotspot terbanyak berada di Kalimantan, namun berdasarkan data Sipongi pada Minggu (23/8/2026) malam, jumlah terbanyak justru tercatat di Sumatera.

    Sumatera Selatan (Sumsel) mencapai 127 hotspot, Riau 54, dan Jambi 47.

    “Data lapangan sangat dinamis secara nasional, karena memang ini sangat sulit diprediksi,” katanya.

  3. 3. Menhut minta sistem Sipongi diperbarui lebih intensif

    IMG_0102.jpeg
    Menteri Kehutanan (Mengut) Raja Antoni mendadak mengumpulkan seluruh jajaran Kementerian Kehutanan saat melakukan peninjauan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan (Kalsel) pada Minggu (23/8/2026). (Dok. Kemenhut)

    Sebelumnya, Menhut meminta jajarannya agar pemantauan kondisi karhutla melalui Sistem Sipongi diperbarui lebih intensif.

    Data tersebut diminta tidak berhenti pada informasi titik panas, tetapi dianalisis dengan informasi spasial lain untuk menentukan prioritas penanganan.

    “Update Sipongi rutinkan sehari empat kali. Data itu overlay dengan kawasan hutan, jenis tanah, serta pemegang izinnya (PPKH, PBPH, PS, Konservasi dan lainnya),” ujar Menhut.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More