Sambangi Milan, Wagub Rano Perkuat Kerja Sama di Aspek-Aspek Ini

- Wagub Rano Karno bertemu Wakil Wali Kota Milan untuk memperkuat kerja sama di bidang ruang publik, seni kota, dan ketahanan pangan melalui kolaborasi seniman serta pengembangan urban farming dan sistem distribusi pangan modern.
- Dalam Leadership Exchange Programme Jakarta–Milan di MUDEC, kedua kota saling berbagi pengalaman tentang pengembangan budaya dan seni publik guna menghidupkan ruang kota serta memperkuat identitas budaya masyarakat perkotaan.
- Delegasi DKI Jakarta menjajaki kolaborasi dengan San Siro Stadium untuk belajar pengelolaan stadion internasional, manajemen event, hingga strategi fan engagement demi mengoptimalkan potensi Jakarta International Stadium sebagai ikon sport tourism.
Jakarta terus bertransformasi menjadi kota global. Transformasi tersebut tidak hanya difokuskan pada penguatan sektor ekonomi, tetapi juga pembangunan ruang publik yang aman, nyaman, dan estetik bagi warga.
Untuk mewujudkan visi tersebut, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memperkuat kolaborasi dengan berbagai kota di dunia. Salah satu kota yang menjadi rujukan adalah Milan. Dalam kunjungannya ke Italia, Wagub Rano Karno bertemu dengan Wakil Wali Kota Milan, Anna Scavuzzo, di Balai Kota Milan, Selasa (13/5). Pertemuan tersebut membahas berbagai peluang kerja sama strategis. Berikut rinciannya.
1. Kolaborasi di tiga aspek

Ada tiga hal yang dibahas Rano Karno dan Anna Scavuzzo, yaitu pemanfaatan ruang publik, seni kota, dan ketahanan pangan. Mereka setuju menggelar event antara seniman kedua kota di Jakarta pada Juli 2026. Kegiatan tersebut meliputi workshop dan instalasi seni kota yang dikerjakan bersama oleh seniman Jakarta dan Milan.
“Jakarta ingin ruang publik tidak hanya menjadi tempat berlalu lalang, tetapi juga ruang interaksi, kreativitas, dan kebanggaan warga kota. Seni harus hadir dekat dengan masyarakat,” ujar Wagub Rano.
Dalam lawatannya ke Milan, Wagub Rano bersama delegasi Pemprov DKI Jakarta mempelajari pengelolaan kawasan bersejarah, museum, dan ruang publik agar tetap hidup, nyaman, serta mampu menjadi penggerak ekonomi masyarakat melalui sektor pariwisata, budaya, dan aktivitas kreatif. Pengalaman Milan dinilai relevan bagi Jakarta yang tengah bertransformasi menjadi kota global berbudaya dengan ruang publik yang lebih inklusif dan berdaya saing.
Selain seni dan budaya, kedua kota juga membahas penguatan kerja sama di bidang ketahanan pangan perkotaan. Fokus pembahasan meliputi pengembangan urban farming, pengurangan food waste, serta pembangunan sistem distribusi pangan yang lebih modern dan efisien. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mendukung upaya Jakarta menjaga stabilitas pasokan pangan sekaligus mendorong pola konsumsi masyarakat yang lebih sehat dan berkelanjutan.
2. Wagub Rano Hadiri Leadership Exchange Programme

