Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Perang Timur Tengah Memanas, Rapat DPR Bahas Tiga Skenario Haji 2026

Perang Timur Tengah Memanas, Rapat DPR Bahas Tiga Skenario Haji 2026
Jemaah di Masjidil Haram, Makkah (dok. Media Center haji)
Intinya Sih
  • Komisi VIII DPR dan pemerintah membahas tiga skenario penyelenggaraan haji 2026 untuk mengantisipasi dampak konflik di Timur Tengah, termasuk opsi tetap berangkat, menunda, atau pembatalan total.
  • Pemerintah diminta menyiapkan langkah mitigasi komprehensif agar keselamatan dan layanan jemaah haji Indonesia tetap terjamin meski situasi geopolitik tidak stabil.
  • DPR menekankan pentingnya komunikasi transparan kepada calon jemaah terkait perkembangan global dan kebijakan haji agar informasi jelas serta mencegah keresahan publik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Ansory Siregar menekankan pentingnya kesiapsiagaan pemerintah dalam menghadapi berbagai kemungkinan keadaan darurat pada penyelenggaraan ibadah haji tahun 1447 H/2026 M, khususnya di tengah dinamika geopolitik yang berkembang di kawasan Timur Tengah.

Hal tersebut disampaikan Ansory saat memimpin rapat kerja Komisi VIII bersama Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (11/3/2026).

1. Tiga skenario penyelenggaraan haji 2026

Jemaah haji mulai lempar jumrah Aqabah usai bermalam di Muzdalifah, Jumat (6/6/2025). (Media Center Haji 2025/Rochmanudin)
Jemaah haji mulai lempar jumrah Aqabah usai bermalam di Muzdalifah, Jumat (6/6/2025). (Media Center Haji 2025/Rochmanudin)

Dalam rapat tersebut, Komisi VIII DPR menerima penjelasan pemerintah mengenai tiga skenario yang telah disiapkan untuk menghadapi kemungkinan situasi darurat dalam penyelenggaraan haji tahun 2026.

Skenario pertama adalah keberangkatan jemaah haji tetap dilaksanakan meskipun konflik berlangsung. Dalam kondisi ini, pemerintah akan melakukan mitigasi jalur udara dengan mengalihkan rute penerbangan ke jalur yang lebih aman serta melakukan diplomasi untuk memperoleh jaminan keamanan bagi jemaah haji Indonesia sebagai pihak nonkombatan.

Selain itu, pemerintah juga diminta menyiapkan protokol evakuasi darurat apabila terjadi situasi yang tidak diinginkan selama pelaksanaan ibadah haji.

Skenario kedua adalah kemungkinan Indonesia memutuskan tidak memberangkatkan jemaah haji meskipun pemerintah Arab Saudi tetap membuka penyelenggaraan haji secara normal. Jika kondisi tersebut terjadi, Komisi VIII meminta pemerintah melakukan negosiasi agar biaya layanan yang telah dibayarkan jemaah tidak hangus.

Sementara, skenario ketiga, apabila pemerintah Arab Saudi menutup penyelenggaraan ibadah haji. Dalam situasi tersebut, Indonesia juga tidak akan memberangkatkan jemaah, dan pemerintah diminta memastikan seluruh dana yang telah dibayarkan dapat dikembalikan secara utuh kepada jemaah.

2. Pemerintah diminta siapkan langkah mitigasi

Jemaah haji tengah melaksanakan sai, Masjidil Haram, Arab Saudi, Rabu (11/6/2025).
Jemaah haji tengah melaksanakan sai, Masjidil Haram, Arab Saudi, Rabu (11/6/2025). (Media Center Haji 2025)

Ansory menegaskan, Komisi VIII DPR meminta pemerintah menyiapkan langkah-langkah mitigasi yang matang guna memastikan keselamatan serta kepastian layanan bagi jemaah haji Indonesia. Menurutnya, berbagai skenario harus disiapkan sejak dini agar penyelenggaraan haji tetap berjalan dengan aman dan terukur.

“Kami meminta pemerintah menyiapkan berbagai skenario menghadapi kemungkinan keadaan darurat, termasuk apabila terjadi eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi penyelenggaraan ibadah haji,” ujar Ansor.

3. Komunikasi terhadap jemaah haji harus tetap transparan

Menteri Haji dan Umrah (Menhaj), Irfan Yusuf cek makanan untuk jemaah haji 2026
Menteri Haji dan Umrah (Menhaj), Irfan Yusuf cek makanan untuk jemaah haji 2026. (IDN Times/Ilman Nafi'an)

Ansory juga menekankan pentingnya komunikasi yang transparan kepada calon jemaah haji terkait perkembangan situasi global serta berbagai kemungkinan kebijakan yang dapat diambil pemerintah.

“Kami juga meminta pemerintah melakukan sosialisasi secara intensif kepada calon jemaah haji mengenai berbagai kemungkinan skenario yang dapat terjadi, sehingga jemaah mendapatkan kepastian informasi dan tidak menimbulkan keresahan,” ujarnya.

Selain membahas penyelenggaraan haji, Komisi VIII juga menerima laporan pemerintah mengenai langkah-langkah yang telah dilakukan dalam memastikan keamanan jemaah umrah di tengah ketidakpastian global, termasuk penguatan koordinasi dengan maskapai, penyedia layanan, serta otoritas di Arab Saudi.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwifantya Aquina
EditorDwifantya Aquina
Follow Us

Latest in News

See More