Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

AS-Korsel Bakal Latihan Militer Gabungan, Lawan Ancaman Korut

AS-Korsel Bakal Latihan Militer Gabungan, Lawan Ancaman Korut
Pasukan Korea Selatan (Korsel). (U.S. Army photo by Pfc. Seu Chan, Public domain, via Wikimedia Commons)
  • Korsel dan AS menggelar latihan Ulchi Freedom Shield pada 17-27 Agustus 2026, berfokus pada ancaman Korut, drone, gangguan GPS, serangan siber, dan kesiapsiagaan darurat.
  • Sekitar 18 ribu tentara Korsel serta 70 personel dari 11 negara UNC terlibat; latihan lapangan tingkat batalion atau lebih tinggi dikurangi dari 17 menjadi 14.
  • Latihan menyesuaikan pengalaman tempur pasukan Korut di Ukraina, di tengah ketegangan antarkorea, perluasan senjata nuklir dan misil Pyongyang, serta peluncuran rudal balistik terbaru.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times Korea Selatan (Korsel) dan Amerika Serikat (AS) akan menggelar latihan militer gabungan Ulchi Freedom Shield (UFS) pada 17-27 Agustus 2026 untuk merespons perkembangan ancaman dari Korea Utara (Korut). Latihan tahunan tersebut mencakup peningkatan kemampuan drone, gangguan GPS, serta serangan siber.

Latihan tersebut juga akan menguji operasi militer sekaligus mendukung latihan kesiapsiagaan darurat pemerintah Korsel. Seoul dan Washington menegaskan bahwa latihan UFS hanya berfokus pada ancaman terhadap Semenanjung Korea dan pertahanan Negeri Ginseng.

Mengutip laporan The Straits Times, sekitar 18 ribu tentara Korsel akan terlibat dalam latihan tersebut. Jumlah itu relatif sama dengan pelaksanaan latihan pada tahun-tahun sebelumnya. Namun, jumlah latihan lapangan gabungan pada tingkat batalion atau lebih tinggi akan dikurangi menjadi 14 latihan, dari 17 latihan pada 2025.

Selain itu, sebanyak 70 personel dari 11 negara anggota Komando PBB (UNC) juga akan berpartisipasi. Sementara itu, Komisi Pengawas Negara-Negara Netral akan mengawasi latihan untuk memantau kepatuhan terhadap Perjanjian Gencatan Senjata.

  1. 1. Kapabilitas pasukan Korut dinilai meningkat setelah dikerahkan di Ukraina

    ilustrasi tentara Ukraina (pixabay.com/LukasJohnns)
    ilustrasi tentara Ukraina (pixabay.com/LukasJohnns)

    Latihan UFS tahun ini turut menyesuaikan perkembangan karakter peperangan yang melibatkan penggunaan sistem tanpa awak, peperangan elektronik, dan operasi siber. Direktur Urusan Publik Komando Pasukan Gabungan, Komando PBB, dan Pasukan AS di Korea (USFK), Ryan Donald, mengatakan pasukan Korut telah memperoleh pengalaman tempur setelah dikerahkan ke Ukraina.

    Menurut Donald, pengalaman tersebut mengubah kemampuan militer Pyongyang. Oleh karena itu, latihan gabungan Korsel-AS akan menyesuaikan pelatihan mereka dengan ancaman tersebut, dikutip dari The Korea Times.

    Pengerahan pasukan dan amunisi Korut ke Rusia sebelumnya memunculkan kekhawatiran di antara Seoul, Washington, dan sejumlah pihak lainnya. Mereka khawatir Moskow telah memberikan teknologi sensitif kepada Pyongyang yang dapat meningkatkan kemampuan program nuklir dan misil negara tersebut.

  2. 2. Ketegangan hubungan antara Korut dan Korsel

    Bendera Korea Selatan (Korsel) (pexels.com/byunghyun lee)
    Bendera Korea Selatan (Korsel) (pexels.com/byunghyun lee)

    Latihan gabungan Korsel-AS berlangsung ketika hubungan antara Seoul dan Pyongyang masih tegang. Korut semakin memperkeras sikapnya melalui perubahan konstitusi pada 2026 yang menghapus sejumlah rujukan mengenai reunifikasi dan mendefinisikan wilayahnya sebagai wilayah yang berbatasan dengan Korsel.

    Klausul pertahanan dalam konstitusi Korut juga menyebut negara tersebut sebagai negara nuklir yang bertanggung jawab. Klausul tersebut sekaligus menetapkan bahwa Korut akan terus mengembangkan persenjataan nuklirnya.

    Pyongyang secara rutin mengecam latihan militer Korsel dan AS sebagai tindakan provokatif yang meningkatkan ketegangan di Semenanjung Korea. Pyongyang juga secara konsisten menyebut latihan tersebut sebagai persiapan untuk menginvasi negaranya, yang kemudian direspons dengan uji coba senjata dan pernyataan bernada keras.

  3. 3. Pyongyang meningkatkan persenjataan nuklirnya

    bendera Korea Utara (pixabay.com/Chickenonline)
    bendera Korea Utara (pixabay.com/Chickenonline)

    Pyongyang terus memperluas persenjataan nuklir dan misilnya sejak diplomasi tingkat tinggi antara Pemimpin Korut Kim Jong Un dan Presiden AS Donald Trump runtuh pada 2019. Para pakar menilai bahwa Kim kemungkinan menganggap persenjataan yang lebih besar dapat memperkuat posisi negaranya untuk mendapatkan lebih banyak konsesi dari Washington dalam negosiasi.

    Pada Kamis lalu, Korsel, AS, dan Jepang mendeteksi peluncuran rudal balistik jarak pendek dari Korut. Peluncuran tersebut menjadi aktivitas uji coba senjata balistik pertama sejak akhir Juni. Rudal itu jatuh di perairan lepas pantai timur Korut, mengutip ABC News.

    Seoul dan Tokyo mengecam peluncuran tersebut sebagai tindakan provokatif dan ancaman. Sejumlah resolusi Dewan Keamanan PBB melarang Pyongyang melakukan aktivitas terkait rudal balistik. Sementara itu, Komando Pasifik AS menegaskan bahwa Washington tetap berkomitmen untuk mempertahankan wilayahnya serta negara-negara sekutunya di kawasan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More