Wagub Rano juga menghadiri pelaksanaan Leadership Exchange Programme Jakarta–Milan di Museo delle Culture atau MUDEC, Milan, pada 9–16 Mei 2026. Program ini menjadi ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman antara Jakarta dan Milan dalam pengembangan budaya, seni publik, serta aktivasi ruang kota.
Kegiatan ini turut dihadiri Isabella Valentini (World Cities Culture Forum), Marina Pugliese, perwakilan Pemerintah Kota Milan, serta delegasi dan komunitas budaya dari Jakarta dan Milan.
Adapun delegasi Jakarta yang hadir dalam kunjungan tersebut antara lain Muhammad Aidil Usman dari Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta, Mochammad Shabar Untung selaku Ketua Jakarta Mural Community, serta Lambertus Berto Tukan dari Tim Kurator Jakarta 500 sekaligus Gudskul.
Wagub Rano mengatakan Jakarta ingin belajar dari berbagai kota dunia yang berhasil menjadikan seni dan budaya sebagai bagian penting dalam kehidupan masyarakat perkotaan.
“Jakarta ingin menghadirkan ruang publik yang hidup melalui seni dan budaya, sekaligus membuka ruang kolaborasi kreatif bagi masyarakat dan seniman Jakarta. Kota global bukan hanya soal gedung tinggi dan infrastruktur modern, tetapi juga tentang bagaimana masyarakatnya memiliki ruang untuk berekspresi, berinteraksi, dan merasa bangga terhadap identitas kotanya,” ujarnya.
Menurut Wagub Rano, Pemprov DKI Jakarta memandang seni publik bukan sekadar elemen estetika kota, melainkan bagian penting dalam membangun ruang interaksi masyarakat, memperkuat identitas budaya, meningkatkan daya tarik wisata, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif Jakarta. Kehadiran karya seni di ruang publik diyakini mampu membuat kota terasa lebih hidup, humanis, dan dekat dengan warganya.
3. Belajar pengelolaan JIS dari San Siro Stadium

Selain kerja sama budaya dan ketahanan pangan, delegasi DKI Jakarta juga menjajaki kolaborasi di dunia olahraga, khususnya sepak bola. Wagub Rano bertemu General Manager San Siro Stadium, Fabrizio Caruso, serta Business Development San Siro Stadium, Michele Finucci di San Siro Stadium, Milan, Italia. Pertemuan ini membahas peluang pertukaran pengetahuan terkait pengelolaan stadion internasional, penyelenggaraan event, pengembangan museum stadion, teknologi pembibitan rumput, serta strategi membangun keterlibatan penggemar (fan engagement) dalam menjaga fasilitas stadion.
Wagub Rano mengatakan, Jakarta perlu belajar dari pengalaman San Siro sebagai salah satu ikon sepak bola dunia. Menurutnya, stadion modern tidak boleh hanya berfungsi sebagai tempat pertandingan, tetapi juga harus menjadi destinasi wisata olahraga (sport tourism), ruang ekonomi kreatif, pusat hiburan, dan ikon kebanggaan warga.
“San Siro adalah salah satu ikon sepak bola dunia yang sudah berusia 100 tahun sejak 1925 dan terus berkembang hingga memiliki kapasitas 75.000 penonton. Kita datang bukan sekadar berkunjung, tetapi belajar bagaimana sebuah stadion bisa hidup sebagai ruang sejarah, bisnis, hiburan, dan menjadi kebanggaan warga. JIS punya potensi besar untuk berkembang ke arah sana,” ujarnya.
Wagub Rano mendorong PT Jakarta Propertindo selaku pengelola Jakarta International Stadium (JIS) untuk menindaklanjuti komunikasi dan transfer pengetahuan dengan pihak San Siro Stadium. Ia berharap kolaborasi dapat mencakup tata kelola stadion, manajemen event berskala besar, optimalisasi aktivitas nonpertandingan, serta pengembangan pengalaman pengunjung agar JIS memiliki kegiatan sepanjang tahun.
Menanggapi hal ini, Andra (31), seorang penggemar sepak bola dari Jakarta Barat, mendukung penuh langkah Pemprov DKI yang belajar dari pengelolaan Stadion San Siro.
“Sebagai warga, kita bangga punya JIS, tapi pengelolaannya memang harus belajar dari yang sudah pro seperti San Siro. Saya yakin, JIS pasti bakal jadi kebanggaan yang luar biasa buat Jakarta,” tutupnya. (WEB)



















