Menteri Luar Negeri (Menlu) Belarus, Maxim Ryzhenkov, mengatakan kedua negara telah menyiapkan rancangan perjanjian dan hanya perlu menyelesaikan beberapa persoalan teknis sebelum penandatanganan. Pernyataan itu disampaikan setelah Ryzhenkov bertemu dengan Menlu Korut Choe Son-hui, menurut kantor berita Belarus, BelTA, pada 23 Agustus 2026.
Perkuat Aliansi Rusia, Korut-Belarus Segera Berlakukan Bebas Visa

- Korea Utara dan Belarus hampir menyepakati bebas visa bagi warga biasa; rancangan perjanjian telah disiapkan dan tinggal menyelesaikan persoalan teknis sebelum ditandatangani.
- Rencana ini mengikuti peningkatan hubungan sejak KTT Lukashenko-Kim pada Maret 2026, mencakup perjanjian kerja sama serta rencana pembukaan Kedutaan Besar Belarus di Pyongyang.
- Penguatan relasi Pyongyang-Minsk berlangsung saat keduanya dekat dengan Rusia; kesepakatan bebas visa berpotensi memperluas kerja sama praktis dan jaringan diplomatik Korea Utara.
Jakarta, IDN Times - Korea Utara (Korut) dan Belarus hampir mencapai kesepakatan pembebasan visa bagi warga negara biasa. Kesepakatan tersebut menjadi langkah terbaru dalam penguatan hubungan antara Pyongyang dan Minsk, yang sama-sama memiliki hubungan erat dengan Rusia.
"Kami akan menandatanganinya dalam waktu dekat. Kami membahas seluruh rangkaian hubungan bilateral, termasuk rencana kontak antarkementerian luar negeri dan penandatanganan sejumlah perjanjian, dilansir Korea Times.
1. Tindak lanjut dari KTT Lukashenko dengan Kim Jong Un

Presiden Belarus Alexander Lukashenko. (x.com/BelarusMFA) Rencana pembebasan visa tersebut menyusul peningkatan hubungan diplomatik kedua negara.
Pada Maret 2026, Presiden Belarus Alexander Lukashenko melakukan kunjungan resmi pertamanya ke Pyongyang dan bertemu dengan Pemimpin Korut Kim Jong Un. Dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) tersebut, kedua negara kemudian menandatangani perjanjian persahabatan dan kerja sama, yang menandai awal 'tahap baru' hubungan Korut-Belarus. Lukashenko dan Kim juga sepakat untuk memperluas hubungan di sejumlah bidang, termasuk pertanian, kesehatan, pendidikan, dan diplomasi.
Hubungan tersebut kembali diperkuat pada April, ketika Perdana Menteri Belarus Alexander Turchin menandatangani resolusi pemerintah, guna membuka Kedutaan Besar Belarus di Pyongyang. Pembukaan misi diplomatik itu menandai langkah Belarus untuk memperluas hubungan langsung dengan Korut.
2. Hubungan Korut-Belarus makin erat di tengah kedekatan dengan Rusia

Presiden Rusia Vladimir Putin (kiri) saat bertemu dengan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un di Pyongyang pada 19 Juni 2024. (x.com/mfa_russia) Penguatan hubungan Pyongyang dan Minsk berlangsung di tengah semakin dekatnya kedua negara dengan Rusia. Korut dan Rusia menandatangani perjanjian kemitraan strategis komprehensif pada Juni 2024. Kesepakatan itu mencakup komitmen untuk memberikan bantuan jika salah satu pihak menghadapi agresi bersenjata.
Korut juga dituduh telah memberikan dukungan militer kepada Rusia dalam perang di Ukraina, termasuk melalui pengiriman pasukan dan perlengkapan militer.
Di sisi lain, Belarus terus mengukuhkan posisinya sebagai salah satu sekutu paling kritis bagi Kremlin. Selain mengizinkan wilayahnya digunakan sebagai titik peluncuran serangan pasukan Rusia sejak invasi 2022, Minsk juga telah menerima penempatan senjata nuklir taktis Rusia di wilayahnya, Korea Herald melaporkan.
3. Kesepakatan bebas visa perluas jaringan diplomatik Korut

Ilustrasi bendera Korea Utara. (unsplash.com/Micha Brändli) Merespons perkembangan tersebut, Kementerian Unifikasi Korea Selatan mengatakan sulit memastikan negara mana saja yang memiliki perjanjian bebas visa dengan Korut untuk warga negara biasa. Kendati Pyongyang umumnya membatasi bebas visa untuk diplomat dan pegawai negeri sipil, mereka diketahui memiliki program bebas visa timbal balik bagi warga biasa dari sekutu tradisional seperti China, Indonesia, Vietnam, serta perjanjian serupa dengan Rusia.
Jika terealisasi, kesepakatan dengan Belarus akan memperluas hubungan praktis Korea Utara dengan negara yang berada dalam lingkaran dekat Rusia. Langkah tersebut juga dapat menjadi bagian dari upaya Pyongyang memperkuat jaringan hubungan diplomatik dan kerja sama dengan negara-negara yang memiliki kepentingan strategis sejalan dengan Moskow.




















