Daftar 9 Kecelakaan Kereta Api Terparah di Indonesia

- Artikel ini merangkum sembilan kecelakaan kereta api paling tragis di Indonesia, dari masa kolonial hingga modern, dengan korban mencapai ratusan jiwa akibat rem blong, sinyal salah, dan human error.
- Kecelakaan paling mematikan terjadi di Lembah Anai tahun 1944 dengan sekitar 200 korban tewas, disusul tragedi Trowek dan Bintaro yang juga menelan banyak korban karena kegagalan teknis serta kesalahan prosedur.
- Insiden terbaru di Stasiun Bekasi Timur tahun 2026 melibatkan tabrakan beruntun antara KRL dan KA jarak jauh setelah taksi listrik mogok di perlintasan, menewaskan 16 orang dan melukai puluhan lainnya.
Jakarta, IDN Times - Kecelakaan kereta api selalu meninggalkan duka mendalam dan catatan kelam dalam sejarah transportasi Indonesia. Dari era kolonial hingga masa modern, sejumlah insiden tragis telah merenggut ratusan jiwa akibat berbagai faktor, mulai dari rem blong di jalur terjal hingga kesalahan sinyal dan faktor kelelahan manusia.
Berikut IDN Times rangkumkan sembilan kecelakaan kereta api terparah yang pernah terjadi di Indonesia, dimulai dari yang paling banyak menimbulkan korban jiwa.
1. Kecelakaan Kereta Api di Lembah Anai, Padang Panjang (22 Desember 1944)

Peristiwa ini menempati urutan pertama kecelakaan kereta api paling parah dengan jumlah korban sekitar 200 jiwa meninggal dan 250 orang luka-luka. Kecelakaan tragis terjadi di jalur terjal Sumatera Barat, yang saat itu masih berada di masa pendudukan Jepang.
Penyebab utama kejadian ini adalah rem blong yang dialami rangkaian kereta, yang menyebabkan kendaraan tidak dapat dikendalikan hingga akhirnya keluar dari rel dan jatuh ke lembah. Insiden Lembah Anai ini menjadi salah satu kecelakaan kereta api paling mematikan dalam sejarah perkeretaapian nasional.
2. Tragedi trowek, Tasikmalaya (28 Mei 1959)

Peristiwa ini terjadi pada 28 Mei 1959. Kecelakaan ini bermula ketika empat gerbong belakang KA 31 Tjepat relasi Banjar-Bandung terlepas di jalur menanjak antara Ciawi–Cipeundeuy, lalu meluncur mundur tanpa kendali dan masuk jurang,
Peristiwa Trowek ini mengakibatkan 92 tewas, 61 luka berat, dan 53 luka ringan. Kemudian diperbarui menjadi 185 tewas dan 200 orang luka berat.
3. Tragedi bintaro, Jakarta Selatan (19 Oktober 1987)

Tragedi Bintaro I disebut sebagai kecelakaan paling tragis dalam sejarah modern Indonesia dengan jumlah 156 korban jiwa. Peristiwa ini melibatkan tabrakan frontal antara KA 225 dan KA 220.
Penyebab utama kecelakaan ini adalah kesalahan prosedur persinyalan serta kondisi kereta yang sangat padat. Tabrakan keras itu mengakibatkan kedua rangkaian kereta hancur dan terguling di tikungan yang kelam.
4. Kecelakaan Trowek, Tasikmalaya (24 September 1962)

Jalur maut Trowek kembali mencatatkan sejarah kelam tiga tahun setelah kecelakaan pertama tepatnya pada tahun 1962 dengan korban meninggal sebanyak 130 jiwa. Kejadian ini nyaris serupa dengan tragedi sebelumnya di tempat yang sama.
Diketahui, kegagalan fungsi rem menyebabkan kereta api anjlok dan jatuh ke dasar jurang. Dua peristiwa besar di lokasi yang sama menjadikan kawasan Trowek, Tasikmalaya, sebagai salah satu titik rawan kecelakaan kereta api paling mematikan di Indonesia.
5. Tabrakan Ratujaya, Depok (20 September 1968)

