Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Prabowo: Bersatu Bukan Tidak Demokratis, Silakan Kritik

Presiden Prabowo Subianto
Presiden Prabowo Subianto hadiri Perayaan Natal Nasional di GBK (IDN Times/Ilman Na'fian)
Intinya sih...
  • Prabowo menegaskan bahwa bersatu tidak bertentangan dengan demokrasi, namun memberi ruang bagi kritik dan koreksi.
  • Kritik dan koreksi dianggap penting dalam sistem demokrasi untuk mencegah kesalahan dalam pengambilan kebijakan.
  • Prabowo mengaitkan fitnah dengan nilai-nilai keagamaan, menekankan larangan agama terhadap kebohongan dan fitnah yang dapat merusak negara.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Presiden RI Prabowo Subianto menyinggung perdebatan publik mengenai makna persatuan dalam demokrasi. Ia menyebut, ada pandangan yang menilai bahwa sikap bersatu tidak sejalan dengan prinsip demokrasi.

Ia menegaskan, demokrasi justru memberi ruang luas bagi kritik dan koreksi. Namun, ia mengingatkan agar perbedaan pandangan tidak dibarengi dengan fitnah yang dapat merusak persatuan bangsa.

“Ada yang mengatakan kalau bersatu itu tidak demokratis. Loh, demokratis silakan. Koreksi silakan. Kritik, bagus. Tapi fitnah itu tidak bagus,” kata Prabowo dalam pidato di acara perayaan Natal Nasional 2025 di Tennis Indoor Senayan, Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta Pusat, Senin (5/1/2026).

Menurut Prabowo, kritik dan koreksi merupakan elemen penting dalam sistem demokrasi. Ia menilai, seorang pemimpin justru membutuhkan koreksi agar tidak salah arah dalam mengambil kebijakan.

Prabowo menegaskan, dirinya terbuka terhadap kritik dan tidak menganggapnya sebagai ancaman. Sebaliknya, koreksi dinilai sebagai bentuk kepedulian dan pengawasan yang konstruktif.

“Kalau saya dikoreksi, saya menganggap bahwa saya dibantu, saya diamankan,” kata Prabowo.

Dalam pidatonya, Prabowo juga mengaitkan persoalan fitnah dengan nilai-nilai keagamaan. Ia menekankan, seluruh agama secara tegas melarang kebohongan dan fitnah karena dampaknya yang merusak kehidupan berbangsa.

Ia mencontohkan ajaran Islam yang menyebut fitnah lebih kejam dari pembunuhan, serta ajaran Kristen yang melarang kebohongan. Menurutnya, kebohongan yang menimbulkan kecurigaan, perpecahan, dan kebencian berpotensi menghancurkan negara.

“Kebohongan itu tidak baik. Apalagi kebohongan yang menimbulkan kecurigaan, kebencian, dan perpecahan. Ini bisa menghancurkan negara,” tegas Prabowo.

Prabowo pun menutup pernyataannya dengan mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjaga persatuan, tetap kritis, dan menjunjung tinggi kejujuran dalam kehidupan demokrasi.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sunariyah Sunariyah
EditorSunariyah Sunariyah
Follow Us

Latest in News

See More

Jonathan Frizzy Resmi Jalani Cuti Bersyarat, Tak Lagi Jadi Napi

07 Jan 2026, 14:23 WIBNews