Mensos: Sekolah Rakyat Setahun Jangkau 15 Ribu Siswa Miskin Esktrem

Sekolah rakyat telah menjangkau lebih dari 15 ribu siswa miskin dan miskin ekstrem di 166 lokasi rintisan di 34 provinsi selama satu tahun berjalan.
Program ini menjadi strategi pemerintah memutus rantai kemiskinan antargenerasi dengan memberi akses pendidikan bagi anak serta pemberdayaan ekonomi bagi orang tua.
Pemerintah menyiapkan jalur pendidikan lanjutan dan pekerjaan bagi lulusan, sambil mempercepat pembangunan 93 gedung sekolah dan pengembangan 108 modul pembelajaran.
Jakarta, IDN Times – Menteri Sosial (Mensos) Syaifullah Yusuf mengatakan, sekolah rakyat (SR) dalam satu tahun telah menjangkau lebih dari 15 ribu siswa dari keluarga miskin serta miskin ekstrem dengan 166 lokasi sekolah rintisan di 34 provinsi.
“Hampir satu tahun berjalan, sekolah rakyat membuktikan bahwa negara tidak boleh kalah oleh kemiskinan. Anak-anak yang selama ini tak terlihat, yang tak pernah tersentuh pendidikan, hari ini kita jemput, kita didik, dan kita siapkan masa depannya. Ini bukan sekadar program, ini gerakan memutus rantai kemiskinan,” kata menteri yang akrab disapa Gus Ipul di Gedung Kemenko PM, Jakarta, Rabu (29/4/2026).
1. Sekolah Rakyat bagian pengentasan kemiskinan

Gus Ipul menegaskan, sekolah rakyat dirancang bukan sekadar memberi akses pendidikan, tetapi menghadirkan intervensi menyeluruh bagi keluarga miskin. Program ini dinilai menjadi bagian dari strategi pemerintah memutus transmisi kemiskinan antargenerasi melalui pendidikan.
“Sekolah rakyat pada dasarnya adalah bagian dari penuntasan kemiskinan. Anaknya sekolah, orang tuanya diberdayakan, dan muaranya setelah lulus mereka menjadi keluarga yang mandiri. Ini miniatur penuntasan kemiskinan,” ujarnya.
2. Siswa dari keadaan ekonomi terbatas

Ia menjelaskan, sebagian besar siswa sekolah rakyat berasal dari kondisi sosial ekonomi sangat terbatas, termasuk anak-anak yang belum pernah sekolah maupun putus sekolah. Dampak program tersebut mulai terlihat, terutama pada aspek kesehatan dan perubahan perilaku siswa.
“Setelah beberapa bulan, berat dan tinggi badan meningkat, anemia menurun, dan anak-anak menjadi lebih disiplin, percaya diri, serta mandiri. Ini terlihat sederhana, tapi sangat mendasar,” ucap Gus Ipul.
3. Tidak boleh ada lulusan SR yang menganggur

Pemerintah juga menyiapkan keberlanjutan masa depan para siswa melalui jalur pendidikan lanjutan maupun pekerjaan sesuai potensi masing-masing.
“Tidak boleh ada lulusan sekolah rakyat yang menganggur. Kita siapkan jalur kuliah maupun pekerjaan sesuai potensi mereka,” katanya.
Seiring perluasan program, pemerintah terus memperkuat dukungan infrastruktur dan tata kelola. Saat ini, sebanyak 93 gedung sekolah dalam proses pembangunan, sekitar 69 persen ditargetkan rampung Juli 2026, serta dilakukan pengembangan 108 modul pembelajaran lintas jenjang.


