Peristiwa ini terjadi akibat tabrakan frontal antara kereta api uap dan kereta api diesel yang mengakibatkan 116 orang meninggal dunia. Kecelakaan ini terjadi di lintas Manggarai-Bogor yang saat itu masih berupa jalur tunggal.
Diketahui, penyebab utamanya adalah gangguan sistem komunikasi blok akibat adanya arus liar pada kabel tua yang sudah berusia lebih dari 25 tahun. Indikator sinyal yang berubah dengan sendirinya menyebabkan kedua kereta diberangkatkan secara bersamaan dari arah berlawanan.
6. Kecelakaan Petarukan, Pemalang (2 Oktober 2010)

Kecelakaan ini bermula ketika KA Argo Bromo Anggrek menabrak bagian belakang KA Senja Utama Semarang yang sedang berhenti. Peristiwa terjadi sekitar pukul 03.00 WIB dini hari, tepat 500 meter sebelum Stasiun Petarukan. Diketahui, insiden tragis ini menewaskan 36 orang
Penyebab kejadian ini dipicu oleh masinis yang mengalami microsleep atau mengantuk, sehingga ia tidak menggubris sinyal dari kepala stasiun. Akibatnya, kereta yang melaju dengan kecepatan tinggi itu salah jalur dan menghantam kereta lain dari belakang.
7. Kecelakaan Brebes (25 Desember 2001)

Pada hari Natal 2001, KA Empu Jaya menabrak KA Gaya Baru Malam Selatan yang sedang berhenti di Stasiun Ketanggungan Barat. Peristiwa ini mengakibatkan 31 orang meninggal dunia.
Diketahui, tim penyelidik kecelakaan KA menyimpulkan penyebab kecelakaan ini adalah pelanggaran sinyal yang dilakukan oleh masinis KA Empu Jaya. Menteri Perhubungan saat itu Agum Gumelar menyatakan sistem persinyalan di stasiun berfungsi baik, namun masinis tetap melajukan lokomotif meskipun sinyal sudah menunjukkan lampu merah.
8. Tabrakan Ratujaya, Depok (2 November 1993)

Insiden ini bermula ketika dua KRL ekonomi bertabrakan secara frontal di jalur tunggal yang sama, mengakibatkan 20 korban jiwa dan ratusan orang luka-luka. Diketahui, peristiwa ini terjadi akibat miskomunikasi antara petugas pengatur perjalanan kereta api (PPKA) di Stasiun Depok dan Stasiun Citayam.
Saat itu, sebuah KRL dengan delapan gerbong diberangkatkan dari Depok tanpa mengabarkan jalur aman ke Citayam, sementara di saat bersamaan KRL lain dari arah Bogor baru saja berangkat. Kedua kereta bertemu di tikungan dan tabrakan tak dapat dihindarkan, menyebabkan kereta depan remuk dan terbelah.
9. Tragedi Stasiun Bekasi Timur (27 April 2026)

Insiden terbaru ini telah menewaskan 16 orang dan melukai 88 orang lainnya. Tragedi ini berawal saat sebuah taksi listrik mogok di tengah perlintasan sebidang JPL 85 Ampera dan tertemper oleh KRL PLB 5181 relasi Jakarta-Cikarang. Insiden awal ini menyebabkan rangkaian KRL PLB 5568A yang berada di belakangnya harus melakukan pemberhentian darurat karena jalur di depannya terhalang oleh kecelakaan tersebut.
Kondisi jalur yang terhambat kemudian memicu tabrakan beruntun ketika KA 4 Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya Pasar Turi melaju dari arah yang sama. Kereta jarak jauh tersebut menghantam bagian belakang KRL PLB 5568A yang sedang berhenti di peron 2 Stasiun Bekasi Timur.


















