Seruan ini muncul usai Adidas bekerja sama dengan seorang tentara Israel, Shaliv Biton, untuk mempromosikan produk sepatu baru mereka. Biton sendiri dikabarkan banyak terlibat dalam rentetan serangan dan pembantaian yang menewaskan ribuan warga Palestina di Gaza. Inilah yang lantas membuat aktivis pendukung Palestina geram dan menyerukan pemboikotan Adidas.
Aktivis Pro-Palestina Global Serukan Boikot Adidas, Kenapa?

- Aktivis pro-Palestina global menyerukan boikot Adidas dan mendesak toko-toko berhenti menjual produknya melalui kampanye media sosial pada 4 September 2026.
- Seruan muncul setelah Adidas bekerja sama dengan tentara Israel Shaliv Biton, yang mempromosikan sepatu baru lewat unggahan Instagram pribadinya.
- Jurnalis Leyla Hamed dan pengamat Guy Christensen mengkritik pilihan Adidas, menilai promosi tersebut mengabaikan penderitaan warga Gaza serta memperkuat ajakan boikot.
Jakarta, IDN Times - Sejumlah aktivis pro-Palestina di seluruh dunia menyerukan pemboikotan produk alat olahraga yang diproduksi brand asal Jerman, Adidas. Seruan tersebut diunggah secara global melalui media sosial pada Jumat (4/9/2026). Dalam seruan tersebut, para aktivis global mendesak toko-toko di seluruh dunia untuk tidak menjual semua produk dari Adidas.
1. Biton mempromosikan sepatu Adidas lewat Instagram

potret logo Instagram (pexels.com/Solen Feyissa) Biton sendiri membantu Adidas untuk mempromosikan produk sepatunya lewat sebuah unggahan di akun Instagram pribadinya. Dalam unggahan tersebut, Biton menulis sebuah pesan yang bertujuan untuk memikat orang membeli sepatu dari Adidas.
“Mungkin, ini terdengar seperti hal kecil. Namun, bagi saya, ini jauh lebih dari sekadar sepatu. Ini adalah keinginan agar dunia tempat kita tinggal terkadang menyesuaikan diri dengan kita dan bukan selalu kita yang harus menyesuaikan diri dengan dunia,” tulis Biton dalam sebuah unggahan di Instagram untuk mempromosikan produk sepatu Adidas, seperti dikutip The New Arab.
2. Adidas diminta berhati-hati dalam memilih orang sebagai alat promosi

potret logo Adidas (unsplash.com/Xavier Cee) Merespons hal ini, seorang jurnalis olahraga berkebangsaan Maroko yang lahir di Spanyol, Leyla Hamed, mengingatkan Adidas untuk berhati-hati dalam memilih orang atau representasi sebagai alat promosi produk. Sebab, pemilihan orang untuk mempromosikan produk bisa berpengaruh banyak terhadap brand. Jika salah memilih, maka brand tersebut tentu akan dicap negatif oleh banyak orang.
“Gaza memiliki tingkat amputasi anak per kapita tertinggi di dunia. Diperkirakan lebih dari 5.000 amputasi anggota tubuh akibat trauma telah terjadi sejak Oktober 2023 sebagai akibat dari serangan Israel yang dilakukan oleh tentara seperti yang dipilih Adidas untuk menjadi model iklan mereka,” tulis Hamed di media sosial X.
3. Pengamat politik dari Amerika Serikat ikut berkomentar

potret bendera Amerika Serikat (pexels.com/Connor Scott McManus) Seorang pengamat politik dari Amerika Serikat (AS), Guy Christensen, juga ikut berkomentar. Ia menyebut langkah Adidas yang memilih tentara Israel sebagai alat promosi mereka sebagai lagkah yang “Sangat menjijikan” dan tidak sepatutnya dilakukan oleh brand alat olahraga kenamaan global seperti mereka. Sebab, tindakan tersebut mencerminkan bahwa Adidas adalah brand nirempati karena tidak memikirkan penderitaan warga Gaza yang terdampak serangan Israel.
“Sungguh menjijikkan ketika Anda tahu anak-anak di Gaza yang mungkin tidak akan pernah bisa berjalan lagi,” tulis Christensen di X. Dalam unggahan tersebut, ia juga mengajak seluruh masyarakat dunia untuk ikut memboikot produk Adidas yang dijual di negara masing-masing.





















