Balita di NTT Meninggal, Menteri PPPA Soroti Risiko di Pengungsian

- Balita berusia 2 tahun, Mario Calviano Guru, meninggal setelah menjalani perawatan medis usai berada di pengungsian Nagekeo.
- Kemenkes menyebut Mario meninggal karena kedinginan dan faktor cuaca saat sakit.
- Kemen PPPA berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan mendorong pemenuhan kebutuhan kesehatan serta perlindungan anak selama tanggap darurat.
Jakarta, IDN Times - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, menyoroti keselamatan anak di pengungsian korban gempa, setelah balita di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), meninggal dunia. Pemerintah diminta memastikan kebutuhan khusus anak, mulai kesehatan, gizi, hingga perlindungan dari cuaca ekstrem, terpenuhi selama situasi darurat.
“Kami menyampaikan duka cita yang mendalam atas meninggalnya seorang balita di pengungsian Kabupaten Nagekeo. Kami turut prihatin atas kejadian ini. Dalam situasi bencana, anak merupakan kelompok yang rentan, terlebih bayi dan balita yang memiliki kebutuhan khusus. Karena itu, keselamatan, kesehatan, dan pemenuhan kebutuhan anak harus menjadi perhatian dan prioritas bersama,” ujar Arifah, dikutip Senin (24/8/2026).
1. Anak rentan di tengah kondisi pengungsian

Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB Dr. Raditya Jati mendampingi Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak saat penyerahan bantuan spesifik perempuan dan anak terdampak gempabumi NTT di Pos Dukungan Logistik Nasional Penanggulangan Darurat Bencana (PDB) Gempabumi NTT Halim Perdanakusuma, Jakarta (23/8/2026). (Dok. BNPB) Arifah mengatakan anak menghadapi sejumlah risiko selama berada di lokasi pengungsian. Keterbatasan tempat tinggal, cuaca ekstrem, air bersih, sanitasi, makanan bergizi, pakaian, selimut, hingga akses layanan kesehatan menjadi persoalan yang harus diperhatikan dalam penanganan bencana.
“Beberapa hal yang harus diperhatikan adalah keterbatasan tempat tinggal yang layak, perlindungan dari cuaca ekstrem, air bersih dan sanitasi, makanan bergizi, pakaian dan selimut, serta akses terhadap layanan kesehatan yang tidak sesuai standar yang dapat berdampak langsung terhadap kondisi kesehatan dan keselamatan anak," kata dia.
2. Kemen PPPA koordinasi soal balita Nagekeo

Rumah rusak akibat gempa di NTT (dok. BNPB) Kemen PPPA menyatakan telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah terkait meninggalnya balita tersebut. Berdasarkan informasi yang diterima, balita tersebut tinggal di Desa Tonggurambang, Kecamatan Aesesa, dan berada di Posko Pura Desa Tonggurambang. UPTD PPA setempat sebelumnya juga telah mengunjungi lokasi dan memberikan bantuan.
“Kami telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah terkait kondisi balita yang meninggal di lokasi pengungsian," kata Arifah.
3. Pemerintah diminta pastikan anak terlindungi

Warga melintas di samping bangunan rumah yang roboh akibat gempa bumi magnitudo 7,7 di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, NTT, Rabu (19/8/2026). (Dok. BNPB) Kemen PPPA mendorong pemenuhan hak kesehatan anak tetap menjadi prioritas selama tanggap darurat. Selain kebutuhan dasar, pemerintah diminta memperkuat ruang aman, dukungan psikososial, serta mekanisme pengaduan dan rujukan untuk mencegah kekerasan, eksploitasi, dan penelantaran.
“Dalam setiap tahapan penanganan bencana, mulai dari evakuasi, pengungsian hingga pemulihan, kepentingan terbaik anak harus menjadi pertimbangan utama. Kebutuhan anak perlu diperhatikan dalam penentuan lokasi pengungsian, penyediaan kebutuhan dasar, layanan kesehatan, distribusi bantuan, hingga pengawasan terhadap keamanan anak,” kata Arifah.
Balita berusia dua tahun, Mario Calviano Guru, meninggal dunia pada Kamis, 20 Agustus 2026, setelah sempat menjalani perawatan medis. Mario sebelumnya berada di Posko Pengungsian Bukit Puta, Nagekeo, pascagempa magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026.
Kemenkes menyebut Mario meninggal karena kedinginan dan faktor cuaca saat sakit, bukan akibat tertimpa bangunan. Keluarga dan relawan sebelumnya menyoroti keterbatasan selimut, tenda, air bersih, obat-obatan, serta fasilitas kesehatan di lokasi pengungsian. Mario juga sempat dibawa ke Rumah Sakit Aeramo dan dirujuk ke Rumah Sakit Bajawa, namun nyawanya tidak tertolong.




















