RI Kekurangan Dokter, Menkes Soroti Beban Kerja yang Makin Berat

- Menkes Budi Gunadi Sadikin ungkap Indonesia kekurangan dokter, banyak puskesmas tanpa tenaga medis tetap dan sejumlah dokter memegang hingga tiga Surat Izin Praktik (SIP).
- Kekurangan tenaga medis membuat dokter magang sering dipekerjakan menggantikan dokter tetap, menambah beban kerja dan menunjukkan lemahnya distribusi SDM kesehatan.
- Budi soroti ketimpangan pendapatan dan distribusi izin praktik antar daerah, di mana sebagian dokter mendapat tunjangan tinggi sementara lainnya kesulitan memperoleh tempat praktik.
Jakarta, IDN Times - Menteri Kesehatan (Menkes) RI, Budi Gunadi Sadikin mengatakan, Indonesia saat ini tengah mengalami degradasi dokter sehingga beban kerja mereka bertambah. Ia mengatakan, banyak puskesmas yang tidak memiliki dokter, termasuk dokter spesialis.
Budi mengatakan, saat ini banyak dokter yang mengantongi sampai tiga Surat Izin Praktik (SIP). Fenomena ini menjadi salah satu bukti nyata bahwa Indonesia kekurangan dokter.
"Masalah utamanya karena memang kita kekurangan dokter sehingga akibatnya bebannya tinggi sekali. Cara yang paling gampang misalnya kekurangan dokter, karena SIP-nya masih 3. Kalau SIP 3 itu artinya yang ada hanya sepertiga dari yang dibutuhkan. Kalau jumlah dokter cukup, udah pasti SIP-nya 1. Karena memang dia bekerja di 1 tempat," kata Menkes dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI, Jakarta, Kamis (25/6/2026).
1. Dokter magang terpaksa harus dipekerjakan

Budi menyampaikan, tenaga medis dan tenaga kesejatan merupakan komponen penting dalam transformasi kesehatan nasional. Menurut dia, perbaikan tenaga kesehatan ini menjadi salah satu faktor penting menuju terwujudunya sistem kesehatan nasional yang jauh lebih baik.
Menurut dia, sumberdaya manusia (SDM) di sektor kesehatan paling strategis di luar komponen obat-obatan hingga fasilitas kesehatan. Akibatnya, sering kali banyak dokter magang yang pada akhirnya harus dipekerjakan.
"Masalah pertama yang kita lihat adalah beban dari dokter itu banyak sekali. Jadi kita sering sekali denger, internship itu dipekerjakan pengganti dokter yang ada BPJS, RSUD, sampe pagi-pagi subuh-subuh," kata Menkes.
2. Menkes soroti besaran ketimpangan pendapatan dokter

Pada kesempatan itu, Budi turut menyoroti besarnya ketimpangan pendapatan di kalangan tenaga medis. Budi menyebut terdapat dokter yang memperoleh pendapatan sangat besar, sementara sebagian lainnya hanya mendapatkan penghasilan yang relatif kecil.
Sebagai contoh, Budi mengungkapkan adanya perbedaan tunjangan dokter spesialis di sejumlah daerah. Di Kabupaten Bone, tunjangan dokter spesialis tercatat sebesar Rp 3 juta, sedangkan di Kabupaten Mahakam Ulu mencapai Rp 80 juta.
"Ini adalah salah satu bidang di mana gap-nya tinggi sekali. Mungkin bisa ribuan kali antara yang paling atas dan paling bawah. Nah, ini yang menurut saya itu harus ditata karena kita dengar adalah yang mengeluh di bawah. Kenapa? Karena memang distribusinya yang luar biasa timpang," kata dia.
3. Soroti distribusi kesempatan izin praktik

Ia juga menyinggung perbedaan tunjangan dokter gigi di beberapa daerah. Menurut Budi, terdapat daerah yang hanya memberikan tunjangan sekitar Rp 1 juta, sementara daerah lain mampu memberikan hingga Rp 30 juta.
Selain soal tunjangan, Menkes juga menyoroti distribusi kesempatan praktik dokter. Ia mengatakan masih terdapat dokter yang memiliki Surat Izin Praktik (SIP) di beberapa fasilitas kesehatan sekaligus, sementara dokter muda kesulitan mendapatkan tempat praktik karena kuota yang tersedia sudah terisi.
"Ada dokter muda mau masuk enggak bisa karena SIP-nya sudah terisi oleh dokter-dokter yang lama. Padahal dokter-dokter yang lama itu mungkin kerjanya enggak penuh di rumah sakit. Dan itu mendapatkan hasil penghasilannya mungkin 3.000 kali lipat dibandingkan dokter baru yang mau masuk," kata dia.


















