Kisah Pegiat UMKM Ubah Singkong Jadi Nori, Dongkrak Ekonomi Desa

- Nurlaela, pegiat UMKM asal Magelang, berhasil mengubah daun singkong menjadi nori bernilai jual tinggi berkat pelatihan dan dukungan program Desa Emas kolaborasi Yayasan Indonesia Setara dan Inotek.
- Inovasi nori daun singkong meningkatkan pendapatan warga desa melalui KUB Sari Rejeki, memberdayakan ibu rumah tangga serta menaikkan harga beli singkong dari petani lokal hingga empat kali lipat.
- Sandiaga Uno menilai kisah Nurlaela sebagai bukti bahwa inovasi berbasis potensi lokal mampu menciptakan perubahan sosial nyata dan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat pedesaan.
Jakarta, IDN Times - Nurlaela, pegiat UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) dari Magelang, Jawa Tengah, menyulap komoditas singkong menjadi pintu lahirnya perubahan, sehingga berhasil mengangkat derajat kesejahteraan banyak keluarga di desanya.
Nurlaela merupakan pegiat UMKM binaan Desa Emas Program kolaborasi Yayasan Indonesia Setara dan Inotek, yang diinisiasi mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno.
Berawal dari kegelisahan melihat hasil panen petani yang kerap tidak terserap pasar, dan hanya dihargai ratusan rupiah per kilogram, Nurlaela mencoba mencari jalan keluar.
Ia tidak ingin singkong yang melimpah di kampungnya terus dipandang sebelah mata. Dari dapur rumahnya yang sederhana, ia mulai bereksperimen mengolah singkong menjadi keripik presto. Inovasi tersebut berkembang menjadi produk unik, yakni nori berbahan daun singkong.
Daun singkong yang hanya dianggap limbah pertanian, kini memiliki nilai tambah. Produk tersebut perlahan menarik perhatian pasar dan membuka peluang usaha yang semakin luas.
"Saya bersyukur sekali, dapat pelatihan dari 0 sampai pelatihan ekspor, dari perbaikan kemasan, fotografi produknya jadi lebih bagus, desain kemasan dibuatkan yang baru, dan diberikan alat bantu produksi," kata Nurlaela, Jumat (19/6/2026).
1. Membuka peluang besar untuk nori singkong

Perjalanan usaha yang dirintisnya tidak selalu berjalan mulus. Keterbatasan pengetahuan, akses pasar, hingga kemampuan produksi sempat menjadi tantangan yang harus dihadapi.
Momentum perubahan datang ketika Nurlaela mengikuti program pembinaan Desa Emas, hasil kolaborasi Yayasan Indonesia Setara dan Inotek. Melalui program tersebut, ia mendapatkan berbagai pelatihan, mulai dari pengembangan produk, perbaikan kemasan, fotografi produk, hingga pelatihan ekspor.
Tak hanya itu, kesempatan mengikuti pameran di Jakarta mempertemukannya dengan berbagai calon pembeli dan mitra usaha. Dari sana, produk-produknya mulai dikenal lebih luas dan mendapatkan pesanan dari berbagai daerah.
"Alhamdulilah, saya juga bisa ikut pameran di Jakarta, bisa ketemu dengan buyer-buyer yang luar biasa hebatnya, dan sampai saat ini banyak sekali konsumen yang mau beli produk-produk saya dari luar kota, karena mungkin produk saya masih jarang di pasaran," ujar Nurlaela.
2. Mendongkrak penghasilan petani singkong

Perkembangan usaha Nurlaela berlangsung pesat. Jika sebelumnya ia mampu mengolah sekitar lima kilogram singkong per hari, kini kapasitas produksinya mencapai satu kuintal per hari. Produksi nori daun singkong meningkat seiring bertambahnya permintaan pasar.
Namun, bagi Nurlaela, keberhasilan tidak semata diukur dari besarnya omzet atau kapasitas produksi. Ada tujuan besar yang ingin ia capai, yakni menghadirkan manfaat bagi masyarakat sekitar. Keinginan tersebut mendorongnya membentuk Kelompok Usaha Bersama (KUB) Sari Rejeki.
Melalui kelompok ini, ia mengajak ibu-ibu rumah tangga yang kesulitan mendapatkan penghasilan tetap, untuk ikut terlibat dalam proses produksi. Langkah tersebut perlahan mengubah kehidupan banyak keluarga.
Para anggota KUB yang sebelumnya bekerja sebagai buruh tani dengan upah sekitar Rp20 ribu hingga Rp25 ribu per hari, kini memiliki kesempatan memperoleh pendapatan yang lebih baik. Melalui kegiatan produksi keripik singkong dan nori daun singkong, mereka memperoleh penghasilan sekitar Rp50 ribu hingga Rp60 ribu per hari.
Bagi sebagian keluarga, tambahan pendapatan itu menjadi penyangga kebutuhan rumah tangga. Uang hasil bekerja di KUB digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan, biaya pendidikan anak, hingga membantu ekonomi keluarga ketika pekerjaan suami sebagai buruh proyek atau pekerja harian sedang tidak tersedia.
"Saya ingin menambah karyawan lagi dan semakin mensejahterakan teman-teman di KUB," ungkap Nurlaela.
Dampak usaha tersebut juga dirasakan para petani singkong di sekitar desa. Kebutuhan bahan baku yang terus meningkat, membuat permintaan singkong ikut bertambah.
Jika sebelumnya harga singkong hanya berkisar Rp500 per kilogram, KUB Sari Rejeki membeli hasil panen petani dengan harga sekitar Rp2.000 per kilogram. Kenaikan harga tersebut memberikan tambahan pendapatan yang signifikan bagi petani, sekaligus mendorong masyarakat kembali menanam singkong.
3. Sandiaga Uno sebut inovasi menghadirkan perubahan

Founder Yayasan Indonesia Setara, Sandiaga Salahuddin Uno, menilai kisah Nurlaela menunjukkan inovasi berbasis potensi lokal mampu menghadirkan perubahan sosial yang nyata.
"Dari singkong dan daun singkong yang dulu dianggap biasa, kini tumbuh harapan baru bagi perempuan, petani, dan keluarga desa, untuk meraih kehidupan yang lebih sejahtera," ujar Sandiaga.
Di tengah tantangan ekonomi pedesaan, kisah Nurlaela menjadi pengingat bahwa perubahan besar tidak selalu lahir dari sumber daya yang besar. Terkadang, harapan itu tumbuh dari sesuatu yang sederhana—seperti singkong yang diolah dengan kreativitas, ketekunan, dan semangat untuk memberdayakan sesama.














![[QUIZ] Tebak Nama Presiden Negara Peserta Piala Dunia 2026 Saat Ini, Bisa Jawab?](https://image.idntimes.com/post/20260626/upload_eb303502a2c25570fd881db56061c870_42c4a4ab-ef89-471a-80da-777dc3f4c599.jpg)



